Senin, 18 Juni 2012

Bagaimana Kemelekatan Lahir dan Cara Menterapinya? 2


Sebagaimana janji saya kepada Anda kemarin. Hari ini, kita lanjutkan tentang cara melepaskan diri dari kemelekatan. Semoga bermanfaat. Bagi yang baru baca, boleh membaca dulu catatan yang kemarin. 

 3 proses kemelekatan

Oh ya, ngomong-ngomong, apakah Anda tau bagaimana kemelekatan terjadi pada diri Anda dan saya? 

Menurut Anthony De Mellow, kelekatan terjadi pertama-tama karena hubungan dengan sesuatu yang menimbulkan kenikmatan. Seperti; baru mempunyai mobil baru. Ipad, ungkapan pujian, teman dekat tempat curhat, suami atau istri nan membahagiakan hidup dan hal lainnya.

Selanjut, muncul hasrat dalam diri kita untuk mempertahankannya. Kita sangat menginginkan agar emosi itu senantiasa bersama diri kita selamanya. Tidak hanya itu. Kita pun berusaha untuk mengulangi perasaan memuaskan yang ditimbulkan oleh barang, hal atau orang tertentu.

Dan akhirnya, terbentuklah keyakinan dalam diri kita—bahwa Anda dan saya tidak akan bahagia tanpanya. Karena, kita telah mengikat kenikmatan kita peroleh dengan kebahagiaan. Dari pujian tulus dan pura-pura, kenyamanan perjalanan dalam mobil kita kendarai, dan keceriaan kita alami akibat kedekatan dengan seseorang. Kini, Anda dan saya mempunyai kelekatan total 100%.

Jadi, bisa kita simpulkan, kemelekatan itu terjadi dengan 3 tahap. Pertama, hubungan mengandung kenikmatan, kedua usaha mempertahankan, dan ketiga keyakinan. 

Setelah membaca penjelasan proses hadirnya kelekatan, sayapun menyadari apa yang terjadi pada diri saya. Ternyata kurangnya kedamaian jiwa, ketentraman batin, dan bahagia yang bias pada diri saya. Karena, saya melekat kepada pengalaman-pengalaman sebelumnya—di mana setiap saya training di perusahaan teman saya—sering mendapat pujian bagus. Bahkan mendapat perlakuan bak selebritis, untuk foto bersama.

Terapi kemelekatan

Lalu saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana cara menyelaraskan kemelekatan kepada diriku ini?

Ternyata Lelaki kelahiran India, seorang pastur jesuit dan Direktur Sandhana Institute of Pastoral Conseling ini, juga memberikan tips serta solusi pada kelanjutan paragraf selanjutnya. Dan tipsnya itu mudah terdengar, namun terkadang sulit-sulit mempraktekkannya. Layaknya iman pada diri seseorang, kadang naik dan turun. Persis seperti pikiran kita juga, timbul tenggelam tanpa mampu kita kontrol.

Dan nasehat pendek dari Anthony De Mellow, satu-satunya cara menyelaraskan emosi kemelekatan pada diri terhadap sesuatu, dengan cara menjalani hidup penuh kesadaran. Kita mengamati kehidupan yang terus bergerak dan pandangan kesadaran, bukan akibat perbandingan pada memori dan hayalan. 

Kesadaran

Keterangan penyelarasan kemelekatan ini, semakin menyelaraskan keruwetan emosi dalam diri saya. Karena, yang membuat saya merasa kurang puas, akibat pengalaman yang saya alami seperti cerita saya di atas dan partner Norman Vincent—gara membandingkan dengan memori kenikmatan pernah saya alami di tempat itu. Padahal, waktu terus berjalan. Dan saya tidak membuka mata kesadaran dalam diri saya.

Dan kembali dengan cerita Norman pada bukunya di atas. Akhirnya temanya menarik nafas panjang untuk melegakan dirinya. Dia menganggap “Iya, ini hanya sebuah peristiwa, hidup tidak selamanya indah. Kadang cerah dan terkadang mendung”. Dia pun berterima kasih kepada Norman. 

Demikianpula yang terjadi pada diri saya. Akhirnya saya menjadi lebih tenang. Bahkan saya mensyukuri peristiwa ini. Karena pada dasarnya, Allah sedang mengubah saya lewat peristiwa telah saya alami—yaitu menjadikan saya menyadari bahwa saya masih melekat. Malahan, sekarang saya jadi tau bagaimana proses kemekatan terjadi, dan cara menyelaraskannya. Anda juga kan?

Ciganjur, Kamis 19 April 2012
Bagikan