Sebagaimana
janji saya kepada Anda kemarin. Hari ini, kita lanjutkan tentang cara
melepaskan diri dari kemelekatan. Semoga bermanfaat. Bagi yang baru baca, boleh membaca dulu catatan yang kemarin.
3 proses kemelekatan
Oh
ya, ngomong-ngomong, apakah Anda tau bagaimana kemelekatan terjadi pada diri
Anda dan saya?
Menurut
Anthony De Mellow, kelekatan terjadi pertama-tama karena hubungan dengan
sesuatu yang menimbulkan kenikmatan. Seperti; baru mempunyai mobil baru. Ipad,
ungkapan pujian, teman dekat tempat curhat, suami atau istri nan membahagiakan
hidup dan hal lainnya.
Selanjut,
muncul hasrat dalam diri kita untuk mempertahankannya. Kita sangat menginginkan
agar emosi itu senantiasa bersama diri kita selamanya. Tidak hanya itu. Kita pun
berusaha untuk mengulangi perasaan memuaskan yang ditimbulkan oleh barang, hal
atau orang tertentu.
Dan
akhirnya, terbentuklah keyakinan dalam diri kita—bahwa Anda dan saya tidak akan
bahagia tanpanya. Karena, kita telah mengikat kenikmatan kita peroleh dengan
kebahagiaan. Dari pujian tulus dan pura-pura, kenyamanan perjalanan dalam mobil
kita kendarai, dan keceriaan kita alami akibat kedekatan dengan seseorang.
Kini, Anda dan saya mempunyai kelekatan total 100%.
Jadi,
bisa kita simpulkan, kemelekatan itu terjadi dengan 3 tahap. Pertama, hubungan mengandung kenikmatan,
kedua usaha mempertahankan, dan ketiga keyakinan.
Setelah
membaca penjelasan proses hadirnya kelekatan, sayapun menyadari apa yang
terjadi pada diri saya. Ternyata kurangnya kedamaian jiwa, ketentraman batin,
dan bahagia yang bias pada diri saya. Karena, saya melekat kepada
pengalaman-pengalaman sebelumnya—di mana setiap saya training di perusahaan
teman saya—sering mendapat pujian bagus. Bahkan mendapat perlakuan bak
selebritis, untuk foto bersama.
Terapi kemelekatan
Lalu
saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana cara menyelaraskan
kemelekatan kepada diriku ini?
Ternyata
Lelaki kelahiran India, seorang pastur jesuit dan Direktur Sandhana Institute of Pastoral Conseling ini, juga
memberikan tips serta solusi pada kelanjutan paragraf selanjutnya. Dan tipsnya
itu mudah terdengar, namun terkadang sulit-sulit mempraktekkannya. Layaknya
iman pada diri seseorang, kadang naik dan turun. Persis seperti pikiran kita
juga, timbul tenggelam tanpa mampu kita kontrol.
Dan
nasehat pendek dari Anthony De Mellow, satu-satunya cara menyelaraskan emosi
kemelekatan pada diri terhadap sesuatu, dengan cara menjalani hidup penuh kesadaran. Kita mengamati kehidupan yang
terus bergerak dan pandangan kesadaran, bukan akibat perbandingan pada memori
dan hayalan.
Kesadaran
Keterangan
penyelarasan kemelekatan ini, semakin menyelaraskan keruwetan emosi dalam diri
saya. Karena, yang membuat saya merasa kurang puas, akibat pengalaman yang saya
alami seperti cerita saya di atas dan partner Norman Vincent—gara membandingkan
dengan memori kenikmatan pernah saya alami di tempat itu. Padahal, waktu terus
berjalan. Dan saya tidak membuka mata kesadaran dalam diri saya.
Dan
kembali dengan cerita Norman pada bukunya di atas. Akhirnya temanya menarik
nafas panjang untuk melegakan dirinya. Dia menganggap “Iya, ini hanya sebuah peristiwa, hidup tidak selamanya indah. Kadang
cerah dan terkadang mendung”. Dia pun berterima kasih kepada Norman.
Demikianpula
yang terjadi pada diri saya. Akhirnya saya menjadi lebih tenang. Bahkan saya
mensyukuri peristiwa ini. Karena pada dasarnya, Allah sedang mengubah saya
lewat peristiwa telah saya alami—yaitu menjadikan saya menyadari bahwa saya masih
melekat. Malahan, sekarang saya jadi tau bagaimana proses kemekatan terjadi,
dan cara menyelaraskannya. Anda juga kan?
Ciganjur,
Kamis 19 April 2012
Bagikan