“Terima kasih Tuhan, semangat ini masih membara dalam
diri saya”.
What’s on your mind?
Sepuluh kata
di atas, merupakan jawaban yang saya tulis pada pertanyaan facebook kepadaku, “What’s on your mind?”. Hampir lima hari
ini, di minggu terakhir pada bulan April. Ada gelora-gelora membara dalam diriku.
Rasa bergejolak ini lebih tepatnya saya gambarkan seperti letupan-letupan kecil
air mendidih 100 derajat. Begitulah yang saya rasakan.
Selama
menjerumuskan diri dalam lautan gairah ini. Saya menunda sejenak kegiatan
mengikat makna. Yaitu seperti yang sering saya sampaikan—aktifitas membumikan
pengalaman-pengalaman hidup—dalam format sarang kata-kata. Yang akhirnya
berujung dalam sebutan catatan.
Alasan saya
merelakan diri terlena, karena, nikmatnya sensasi gemuruh debaran semangat
berputar-putar dalam tubuhku. Bila Anda tanyakan di mana persisnya saya
merasakan percikan-percikan itu? Saya tidak dapat menjelaskan keberadaan tepatnya.
Namun, sensasi kecil bergerak-gerak di sekitar jantung, paru-paru dan ulu hati.
Seperti bergelombang-gelombang di sana.
It’s about passion
Terus, apa
yang mendalangi letupan-letupan ini? Saya pun juga tidak mengetahui apa gerangan?
Akan tetapi, biasanya para pembicara motivasi memberi judul passion untuk lakon ini (baca;
perasaan). Ya, saya setuju dengan sebutan passion.
Bila memanggil dengan bahasa percakapan orang Indonesia (Anda dan saya)—hasrat
atau gairah.
Kata-kata
hasrat dan gairah. Bila Anda menyemai pada taman kosong pencari google, maka, dia akan membawa Anda bertemu dengan
ribuan wajah tautan. Dari semangat menggelora, pribadi-pribadi berkomitmen
terhadap cita-citanya. Hingga, percakapan erotic pengumbar nafsu syahwat.
Apalagi sempat-sempatnya Anda menusuk pengait gambar google. Tidak perlu terkejut
bila melihat gambar-gambar artistik pria dan wanita memadu asmara.
Nikmatnya orgasme
Sementara
itu, izinkan saya bercerita kepada Anda, pengalaman pertama bertatap muka
dengan sang passion. Sanking
penasarannya saya sama dia, semua rupa yang tertampang di google, saya usahakan
membacanya, agar saya mencapai orgasme pemahaman. Akan tetapi, pemahaman
kepuasan saya itu, masih tetap saja terjinjing oleh tanda tanya, “Mengapa google mengaitkan passion dengan
nuasa area di bawah pusar?”.
Dulunya saya
hanya mengasumsikan, bahwa semangat orang-orang melakukan pekerjaannya tanpa
merasa lelah, bahkan terbayang-bayang siang dan malam tentangnya, disamakan
dengan kata-kata akrab dokter Boyke. Karena, ekspresi kedua perihal tersebut,
sama-sama bisa dihubungkan dalam padanan kata passion.
Akan tetapi,
semakin lama saya mengkaji dan menyelami gairah pada aktifitas menjadi trainer Self Potensials Optimizer dan Mind-Therapist, semakin saya menyadari.
Ternyata, berenang dalam lautan mengajar, melatih, dan menterapi. Puncaknya sama
seperti klimaks menggapai orgasme bersenggama. Hal ini hanya bisa dirasakan
oleh mereka yang telah menemukan tempat bermain (baca; aktifitas penuh cinta)
dan menikah.
Bila ini
sedang saya alami. Bukankah hanya kata syukur dan kesadaran batin penuh rasa
terima kasih pantas saya tayangkan? Kepada diri saya sendiri, semesta, dan sang
Maha Pencipta. Sehingga, tidaklah heran. Bila janji setia mengikat makna
sehari-hari telah saya ingkari selama 4 hari. Ini lantaran, saya hilang kesadaran
tenggelam dalam lautan mabuk pekerjaan.
Mendesign slide persentasi
Sebenarnya
apa yang saya lakukan? Tidak ada. Saya tidak melakukan apapun, kecuali saya
sedang bermain-main seperti senangnya anak-anak kecil berlari-lari tanpa merasa
lelah dalam merenovasi daun-daun persentasi materi pelatihan “Mengukir Jejak di Semesta”. Topik ini,
baru di tahun 2012, saya bersua dengan garis panjang yang terhubung dari
titik-titik pengetahuan yang telah saya lewati.
Janin yang
terkandung dalam rahim (baca; isi materi), “Mengukir
Jejak Di Semesta” adalah rangkaian perpaduan bercengkerama dengan para
guru. Baik di ruang fisik. Maupun di tatanan metafisik. Yaitu, para guru tidak
bisa saya sentuh kulitnya. Tetapi, saya dapat merasakan ruh mereka dalam setiap
diksi mereka. Meski, beberapa kata sudah dipangkas oleh pedang editor. Akan tetapi,
maknanya tetap menginspirasi.
Sehingga,
lalakan gairah dalam diri saya, terus menyala-nyala. Seperti air tungku yang
belum terpadamkan. Dan saya berharap, ini tetap meledak dan menumpahkan
benih-benih gairah selamanya.
Akhirnya,
sekali lagi saya ungkapkan “Terima kasih
ya Tuhan, semangat ini masih membara dalam diri hamba”.
Ciganjur,
Kamis, 26 April 2012
Ayo silaturahim, follow @mind_therapist
Bagikan