Minggu, 10 Juni 2012

Ricky Balboa: Jual Dirimu Bukan Produkmu


Saat menjual sebenarnya kita bukan sedang menjual barang yang kita dagangkan. Melainkan, kita sedang menjual diri kita.

#Mario Teguh

Iklan di milist

Dua minggu ini, saat saya menulis catatan ini. Di dua milist yang saya ikuti, sedang alotnya membahas tentang aturan beriklan di milist. Kedua milist yang saya ikuti ini, berhubungan dengan pengembangan diri. Milist pertama tempat berkumpul, berwacana, berdiskusi dan berbagi inspirasi, para trainers di Indonesia. Dan milist yang satunya lagi, tempat berbagi cerita para Manager Indonesia.

Entah sebuah kebetulan atau berpapasan saja. Dua ruang maya ini sedang sengit berdiskusi tentang iklan-iklan yang beredar di rumah (baca; inbox) masing-masing. Wacananya mengandung pro dan kontra. Seperti pro kontra kenaikan BBM. Ada anggota yang setuju, diikuti beberapa syarat seperti keputusan UU BBM kemarin di DPR. Malahan, ada juga secara terang-terangan merasa keberatan, karena banyaknya penawaran mengisi inbox mereka.

Dan yang menarik, pertanyaan seorang moderator di milist manager yang saya ikuti. “Seberapa efektifkah beriklan di milist?”. Bermacam ragam argumen bersahutan. Ada yang menyampaikan tidak efektif, karena bila ada penawaran masuk dia langsung mendelete, tanpa membaca isi penawaran tersebut. Ada juga yang berkomentar, hanya sebagai akses eksistensi saja. Jawaban ini, pasti berasal dari kubu pengiklan.

Sementara saya sendiri meyakini, bahwa beriklan di milist sangat-sangat efektif. Cuma, teragantung siapa yang mengiklankannya. Sebab, saya mengamati. Ada seorang Coach yang cukup dikenal pada komunitas milist tersebut. Dia mengirimkan informasi pelatihannya—jarak cuma 3 hari—sebelum pelaksanaan. Walhasil, kursinya penuh semua. Menariknya lagi, isi pemberitahuan beliau, hanya informasi tentang, judul, tempat, waktu, investasi dan no kontak. Itu saja.

Artinya, sosok pengiklan, sangat menentukan keefektifan jualannya. Ini juga menandakan, nilai yang melekat pada seorang penawar pada milist—merupakan faktor utama keberhasilan sebuah iklan. 

Mario Teguh golden ways

Serupa penjelasan pak Mario teguh pada program beliau, Mario Teguh Goldens Ways di Metro TV. Saya lupa persisnya tema pada hari itu. Akan tetapi, Pak Mario mengingatkan kepada pemirsa di studio dan di mana pun berada. Bahwa, “Saat menjual sebenarnya kita bukan sedang menjual barang yang kita dagangkan. Melainkan, kita sedang menjual diri kita”.

Kemudian Pak Mario menambahkan. “Sebab, pembeli itu memutuskan untuk rela menyerahkan uangnya demi suatu jasa atau barang—sebenarnya bukan karena jasa atau barang tersebut—akan tetapi, lebih karena sosok penjualnya”.
 
Lalu melanjutkan, “Itu sebabnya, mengapa bila ada layanan komersial masyarakat di TV, pasti melibatkan para artis yang telah ada ikatan emosionalnya dengan pemirsa, sebagai bintang iklannya”. Ungkap pak Mario dengan suara beliau yang dalam serta gayanya santun.

Kemudian beliau menutup dengan statemen, “Betapa seringnya kita membeli barang yang tak kita butuhkan, tetapi karena yang menawarkan adalah orang yang kita hormati, maka kita membelinya?” 

Hypno-Selling

Training Coaching & Counseling for Pru Power Vision
Demikianpula saat membawakan materi persuasive communication (Hypno-Selling). Saya sering menjelaskan kepada para peserta, agar meyakini dirinya 100%. Terutama, saat menawarkan jasa atau barang kepada pelanggan. Seperti yakin kepada diri sendiri. 

Sebab, seseorang yang yakin, akan memancarkan energi meyakinkan kepada pembeli. Dan ingat—sebelum menjelaskan cara-cara meyakinkan pelanggan—saya selalu menggali, seberapa yakin para peserta terhadap diri dan dagangannya (produk).

Kemudian saya juga membagikan tips agar penawaran tidak berujung dengan penolakan. Apakah Anda mau tau? Caranya sangat-sangat sederhana. Oleh karena itu, supaya Anda benar-benar mengetahuinya, dekatkan diri Anda kepada saya. 

Caranya adalah, sebelum pembeli membeli jasa pelatihanku, saya memastikan pelanggan terlebih dahulu membeli saya (bukan menjual diri ya). Seperti iklan axe “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”.

Dan memang, tidak hanya itu membuat pelanggan tidak keberatan kepada saya, juga Anda tentunya. Ada tehnik-tehnik lain yang butuh kita kuasai, agar proses penawaran berujung dengan tanda tangan kontrak. 

Ricky Balboa menjual dirinya

Supaya menguatkan materi yang saya sampaikan di kelas, sudah terbiasa saya meyakinkannya dengan cerita. Karena cerita metode penyampaian yang ramah otak, dan jarang terjadi penolakan. Lazimnya saya mengisahkan Silverters saat menjual naskah film Ricky Balboa yang dia tulis.

Sebagaimana jamak kita ketahui. Pengalaman silverters menawarkan ide ceritanya kepada producer film. Adalah cara termudah menjelaskan tentang passion. Sementara bagi saya sendiri—proses yang dilakukan oleh pemeran Rambo ini—merupakan contoh nyata menjual dirinya, bukan barangnya. 

Selain kisah Silverter, saya juga sering mengibaratkan dengan supermarket dan pasar swalayan. Mengapa, apa saja barang yang ditawarkan di sana pasti laku? Meskipun ada juga yang tidak laris. Tetapi, ada saja pembelinya. 

Menurut saya, itu karena, pembeli mempercayai supermarket dan pasar swalayan tersebut. Meski hal ini tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh pelanggan. Dan seluruh supermarket. Namun, umumnya seperti itu.

Lantas, bagaimanakah akhir dari regulasi milist dan point statemen diskusinya? Saya tidak mengikuti sampai habis. Yang jelas, setiap tempat ada aturannya. Jangankan bermilist. Menuju kamar mandi umum saja, ada aturannya. Sementara ada pelanggar regulasinya, itu sudah menjadi bagian kehidupan.

Ciganjur, Selasa 17 Maret 2012
Bagikan