| Seminar Terapi Berpikir Positif Batch 11 |
Sebagaimana janji saya kemarin. Cerita ini merupakan lanjutan dari catatan sebelumnya.
Training
resechedule
Itulah
halilintar pertama, yang menyambar ke wajahku hari ini. Sekarang Anda tahukan?
Nah, terus apa halilintar kedua?
Ceritanya, 3
hari yang lalu, teman saya menjadwalkan untuk preview di sebuah perusahaan
securitas, di daerah pusat perkantoran Sudirman. Sehingga, semalam saya sudah
mempersiapkan segalanya. Mengedit slide persentasi sesuai permintaan. Dan merancang
sekenarionya.
Memang, sebenarnya
jadwal preview mulai pukul 16.00wib dengan tema “Terapi Berpikir Positif”. Jadwal persentasi awalnya disesuaikan
dengan agenda rutin, monthly sharing
session pada perusahaan itu. Akan tetapi, saya sudah berangkat dari rumah
jam 10.00 pagi. Saya berniat mampir di café yang menyediakan fasilitas free wifi, sebelum pukul 16.00 merapat
ke menara Indofood.
Saya
membutuhkan fasilitas wifi, karena modem internet sedang lemot. Jalannya
seperti siput. Slow motionnya kadang-kadang terfriz (freez). Akan tetapi, begitu saya tiba di café seputaran Cilandak.
Taklama setelah saya mengedit catatan yang mau saya postingkan di blogku.
Tiba-tiba, saya merasakan getaran dalam kantong celana sebelah kanan. Kemudian
terdengar suara Maher Zein si pelatun “InsyAllah”.
“Allahu akbar… Allahu akbar…Al”.
Suaranya menghilang karena saya memecet tombol terima.
“Halo, ada apa pak?” Saya menyapa.
Penggilan ini berasal dari teman yang menjawalkan preview. “Pak Rahmad, apakah sudah membaca BBM dari
saya? Sepertinya belum ya? Barusan saya dapat kabar dari HRD securitas.
Acaranya di rechedule. Karena, jajaran direksi tidak bisa hadir. Ada rapat
mendadak. Padahal saya sudah bilang, direksi tidak menghadiri pun, juga tidak
apa-apa. Tapi dia memutuskan di lain waktu”. Jelas temanku.
“Duuummm”. Penjelasan temanku tadi,
bagaikan sambaran halilintar kedua ke wajahku. Padahal saya sudah siap-siap
berangkat, dan meninggalkan kediaman. Namun apa boleh buat, selogan pelanggan
adalah raja, memaksaku memaklumi penjadwalan ulang pihak securitas. Sebenarnya—mengangggap
perihal itu baik-baik saja—saya menerima kejadian itu sedikit terpaksa. Meskipun
seperti itu. Teman saya menawarkan projek lain. Alhamdulillah berlangsung
tanggal 20 Mei.
Hujan
di perjalanan pulang
Nah,
sekarang semakin jelas bagi pikiran Anda bukan?
| Training Motivasi Untuk PSSI U 14 |
Adapun
halilintar yang terakhir menyambarku. Selepas memposting artikel dan mencicipi
burger. Saya shalat ke musholla kecil seukuran 3x3m belakang gedung tempat saya
menyambungkan jaringan internet ke notebook saya.
Kemudian
saya menadah ke langit. Sudut selatan memang terlihat agak menghitam. Setelah
saya menyebrang, kemudian tetesan kecil zat cair berjatuhan. Lama-kelamaan
mulai banyak. Tapi, lima menit kemudian hujan kecil itu mulai menghilang.
Bahkan, tidak menyisakan gerimis. Sehingga, yang tadinya saya berniat
menggunakan jasa taksi, sedan berwarna putih berplat kuning untuk pulang. Urung
saya realisasikan.
Lalu saya
memutuskan pulang menggunakan angkot berwarna biru langit, seperti seragam
polisi militer angkatan udara. Karena saya pikir alam sudah berhenti menangis. Akhirnya
saya menyetop angkot M20 yang lewat dan menumpanginya untuk pulang. Akan
tetapi, tepat di depan pintu masuk belakang Ragunan. Kaca depan mobil saya
tumpangi mulai terserang rintik-rintik kecil. Tanpa menunggu lama serangannya
cepat sekali.
Hujannya
mulai turun kembali. Kali ini mereka menjatuhkan diri menggunakan kecepatan
penuh, dan menyerbu bumi dengan seluruh pasukan air dari langit yang ada.
Parahnya, mobil saya setop tadi menyisakan tempat duduk kepada saya tepat di
depan pintu masuk. Sebelah kiri angkot. Sehingga, sisi kiri baju, dari lengan
hingga ke pingang dekat kantong celana. Menjadi tempat curahan tangisan
semesta.
Bukan hari naasku
Dalam hati
tersebit. “Lengkap sudah penderitaanku
hari ini”. Dan ini merupakan sambaran terakhir kepermukaan wajahku. Namun
anehnya, mesti tiga kali menyambar, derita ini tidak mengerutkan wajahku.
Melainkan menciptakan rona tersenyum. Tanpa menantang “Ini yang ketiga hari ini yang sedang saya alami. Saya menanti kejutan
tak terduga dari-Mu Yang Maha Menentukan”.
Ya, mungkin
karena peristiwa ketiga ini—baju dan celana saya basah pada bagian sisi
kiri—maka saya tersenyum. Mengapa? Karena saya teringat pesan sang guru. Saat
mengamalkan amalan tertentu. Hitungannya pasti ganjil. Lantaran, Allah suka
dengan yang ganjil. Oleh sebab itulah, saya tersenyum. Karena, saya menganggap—apa
yang sedang saya alami, juga Anda sekarang—semuanya Allah yang mengaturnya.
Dan di
tengah perjalanan pulang dari depan jalan Syarpa ke rumah. Ada bisikan bertanya
kepadaku di dalam, “Apakah kamu
mengatakan ini nasib naasmu?” Saya langsung menjawab. “Bukan, apa yang terjadi padaku hari ini bukan hari naasku. Melainkan
hari-hari penuh keberkahan”.
Ciganjur, Rabu, 16 Mei 2012
Bagikan