Jumat, 29 Juni 2012

Ultimate Achievement 1


kepuasan hidup tidak bisa di dapatkan dari rumah mewah. Karir bagus. Jabatan tinggi. Bahkan kekayaan sekalipun. Kecuali berbuat baik, menolong, dan membantu sesama tanpa pamrih.

#NasehatDiri

Bunda Tati

Cerita saya sekarang ini lanjutan dari catatan saya sebelumnya—Mengukir Jejak Di Semesta—bersama mahasiswa psikologi Universitas Bayangkara Bekasi. Pada tulisan itu, saya sudah menyebutkan kepada Anda tentang seorang dosen yang menjabat posisi sebagai Dekan fakultas psikologi Unibajaya, Ibu Tati Marmono.

Saya memanggil beliau dengan sebutan Bunda Tati. Karena, bila merujuk ke usia, jarak antara saya dengan beliau jauh sekali. Jadi, bila saya panggil Bunda, saya kira panggilan yang sangat-sangat tepat. 

Orangnya sangat humble. Nada suara saat berbicara, tidak terlalu tinggi dan rendah, sedang. Tapi mempunyai ketegasan. Pokoknya, bila Anda bertatap wajah dan berkomunikasi dengan beliau. Saya jamin. Anda betah berlama-lama menikmati kisah kehidupan beliau. Seperti saya alami. 

Inspirasi hidup

Mungkin sudah menjadi kelumrahan bagi manusia yang telah duluan menapaki sejarahnya di atas bumi ini. Yaitu, gemar membagi pengalaman kepada generasi penerusnya. Bukan dalam rangka membanggakan diri. Akan tetapi, lebih kepada mengayomi berupa inspirasi hidup, kepada anak-anaknya. Dan hal seperti ini, sangat-sangat saya sukai.

Bunda Tati banyak bercerita kepada saya. Tentang keluarga, teman-teman seperjuangannya. Kehidupan anak dan cucu beliau. Termasuk cerita merintis cikal bakal terbentuknya fakultas Psikologi di Universitas Bayangkara Bekasi.

Sekali lagi saya ingin menegaskan. Kisahnya sungguh menginspirasi. Dan yang sangat mengesankan di antara pengalaman hidup beliau, hikayat saat beliau menjadi relawan untuk korban tsunami Aceh 2004.

Menjadi relawan Aceh

Nenek dari 9 cucu ini, menceritakan kepada saya. Bahwa, setelah tsunami Aceh terjadi pada hari minggu, 26 Desember 2004. Dalam diri beliau secara spontan ingin membantu. Naluri kemanusiaannya berkata “Apa yang bisa aku lakukan?”. 

Kemudian, Bunda Tati mencari-cari informasi relawan kemanusiaan untuk Aceh. Beliau mendapat kabar, bahwa di Psikologi UI bekerjasama dengan NGO luar negeri berencana mengirimkan relawan ke Aceh.

Langsung saja, beliau mengirim cv ke alamat informasi tersebut. Selang dua hari kemudian, Bunda Tati mendapat panggilan. Dan beliau menghadiri undangan tersebut. 

Sampai di sana, beliau ikut rapat bersama para panitia pengiriman relawan. Pihak panitia menyampaikan mengenai misi kemanusiaan dan syarat-syarat yang akan lulus seleksi. Meski relawan, namun tetap ada pengkondisian siapa saja boleh berangkat. 

Bersambung...
Bagikan