“Satu kata motivasi saja sudah cukup untuk
memotivasimu”.
#Prie
GS
Dua ahli perubahan
Berbicara
mengenai perubahan. Dalam benak saya terdapat dua orang ahlinya dalam hal ini.
Pertama, bapak Rhenald Kasali. Dan yang kedua, bapak Hari Subagya. Bapak
Rhenald Kasali, sebagaimana yang kita kenal—beliau adalah ahli dalam Change Management. Kita bisa menelusuri
kepiawaian beliau lewat karyanya
.
Selanjutnya,
Hari Subagya. Mungkin sedikit di antara Anda mengenal beliau. Akan tetapi, saya
sangat mengetahui bapak Hari. Karena, beliau merupakan motivator pertama yang
saya ajukan pertanyaan, “Bagaimana cara
mewujudkan impian saya supaya bisa menjadi pembicara motivasi?”. Selain
itu, bapak Hari subagya, sering memberikan materi tentang perubahan dan topik
pengembangan SDM lainnya.
Perubahan peserta training
Sementara
itu, saya sangat yakin. Selain kedua orang yang telah saya maktub di atas. Anda
pasti mempunyai nama-nama lain—yang Anda percayai—Anda pantas menyandangkan
orang-orang terhormat itu sebagai ahli perubahan, iyakan?
Terlepas
siapa pun orangnya. Akan tetapi, kesempatan ini saya mau berbagi pengalaman
kepada Anda, tentang konsep perubahan. Terutama saya akan melantunkan kepada
Anda, jawaban terhadap pertanyaan selama ini saya cari-cari. Yakni “Apa yang membuat perserta bisa mengalami
perubahan dalam dirinya, setiap mengikuti workshop?”.
Sebelumnya,
saya kira—saya kudu menyampaikan kepada Anda—bahwa ini bukan persoalan; materi
training, trainer dan cara pembicara mendeliveri. Atau variable lain mengikat
dalam kesatuan perubahan sang peserta. Jadi, ini berfokus pada konteks, bila
saya yang menjadi pesertanya.
Training Ease Your Nervouse
Ceritanya
seperti ini. Hari sabtu kemarin 28 April 2012. Bagi beberapa praktisi hypnosis
rata-rata memutuskan diri berkumpul, duduk, dan menikmati proses konferensi
hypnosis Indonesia 2012 di Hotel Oasis Amir, Senen, Jakarta Pusat. Event akbar
ini diselenggarakan oleh Indonesia Brotherhood Hypnotherapy, lembaga
pensertifikasi kepada calon-calon hypnotherapy di Indonesia.
Pada
awalnya, saya sudah merencanakan juga mengikuti moment tahunan ini. Namun,
secara bersamaan, saya mendapat jadwal mengajar Ease Your Nervouse, program Public
Speaking weekend, di Hotel Ibis Slipi. Saya meniatkan diri, setelah selesai
mengajar jam 15.00, saya bisa berangkat ke perayaan tersebut.
Akan
tetapi, setelah training, saya merasa kedua kaki ini sangat keram. Sehingga,
saya memutuskan istirahat dalam ruang training, sambil menikmati materi
lanjutan “Olah Vocal”. Topik ini
disampaikan oleh senior saya Mas Riko. Producer dan pembawa acara berita siang
di kompas TV.
Istirahat di kelas
Selesai
shalat Ashar, saya merasakan, kaki saya masih tetap keram. Tumben-tumbenan
seperti ini. Kemudian, saya duduk tenang sejenak, menghayati diri saya. Kemudian
saya bertanya kepada sang bijak di dalam, apakah saya melanjutkan perjalanan ke
Oasis sebagaimana yang telah saya rencanakan. Atau membantalkan niat saya?
Ternyata, sang tubuh merespon. Lebih baik saya menetap dalam kelas, dan
merelakan moment langka itu, lewat tanpa saya menjadi ahli sejarahnya.
Selama
menentramkan kaki di kelas. Saya juga mengikuti materi “Olah Vokal”. Nah,
selama sesi ini, saya merasa, ada pembahasan yang disampaikan oleh Mas Riko,
menjawab pertanyaan saya selama ini. Dia menjelaskan, dalam sesi-sesi latihan
praktis vokal kepada peserta. Seringnya, perubahan agak sedikit lambat terjadi
pada peserta, karena mempertahankan pola lamanya.
Maksudnya,
peserta enggan untuk merubah diri dengan cara pengucapan, gerak tubuh saat
berbicara, dan apapun dalam setiap pelatihan. Dan kata-kata Riko sangat
membekas bagi saya.
Ini dia jawabanya
“Teman-teman semua, mohon besok saat kita praktis
lebih dalam tentang olah vokal dan gesture. Supaya berkenan untuk menyimpan
kebiasaannya. Tanggalkan dulu kenyamanan cara bicara Anda. Memang saya akui,
bagi Anda terkesan janggal dengan suara dari perut. Bahkan mungkin mengganggap
terlalu tinggi suara Anda”. Kata Mas Riko.
Kemudian,
dia menambahakan, “Dan percayalah. Kami
akan membantu Anda menjadi lebih baik setelah keluar dari ruangan ini. Tapi,
bila Anda masih mempertahankan dengan zona nyaman Anda. Perubahan itu lama
terjadi pada Anda. Oke..”
Setelah
mendengar penjelasan Riko. Saya menjadi faham. Mengapa terkadang sudah
mengikuti berbagai macam training, tetapi hidup belum juga berubah? Ternyata
bukan persoalan sudah ikut atau tidak. Akan tetapi, seberapa ikhlasnya diri,
menerima hal baru. Dan berusaha semaksimal mungkin—memaksakan diri—agar
berubah. Yaitu, dengan segera menerapkan apa yang diperoleh di training.
Sekarang
menjadi jelas. Bahkan tidaklah heran. Bila perubahan belum berpihak kepada
diri. Jangankan mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan di rumah atau tempat kerja.
Melatih materi di kelas saja, main-main. Tidak seratus persen mencobanya.
Saya
jadi teringat tweet bapak Prie GS seperti pada quote pembukaan rawi ini “Satu kata motivasi saja sudah cukup untuk
memotivasimu”. Maknanya, sebenarnya, apa yang sudah pernah kita dapatkan
dalam setiap pembelajaran, itu sudah lebih dari cukup, bila kita segera
mengamalkan ilmunya.
Ciganjur,
29 April 2012
Bagikan