Senin, 04 Juni 2012

3 Halilintar Menyambar Wajahku 2


Seminar Terapi Berpikir Positif Batch 11
Sebagaimana janji saya kemarin. Cerita ini merupakan lanjutan dari catatan sebelumnya. 
 
Training resechedule

Itulah halilintar pertama, yang menyambar ke wajahku hari ini. Sekarang Anda tahukan? Nah, terus apa halilintar kedua? 

Ceritanya, 3 hari yang lalu, teman saya menjadwalkan untuk preview di sebuah perusahaan securitas, di daerah pusat perkantoran Sudirman. Sehingga, semalam saya sudah mempersiapkan segalanya. Mengedit slide persentasi sesuai permintaan. Dan merancang sekenarionya.

Memang, sebenarnya jadwal preview mulai pukul 16.00wib dengan tema “Terapi Berpikir Positif”. Jadwal persentasi awalnya disesuaikan dengan agenda rutin, monthly sharing session pada perusahaan itu. Akan tetapi, saya sudah berangkat dari rumah jam 10.00 pagi. Saya berniat mampir di café yang menyediakan fasilitas free wifi, sebelum pukul 16.00 merapat ke menara Indofood. 

Saya membutuhkan fasilitas wifi, karena modem internet sedang lemot. Jalannya seperti siput. Slow motionnya kadang-kadang terfriz (freez). Akan tetapi, begitu saya tiba di café seputaran Cilandak. Taklama setelah saya mengedit catatan yang mau saya postingkan di blogku. Tiba-tiba, saya merasakan getaran dalam kantong celana sebelah kanan. Kemudian terdengar suara Maher Zein si pelatun “InsyAllah”. “Allahu akbar… Allahu akbar…Al”. Suaranya menghilang karena saya memecet tombol terima.

Halo, ada apa pak?” Saya menyapa. Penggilan ini berasal dari teman yang menjawalkan preview. “Pak Rahmad, apakah sudah membaca BBM dari saya? Sepertinya belum ya? Barusan saya dapat kabar dari HRD securitas. Acaranya di rechedule. Karena, jajaran direksi tidak bisa hadir. Ada rapat mendadak. Padahal saya sudah bilang, direksi tidak menghadiri pun, juga tidak apa-apa. Tapi dia memutuskan di lain waktu”. Jelas temanku.

Duuummm”. Penjelasan temanku tadi, bagaikan sambaran halilintar kedua ke wajahku. Padahal saya sudah siap-siap berangkat, dan meninggalkan kediaman. Namun apa boleh buat, selogan pelanggan adalah raja, memaksaku memaklumi penjadwalan ulang pihak securitas. Sebenarnya—mengangggap perihal itu baik-baik saja—saya menerima kejadian itu sedikit terpaksa. Meskipun seperti itu. Teman saya menawarkan projek lain. Alhamdulillah berlangsung tanggal 20 Mei. 

Hujan di perjalanan pulang

Nah, sekarang semakin jelas bagi pikiran Anda bukan? 

Training Motivasi Untuk PSSI U 14
Adapun halilintar yang terakhir menyambarku. Selepas memposting artikel dan mencicipi burger. Saya shalat ke musholla kecil seukuran 3x3m belakang gedung tempat saya menyambungkan jaringan internet ke notebook saya. 

Kemudian saya menadah ke langit. Sudut selatan memang terlihat agak menghitam. Setelah saya menyebrang, kemudian tetesan kecil zat cair berjatuhan. Lama-kelamaan mulai banyak. Tapi, lima menit kemudian hujan kecil itu mulai menghilang. Bahkan, tidak menyisakan gerimis. Sehingga, yang tadinya saya berniat menggunakan jasa taksi, sedan berwarna putih berplat kuning untuk pulang. Urung saya realisasikan.

Lalu saya memutuskan pulang menggunakan angkot berwarna biru langit, seperti seragam polisi militer angkatan udara. Karena saya pikir alam sudah berhenti menangis. Akhirnya saya menyetop angkot M20 yang lewat dan menumpanginya untuk pulang. Akan tetapi, tepat di depan pintu masuk belakang Ragunan. Kaca depan mobil saya tumpangi mulai terserang rintik-rintik kecil. Tanpa menunggu lama serangannya cepat sekali. 

Hujannya mulai turun kembali. Kali ini mereka menjatuhkan diri menggunakan kecepatan penuh, dan menyerbu bumi dengan seluruh pasukan air dari langit yang ada. Parahnya, mobil saya setop tadi menyisakan tempat duduk kepada saya tepat di depan pintu masuk. Sebelah kiri angkot. Sehingga, sisi kiri baju, dari lengan hingga ke pingang dekat kantong celana. Menjadi tempat curahan tangisan semesta. 

Bukan hari naasku

Dalam hati tersebit. “Lengkap sudah penderitaanku hari ini”. Dan ini merupakan sambaran terakhir kepermukaan wajahku. Namun anehnya, mesti tiga kali menyambar, derita ini tidak mengerutkan wajahku. Melainkan menciptakan rona tersenyum. Tanpa menantang “Ini yang ketiga hari ini yang sedang saya alami. Saya menanti kejutan tak terduga dari-Mu Yang Maha Menentukan”.

Ya, mungkin karena peristiwa ketiga ini—baju dan celana saya basah pada bagian sisi kiri—maka saya tersenyum. Mengapa? Karena saya teringat pesan sang guru. Saat mengamalkan amalan tertentu. Hitungannya pasti ganjil. Lantaran, Allah suka dengan yang ganjil. Oleh sebab itulah, saya tersenyum. Karena, saya menganggap—apa yang sedang saya alami, juga Anda sekarang—semuanya Allah yang mengaturnya.

Dan di tengah perjalanan pulang dari depan jalan Syarpa ke rumah. Ada bisikan bertanya kepadaku di dalam, “Apakah kamu mengatakan ini nasib naasmu?” Saya langsung menjawab. “Bukan, apa yang terjadi padaku hari ini bukan hari naasku. Melainkan hari-hari penuh keberkahan”. 

Ciganjur, Rabu, 16 Mei 2012
Bagikan