Sabtu, 02 Juni 2012

3 Halilintar Menyambar Wajahku


Tidak satupun peristiwa menimpa bani Adam, tanpa seizin Allah.
#Al-Ayat

Jangan penasaran

Kiranya Anda tidak terburu-buru menerka makna dari kejadian ini. Apalagi mencoba memakan tema ini mentah-mentah. Sehingga, bertanya-tanya ke dalam diri. Apakah ini denotasi atau konotatif. 

Walaupun seperti itu, biarlah kehausan itu tetap menggerogoti pikiran Anda. Seperti lelah berjalan di padang pasir. Kemudian oase bermunculan kanan dan kiri. Dan saat itu, bibir mulai mengering. Tenggorongan terus memaksa mulut menghasilkan liur. Sampai lidah lengket ke langit-langit. Begitulah hausnya. Namun, saya yakin. Pertanyaan dalam diri Anda tidak seperti itu hausnya.

Sebentar lagi, Anda akan memahami dengan sendirinya. Setelah mengunyah sungguhan saya ini sepotong-sepotong. Dan potongan yang saya hidang, tidak terlalu banyak jumlahnya. Hanya tiga potongan saja. Setiap potongan memiliki cita rasa homogen. Namun, jika Anda berusaha memasukkannya sekaligus. Maka, rasanya menjadi heterogen.

Editor bukuku menghilang

Izinkan saya mengawali dengan sambaran pertama. Dua hari yang lalu. Saya memecet tombol phone book HP-ku. Saya mencari nama abjad E. Editor Fulan (Namanya saya samarkan, karena saya tidak mau berurusan dengan pengadilan korban pelanggaran ITE). Editor fulan adalah penanggung jawab nasib buku pertamaku—penerbit X di Bandung. 

Lalu saya pencet tombol berwarna hijau sebelah kiri HP. Gambar tombol tersebut melengkung. Seperti gagang telf. Di layar muncul sederet no sebanyak 12 digit berbaris rapi. Di atas nomor-nomor itu bertuliskan calling…
 
Kemudian, saya mendekatkan HP ke telinga kanan. Sehingga memenuhi sebagian pipiku. Hampir semenit lamanya. Hanya bernada “Tuuuut… tuuut… tuuuut”. Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang wanita “Maaf no yang Anda hubungi sedang si…” Langsung saya pencet tombol sisi kanan berwarna merah. 

Keesokan harinya, saya ulangi lagi dengan cara yang sama. Cuman, kali ini saya mengubah waktunya. Kalau 2 hari yang lalu saya menelfon pukul 11.14 wib. Maka, kemarin saya menghubunginya pukul 09.00 wib. Lagi-lagi, si wanita mesin otomatis penjawab itu menyambut panggilanku. 

Hingga hari ini tepat jam 07.00, saat cerita sedang Anda nikmati saya lahirkan dari rahim pikiran. Saya menelfon lagi dengan nomor mentari saya. Malahan, suara tuuttnya menghilang, dan mesin seksi menjawab, “No yang Anda hubungi se…” “Tuup” (suara tombol keypad HP). Saya memutuskan panggilan.

Saya sempat penasaran. Apa sebenarnya sedang terjadi? Karena, sudah 1 bulan lebih tidak mendapatkan perkembangan pertumbuhan bukuku. Akhirnya, saya menghubungi temannya. Seorang editor juga, tetapi bukan penangung jawab projek naskah bukuku. Saya buka phonebook, kemudian saya pencet tombol E. Muncul di layar dua nama. Editor Fulan dan Editor Luthfi. Kemudian saya menelfon editor Luthfi.

Pupus sudah harapanku

Alhamdulillah tersambung, “Halo Mas Luthfi, apa kabar?” saya menyapanya. “Alhamdulillah baik mas Rahmad”. Dia membalas dengan suaranya yang agak sedikit Sunda. Tanpa basa basi saya langsung menanyakan, “Mas, kok nomor Editor fulan gak aktif?”.
 
Oh maaf Mas, saya belum mengabari. Editor Fulan sudah tidak bekerja di sini lagi. Sudah seminggu tidak ada kabar. Tapi buku mas Rahmad sudah diambil alih oleh supervisor sekarang. Proses editing dan layout pun sedang berjalan”. Uangkap mas Luthfi.

Sungguh, jawaban yang saya dengar dari Mas Luthfi, bagai halilintar menyambar wajahku. Apakah Anda tau kenapa? Karena, harapan saya akan nasib buku ini bisa lahir dari mesin pencetak tanggal 22 mei. Sangat tipis kemungkinannya. Sepertinya mustahil saya mengendongnya, seperti saya inginkan. 

Mungkin Anda bertanya seperti temanku Mahmudi “Mengapa harus tanggal 22 mei brother Rahmad?”. 22 Mei yang jatuh pada hari selasa, adalah hari pengulangan kelahiranku. Saya berhasrat. Buku itu bisa menjadi hadiah terindah untuk ulang tahun yang ke 28 ini.

Bersambung ke 3 Halilintar Menyambar Wajahku 2
Bagikan