Saya sering menulis kebingungan saya. Eh malah
menghasilkan catatan berlian.
#Rahmadsyah
Apa yang
harus saya tulis?
Mungkin
Anda bertanya “Apa yang harus saya
tulis?” pada saat meletakkan jari jemari Anda di atas keyboard laptop. Jika
anda menulis menggunakan IPAD, Anda bertanya saat layar sentuh itu siap Anda
belai. Sehingga, karena perkara itu, Anda membenarkan alasan bodoh pada diri
Anda. Bahwa, menulis itu sulit. Mengukir kata-kata menjadi kalimat nan bermakna
susah. Apakah demikian?
Saya
berharap Anda tidak menjawab iya atas pertanyaan di atas. Namun, seandainya
bukan tidak. Maka, hal itu amat wajar. Karena, hampir semua penulis pernah
mengalaminya. Meski sefenomenal Stephen King, Andreas Harefa, Habiburahman
Siraji, Asma Nadia, dan Pipiet Senja sekali pun.
Mengapa
saya berani menjustifikasi seperti ini? Sebab, kondisi ini merupakan kelumrahan
pada setiap orang. Namun, bedanya. Mereka tidak berhenti, tetapi melunaskan
komitmen dengan diri sendiri. Sehingga, saat ini, hal itu bukan lagi persoalan
bagi mereka. Bahkan, tatkala Anda mencoba menyampaikan kegalauan Anda tentang
perkara ini. Maka, mereka dengan sangat jeli membantu untuk membatalkan alasan
Anda.
Jangan
percaya
Apakah
Anda meragukan apa yang saya sampaikan? Jika demikian, berusahalah sekarang
untuk tidak mempercayai berita dari saya ini. Sehingga Anda berpura-pura
seolah-olah setiap kata saya tempelkan di sini, hanya omong kosong belaka.
Namun lama-kelamaan, Anda menyadari, bahwa itu wajar. Dan kewajaran ini,
mengakibatkan Anda memulai menulis sekarang.
Entah
saat ini Anda mengizinkan jari jari Anda menggoyangkan otot indahnya atas
pangung alat komunikasi Anda. Atau, setelah mekhatamkan risalah saya, Anda
melakukannya. Dan saya yakin, bahwa Anda bisa membuktikan kepada diri sendiri.
Kalau menulis sesuatu yang mudah. Bukan lagi payah.
Motivasi
untuk timnas U 14
Sementara
itu, izinkan saya menceritakan dongeng nyata ini kepada Anda. Dua hari yang
lalu, saya absen dari menulis. Karena, selama sabtu dan minggu, saya manggung
di dua tempat. Pertama sabtu, saya berangkat ke Bandung. Seminar cara belajar
bahasa ingris dan mengatasi ketakutan berbicara, bersama STEM. Dan minggunya,
saya mengisi motivasi untuk TIMNAS U 14, yang akan berangkat ke Thailand.
Mereka akan bertanding atas nama Bangsa Indonesia di acara AFC.
Kedua
hari ini, saya berangkat pagi-pagi sekali. Seperti hari sabtu 19 mei. Jam 05.20
saya sudah keluar dari rumah. Meski rona kehitaman semesta masih mengisi
lorong-lorong menuju jalan depan syarpa. Saya tiba di rumah kembali jam
21.45wib. Badan saya lumayan melelahkan.
Dan
hari minggu, 20 mei. Jam 06.00 saya
sudah bergegas ke Cilandak. Menunggu teman saya pak Amarta Imron. Saya tiba di
rumah jam 20.30wib. Meskipun masih sangat banyak waktu bisa saya gunakan untuk
menulis. Namun, hal itu kurang memungkinkan. Karena, kalah penting dengan
prioritas menggendong putri saya yang demam setelah imunisasi DPT 2 pagi hari
nya.
Tulis
saja
Nah,
hari ini saya memaksakan diri, mengqadha komitmen saya. Kewajiban menulis
sehari satu catatan. Akan tetapi, lumayan hebat peristiwa saya alami. Dari pagi
hari, saya membuka dokumen baru. Akan tetapi, hingga siang melepaskan waktu
menemui maqrib. Tangan saya malas melukiskan perasaan yang saya alami.
Akhirnya,
saya memutuskan untuk menulis saja tanpa memerdulikan tujuannya. Maksud saya,
tanpa memperdulikan “Apa yang mau saya
tulis?”. Ditambah lagi, keinginan mengamati, apa yang akan terjadi, jika
saya menulis tanpa tujuan?
Ternyata,
setelah saya memaksakan diri, ujung dari aktifitas tak bertuan “rencana” tadi,
menghasilkan karya. Tidak hanya itu, akan tetapi, sebuah tips agar tetap menulis
dalam keadaan tanpa kejelasan rencana.
Tipsnya
sangat sederhana. Apakah Anda mau tau? Perhatikan, dan simak ini baik-baik ya.
Saat Anda tidak tau, apa yang harus Anda tulis. Maka, mulailah menulis isi
pikiran berupa ketidakmengertian itu. Biarkan saja iya mengalir mengikuti
gejolak dalam diri Anda. Setelah itu, perhatikan apa yang terjadi?
Ciganjur,
Senin, 21 Mei 2012
Bagikan
