Sabtu, 23 Juni 2012

Kemenangan Menchester City Piala Bagiku


“Gagal hampir tidak pernah ada bagi mereka yang punya tujuan”.
@tungdw

Menchester United Vs Menchester City

Dua kubu raksasa permainan berdurasi 2 x 45 berjumlah 22 orang pemain dari kota Munchen mengadu nasib di bulan ini. Mereka mempertaruhkan harga diri sebagai champion. Meski berada di teritori yang sama. Jalan yang mereka lalui tidak berbeda. Pasar tempat mereka melengkapi kebutuhan skunder pun demikian. 

Bahkan, mungkin mereka menyinggahi apartemen yang sama, cuma beda lantai saja. Tetapi, saat berdiri, berjalan, dan berlari di lapangan hijau. Mereka menyatakan perbedaan yang sangat signifikan. Syahdan, jika perlu, beradu jotos pun diladeni. Begitu hebatnya permainan ini. 

Selama berada di lapangan, mereka menendang, kemudian mengejar kembali si kulit bundar. Ambisi memonopoli, memuncak dalam raga mereka. Jiwa penyerang mengalir ke seluruh tubuh, saat bola berada di kaki pihak temannya. Namun, sikap patriot pun memuncak, demi mempertahankan gawangnya. Detik-detik seperti ini, jangankan tenaga, nyawa pun rela mereka persembahkan.

Kedua kubu ini menggunakan penggalan kata depan yang sama. Yaitu, Menchester United. Mereka sering dijuluki “Setan merah”. Dan Menchester City. Liga musim ini, Alex Ferquson bersama pasukan asuhannya. Terpaksa merelakan, trophy yang telah membudaya mereka usung. Tahun ini diarak mengelingi kota Menchester oleh musuh mereka. Sehingga, lazimnya, setahun sekali, orang-orang berkostum warna merah menyesaki jalan. Namun, musim ini seketika berubah menjadi biru langit.

Sebenarnya, tidak sedikit pun saya mengerti tentang permainan bola. Terkecuali saya ahli dalam satu hal. Jika sedang bermain bersama teman-teman, kalau ada bola di depan, maka segera ayunkan kaki dan tendang kulit bundar sekeras-kerasnya. Persoalan arahnya ke kaki teman atau musuh. Itu bab selanjutnya. Selebihnya, saya hanya bisa penyambung suara sorak menyorak di luar lapangan. Juga, komentator dadakan.

Apalagi perkembangan bola. Jangan kancah dunia. Liga yang ada di indonesia saja, saya tidak tau apa saja nama club nya. Apalagi nama pemain dan pelatihnya. Seandainya pun saya kenal, itu hanya karena para pemain tersebut mempunyai potensi bernilai bisnis. Jika pihak media menggosipkan mereka. Seperti; C. Ronaldo, Roney, Drogba, Bambang pamungkas, Cristian Gonzales, dan sederetan lain yang tidak saya tau.

Inspirasi permainan bola

Meski pun seperti itu. Kemenangan Menchester City kemarin. Membuahkan piala bagiku. Piala ini berupa, inspirasi semangat para pemain, dalam hal pantang menyerah, hingga sempritan panjang terakhir sang wasit. 

Ceritanya, tahun 2012 ini bisa saya katakan, tahun transformasi misi dalam hidupku. Jelasnya seperti apa? Saya sedang mengkonsepkan secara detail pada percakapan lain kepada Anda. Intinya, tahun 2012 ini, saya menciptakan program pelatihan baru yang bertajuk “Mengukir Jejak Di Semesta”. Isi inti pelatihan ini, siapa pun yang mengikuti, akan menyadari “visi dan misi” hidupnya.

Nah, minggu kemarin, saya membaca twetterline para followerku dan orang-orang yang saya follow. Termasuk di antaranya, Pak Tung Dasem Waringin @tungdw. Beliau mentweet, yang intinya kurang lebih “Gagal hampir tidak pernah ada bagi mereka yang punya tujuan”. 

Maksdunya, bagi orang-orang yang sudah menancapkan tujuan jauh ke depan. Jika terjadi peristiwa tidak seperti perencanaannya (gagal), maka dia akan menyikapinya sebagai bagian kecil dari rute perjalan hidupnya.

Membaca kicauan ini, pikiran saya langsung menghubungkan dengan materi “Mengukir Jejak Di Semesta”. Ternyata, ini manfaat bagi mereka yang menyadari visi hidupnya. Bagaikan para pemain bola bertarung hingga detik tambahan waktu terakhir. Sebelum percikan liur wasit muncrat dari lubang peluit. Maka, mereka terus melanjutkan perjuangannya. Meskipun sudah kebobolan.

Pentingnya Visi

Di sinilah piala kemenangan permainan bola bagi saya. Di mana, olah raga ini menginspirasi saya, tentang analogi pentingnya “visi”. Artinya apa? Belum pernah terjadi di lapangan bola, siapapun klubnya. Jika kiper harus memungut bola di menit ke 5 permulaan permainan. Maka, para pemain memutuskan untuk mengakhiri permainan, dengan melaksanakan upacara pengibaran bendera putih.  

Namun, dalam konteks bisnis tertentu. Saya menemukan para pelaku, jika terjadi penolakan pertama, langsung menfatwakan diri, “tamat sudah riwayatku di bisnis ini”. Ada juga mengeluarkan pernyataan thalaq tiga langsung. Tanpa mencoba thalaq satu dan dua. Inilah contoh, mereka belum mengetahui di mana akhir stasiun pemberhentiannya.

Oh ya, satu hal lagi. Jika Anda dan saya mempunyai visi yang jelas. Maka, Anda pasti rela bertahan dan terus berharap, apa pun kondisinya. Seperti Menchester City menantikan trophy liga ingris mengisi lemari piala kemengan mereka. Apakah Anda tau berapa lama mereka berpuasa menjadi juara? 30 tahun lamanya. Dan akhirnya, mereka mendapatkan kemenangan ini.

Ciganjur, Rabu, 16 Mei 2012 
Bagikan