Jumat, 01 Juni 2012

Daun-Daun Persentasi Orgasme


“Terima kasih Tuhan, semangat ini masih membara dalam diri saya”.

What’s on your mind?

Sepuluh kata di atas, merupakan jawaban yang saya tulis pada pertanyaan facebook kepadaku, “What’s on your mind?”. Hampir lima hari ini, di minggu terakhir pada bulan April. Ada gelora-gelora membara dalam diriku. Rasa bergejolak ini lebih tepatnya saya gambarkan seperti letupan-letupan kecil air mendidih 100 derajat. Begitulah yang saya rasakan.

Selama menjerumuskan diri dalam lautan gairah ini. Saya menunda sejenak kegiatan mengikat makna. Yaitu seperti yang sering saya sampaikan—aktifitas membumikan pengalaman-pengalaman hidup—dalam format sarang kata-kata. Yang akhirnya berujung dalam sebutan catatan.

Alasan saya merelakan diri terlena, karena, nikmatnya sensasi gemuruh debaran semangat berputar-putar dalam tubuhku. Bila Anda tanyakan di mana persisnya saya merasakan percikan-percikan itu? Saya tidak dapat menjelaskan keberadaan tepatnya. Namun, sensasi kecil bergerak-gerak di sekitar jantung, paru-paru dan ulu hati. Seperti bergelombang-gelombang di sana.

It’s about passion

Terus, apa yang mendalangi letupan-letupan ini? Saya pun juga tidak mengetahui apa gerangan? Akan tetapi, biasanya para pembicara motivasi memberi judul passion untuk lakon ini (baca; perasaan). Ya, saya setuju dengan sebutan passion. Bila memanggil dengan bahasa percakapan orang Indonesia (Anda dan saya)—hasrat atau gairah. 

Kata-kata hasrat dan gairah. Bila Anda menyemai pada taman kosong pencari google,  maka, dia akan membawa Anda bertemu dengan ribuan wajah tautan. Dari semangat menggelora, pribadi-pribadi berkomitmen terhadap cita-citanya. Hingga, percakapan erotic pengumbar nafsu syahwat. Apalagi sempat-sempatnya Anda menusuk pengait gambar google. Tidak perlu terkejut bila melihat gambar-gambar artistik pria dan wanita memadu asmara.

Nikmatnya orgasme

Sementara itu, izinkan saya bercerita kepada Anda, pengalaman pertama bertatap muka dengan sang passion. Sanking penasarannya saya sama dia, semua rupa yang tertampang di google, saya usahakan membacanya, agar saya mencapai orgasme pemahaman. Akan tetapi, pemahaman kepuasan saya itu, masih tetap saja terjinjing oleh tanda tanya, “Mengapa google mengaitkan passion dengan nuasa area di bawah pusar?”.

Dulunya saya hanya mengasumsikan, bahwa semangat orang-orang melakukan pekerjaannya tanpa merasa lelah, bahkan terbayang-bayang siang dan malam tentangnya, disamakan dengan kata-kata akrab dokter Boyke. Karena, ekspresi kedua perihal tersebut, sama-sama bisa dihubungkan dalam padanan kata passion.

Akan tetapi, semakin lama saya mengkaji dan menyelami gairah pada aktifitas menjadi trainer Self Potensials Optimizer dan Mind-Therapist, semakin saya menyadari. Ternyata, berenang dalam lautan mengajar, melatih, dan menterapi. Puncaknya sama seperti klimaks menggapai orgasme bersenggama. Hal ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah menemukan tempat bermain (baca; aktifitas penuh cinta) dan menikah.

Bila ini sedang saya alami. Bukankah hanya kata syukur dan kesadaran batin penuh rasa terima kasih pantas saya tayangkan? Kepada diri saya sendiri, semesta, dan sang Maha Pencipta. Sehingga, tidaklah heran. Bila janji setia mengikat makna sehari-hari telah saya ingkari selama 4 hari. Ini lantaran, saya hilang kesadaran tenggelam dalam lautan mabuk pekerjaan.

Mendesign slide persentasi

Sebenarnya apa yang saya lakukan? Tidak ada. Saya tidak melakukan apapun, kecuali saya sedang bermain-main seperti senangnya anak-anak kecil berlari-lari tanpa merasa lelah dalam merenovasi daun-daun persentasi materi pelatihan “Mengukir Jejak di Semesta”. Topik ini, baru di tahun 2012, saya bersua dengan garis panjang yang terhubung dari titik-titik pengetahuan yang telah saya lewati.

Janin yang terkandung dalam rahim (baca; isi materi), “Mengukir Jejak Di Semesta” adalah rangkaian perpaduan bercengkerama dengan para guru. Baik di ruang fisik. Maupun di tatanan metafisik. Yaitu, para guru tidak bisa saya sentuh kulitnya. Tetapi, saya dapat merasakan ruh mereka dalam setiap diksi mereka. Meski, beberapa kata sudah dipangkas oleh pedang editor. Akan tetapi, maknanya tetap menginspirasi.

Sehingga, lalakan gairah dalam diri saya, terus menyala-nyala. Seperti air tungku yang belum terpadamkan. Dan saya berharap, ini tetap meledak dan menumpahkan benih-benih gairah selamanya. 

Akhirnya, sekali lagi saya ungkapkan “Terima kasih ya Tuhan, semangat ini masih membara dalam diri hamba”.

Ciganjur, Kamis, 26 April 2012 
Ayo silaturahim, follow @mind_therapist
Bagikan