kepuasan hidup tidak bisa di dapatkan dari rumah mewah. Karir bagus. Jabatan tinggi. Bahkan kekayaan sekalipun. Kecuali
berbuat baik, menolong, dan membantu sesama tanpa pamrih.
#NasehatDiri
Bunda Tati
Cerita saya sekarang ini lanjutan
dari catatan saya sebelumnya—Mengukir Jejak Di Semesta—bersama mahasiswa
psikologi Universitas Bayangkara Bekasi. Pada tulisan itu, saya sudah
menyebutkan kepada Anda tentang seorang dosen yang menjabat posisi sebagai
Dekan fakultas psikologi Unibajaya, Ibu Tati Marmono.
Saya memanggil
beliau dengan sebutan Bunda Tati. Karena, bila merujuk ke usia, jarak antara
saya dengan beliau jauh sekali. Jadi, bila saya panggil Bunda, saya kira
panggilan yang sangat-sangat tepat.
Orangnya sangat
humble. Nada suara saat berbicara,
tidak terlalu tinggi dan rendah, sedang. Tapi mempunyai ketegasan. Pokoknya,
bila Anda bertatap wajah dan berkomunikasi dengan beliau. Saya jamin. Anda
betah berlama-lama menikmati kisah kehidupan beliau. Seperti saya alami.
Inspirasi hidup
Mungkin sudah
menjadi kelumrahan bagi manusia yang telah duluan menapaki sejarahnya di atas
bumi ini. Yaitu, gemar membagi pengalaman kepada generasi penerusnya. Bukan
dalam rangka membanggakan diri. Akan tetapi, lebih kepada mengayomi berupa
inspirasi hidup, kepada anak-anaknya. Dan hal seperti ini, sangat-sangat saya
sukai.
Bunda Tati
banyak bercerita kepada saya. Tentang keluarga, teman-teman seperjuangannya. Kehidupan
anak dan cucu beliau. Termasuk cerita merintis cikal bakal terbentuknya
fakultas Psikologi di Universitas Bayangkara Bekasi.
Sekali lagi
saya ingin menegaskan. Kisahnya sungguh menginspirasi. Dan yang sangat
mengesankan di antara pengalaman hidup beliau, hikayat saat beliau menjadi
relawan untuk korban tsunami Aceh 2004.
Menjadi relawan Aceh
Nenek dari 9
cucu ini, menceritakan kepada saya. Bahwa, setelah tsunami Aceh terjadi pada
hari minggu, 26 Desember 2004. Dalam diri beliau secara spontan ingin membantu.
Naluri kemanusiaannya berkata “Apa yang
bisa aku lakukan?”.
Kemudian, Bunda
Tati mencari-cari informasi relawan kemanusiaan untuk Aceh. Beliau mendapat
kabar, bahwa di Psikologi UI bekerjasama dengan NGO luar negeri berencana
mengirimkan relawan ke Aceh.
Langsung saja,
beliau mengirim cv ke alamat informasi tersebut. Selang dua hari kemudian,
Bunda Tati mendapat panggilan. Dan beliau menghadiri undangan tersebut.
Sampai di sana,
beliau ikut rapat bersama para panitia pengiriman relawan. Pihak
panitia menyampaikan mengenai misi kemanusiaan dan syarat-syarat yang akan lulus
seleksi. Meski relawan, namun tetap ada pengkondisian siapa saja boleh
berangkat.
Bersambung...
Bagikan