Tidak satupun peristiwa menimpa bani Adam, tanpa
seizin Allah.
#Al-Ayat
Jangan penasaran
Kiranya Anda
tidak terburu-buru menerka makna dari kejadian ini. Apalagi mencoba memakan
tema ini mentah-mentah. Sehingga, bertanya-tanya ke dalam diri. Apakah ini
denotasi atau konotatif.
Walaupun
seperti itu, biarlah kehausan itu tetap menggerogoti pikiran Anda. Seperti
lelah berjalan di padang pasir. Kemudian oase bermunculan kanan dan kiri. Dan
saat itu, bibir mulai mengering. Tenggorongan terus memaksa mulut menghasilkan
liur. Sampai lidah lengket ke langit-langit. Begitulah hausnya. Namun, saya yakin.
Pertanyaan dalam diri Anda tidak seperti itu hausnya.
Sebentar
lagi, Anda akan memahami dengan sendirinya. Setelah mengunyah sungguhan saya
ini sepotong-sepotong. Dan potongan yang saya hidang, tidak terlalu banyak
jumlahnya. Hanya tiga potongan saja. Setiap potongan memiliki cita rasa homogen.
Namun, jika Anda berusaha memasukkannya sekaligus. Maka, rasanya menjadi
heterogen.
Editor
bukuku menghilang
Izinkan saya
mengawali dengan sambaran pertama. Dua hari yang lalu. Saya memecet tombol
phone book HP-ku. Saya mencari nama abjad E. Editor Fulan (Namanya saya
samarkan, karena saya tidak mau berurusan dengan pengadilan korban pelanggaran
ITE). Editor fulan adalah penanggung jawab nasib buku pertamaku—penerbit X di
Bandung.
Lalu saya
pencet tombol berwarna hijau sebelah kiri HP. Gambar tombol tersebut
melengkung. Seperti gagang telf. Di layar muncul sederet no sebanyak 12 digit
berbaris rapi. Di atas nomor-nomor itu bertuliskan calling…
Kemudian,
saya mendekatkan HP ke telinga kanan. Sehingga memenuhi sebagian pipiku. Hampir
semenit lamanya. Hanya bernada “Tuuuut…
tuuut… tuuuut”. Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang wanita “Maaf no yang Anda hubungi sedang si…”
Langsung saya pencet tombol sisi kanan berwarna merah.
Keesokan
harinya, saya ulangi lagi dengan cara yang sama. Cuman, kali ini saya mengubah
waktunya. Kalau 2 hari yang lalu saya menelfon pukul 11.14 wib. Maka, kemarin
saya menghubunginya pukul 09.00 wib. Lagi-lagi, si wanita mesin otomatis
penjawab itu menyambut panggilanku.
Hingga hari
ini tepat jam 07.00, saat cerita sedang Anda nikmati saya lahirkan dari rahim
pikiran. Saya menelfon lagi dengan nomor mentari saya. Malahan, suara tuuttnya
menghilang, dan mesin seksi menjawab, “No
yang Anda hubungi se…” “Tuup”
(suara tombol keypad HP). Saya memutuskan panggilan.
Saya sempat
penasaran. Apa sebenarnya sedang terjadi? Karena, sudah 1 bulan lebih tidak
mendapatkan perkembangan pertumbuhan bukuku. Akhirnya, saya menghubungi
temannya. Seorang editor juga, tetapi bukan penangung jawab projek naskah
bukuku. Saya buka phonebook, kemudian saya pencet tombol E. Muncul di layar dua
nama. Editor Fulan dan Editor Luthfi. Kemudian saya menelfon editor Luthfi.
Pupus sudah harapanku
Alhamdulillah
tersambung, “Halo Mas Luthfi, apa kabar?”
saya menyapanya. “Alhamdulillah baik mas
Rahmad”. Dia membalas dengan suaranya yang agak sedikit Sunda. Tanpa basa
basi saya langsung menanyakan, “Mas, kok
nomor Editor fulan gak aktif?”.
“Oh maaf Mas, saya belum mengabari. Editor
Fulan sudah tidak bekerja di sini lagi. Sudah seminggu tidak ada kabar. Tapi
buku mas Rahmad sudah diambil alih oleh supervisor sekarang. Proses editing dan
layout pun sedang berjalan”. Uangkap mas Luthfi.
Sungguh,
jawaban yang saya dengar dari Mas Luthfi, bagai halilintar menyambar wajahku.
Apakah Anda tau kenapa? Karena, harapan saya akan nasib buku ini bisa lahir
dari mesin pencetak tanggal 22 mei. Sangat tipis kemungkinannya. Sepertinya
mustahil saya mengendongnya, seperti saya inginkan.
Mungkin Anda
bertanya seperti temanku Mahmudi “Mengapa
harus tanggal 22 mei brother Rahmad?”. 22 Mei yang jatuh pada hari selasa,
adalah hari pengulangan kelahiranku. Saya berhasrat. Buku itu bisa menjadi
hadiah terindah untuk ulang tahun yang ke 28 ini.
Bersambung ke 3 Halilintar Menyambar Wajahku 2
Bagikan