Rabu, 20 Juni 2012

Inilah Tips Mentatasi Kebuntuan Menulis


Saya sering menulis kebingungan saya. Eh malah menghasilkan catatan berlian.
#Rahmadsyah

Apa yang harus saya tulis?

Mungkin Anda bertanya “Apa yang harus saya tulis?” pada saat meletakkan jari jemari Anda di atas keyboard laptop. Jika anda menulis menggunakan IPAD, Anda bertanya saat layar sentuh itu siap Anda belai. Sehingga, karena perkara itu, Anda membenarkan alasan bodoh pada diri Anda. Bahwa, menulis itu sulit. Mengukir kata-kata menjadi kalimat nan bermakna susah. Apakah demikian?

Saya berharap Anda tidak menjawab iya atas pertanyaan di atas. Namun, seandainya bukan tidak. Maka, hal itu amat wajar. Karena, hampir semua penulis pernah mengalaminya. Meski sefenomenal Stephen King, Andreas Harefa, Habiburahman Siraji, Asma Nadia, dan Pipiet Senja sekali pun.

Mengapa saya berani menjustifikasi seperti ini? Sebab, kondisi ini merupakan kelumrahan pada setiap orang. Namun, bedanya. Mereka tidak berhenti, tetapi melunaskan komitmen dengan diri sendiri. Sehingga, saat ini, hal itu bukan lagi persoalan bagi mereka. Bahkan, tatkala Anda mencoba menyampaikan kegalauan Anda tentang perkara ini. Maka, mereka dengan sangat jeli membantu untuk membatalkan alasan Anda.

Jangan percaya

Apakah Anda meragukan apa yang saya sampaikan? Jika demikian, berusahalah sekarang untuk tidak mempercayai berita dari saya ini. Sehingga Anda berpura-pura seolah-olah setiap kata saya tempelkan di sini, hanya omong kosong belaka. Namun lama-kelamaan, Anda menyadari, bahwa itu wajar. Dan kewajaran ini, mengakibatkan Anda memulai menulis sekarang.

Entah saat ini Anda mengizinkan jari jari Anda menggoyangkan otot indahnya atas pangung alat komunikasi Anda. Atau, setelah mekhatamkan risalah saya, Anda melakukannya. Dan saya yakin, bahwa Anda bisa membuktikan kepada diri sendiri. Kalau menulis sesuatu yang mudah. Bukan lagi payah.

Motivasi untuk timnas U 14

Sementara itu, izinkan saya menceritakan dongeng nyata ini kepada Anda. Dua hari yang lalu, saya absen dari menulis. Karena, selama sabtu dan minggu, saya manggung di dua tempat. Pertama sabtu, saya berangkat ke Bandung. Seminar cara belajar bahasa ingris dan mengatasi ketakutan berbicara, bersama STEM. Dan minggunya, saya mengisi motivasi untuk TIMNAS U 14, yang akan berangkat ke Thailand. Mereka akan bertanding atas nama Bangsa Indonesia di acara AFC.

Kedua hari ini, saya berangkat pagi-pagi sekali. Seperti hari sabtu 19 mei. Jam 05.20 saya sudah keluar dari rumah. Meski rona kehitaman semesta masih mengisi lorong-lorong menuju jalan depan syarpa. Saya tiba di rumah kembali jam 21.45wib. Badan saya lumayan melelahkan. 

Dan hari minggu, 20 mei. Jam 06.00  saya sudah bergegas ke Cilandak. Menunggu teman saya pak Amarta Imron. Saya tiba di rumah jam 20.30wib. Meskipun masih sangat banyak waktu bisa saya gunakan untuk menulis. Namun, hal itu kurang memungkinkan. Karena, kalah penting dengan prioritas menggendong putri saya yang demam setelah imunisasi DPT 2 pagi hari nya. 

Tulis saja

Nah, hari ini saya memaksakan diri, mengqadha komitmen saya. Kewajiban menulis sehari satu catatan. Akan tetapi, lumayan hebat peristiwa saya alami. Dari pagi hari, saya membuka dokumen baru. Akan tetapi, hingga siang melepaskan waktu menemui maqrib. Tangan saya malas melukiskan perasaan yang saya alami.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis saja tanpa memerdulikan tujuannya. Maksud saya, tanpa memperdulikan “Apa yang mau saya tulis?”. Ditambah lagi, keinginan mengamati, apa yang akan terjadi, jika saya menulis tanpa tujuan? 

Ternyata, setelah saya memaksakan diri, ujung dari aktifitas tak bertuan “rencana” tadi, menghasilkan karya. Tidak hanya itu, akan tetapi, sebuah tips agar tetap menulis dalam keadaan tanpa kejelasan rencana.

Tipsnya sangat sederhana. Apakah Anda mau tau? Perhatikan, dan simak ini baik-baik ya. Saat Anda tidak tau, apa yang harus Anda tulis. Maka, mulailah menulis isi pikiran berupa ketidakmengertian itu. Biarkan saja iya mengalir mengikuti gejolak dalam diri Anda. Setelah itu, perhatikan apa yang terjadi?

Ciganjur, Senin, 21 Mei 2012
Bagikan