Saat menjual sebenarnya kita bukan sedang menjual
barang yang kita dagangkan. Melainkan, kita sedang menjual diri kita.
#Mario Teguh
Iklan
di milist
Dua minggu
ini, saat saya menulis catatan ini. Di dua milist yang saya ikuti, sedang
alotnya membahas tentang aturan beriklan di milist. Kedua milist yang saya
ikuti ini, berhubungan dengan pengembangan diri. Milist pertama tempat
berkumpul, berwacana, berdiskusi dan berbagi inspirasi, para trainers di Indonesia.
Dan milist yang satunya lagi, tempat berbagi cerita para Manager Indonesia.
Entah sebuah
kebetulan atau berpapasan saja. Dua ruang maya ini sedang sengit berdiskusi
tentang iklan-iklan yang beredar di rumah (baca; inbox) masing-masing. Wacananya
mengandung pro dan kontra. Seperti pro kontra kenaikan BBM. Ada anggota yang
setuju, diikuti beberapa syarat seperti keputusan UU BBM kemarin di DPR.
Malahan, ada juga secara terang-terangan merasa keberatan, karena banyaknya
penawaran mengisi inbox mereka.
Dan yang
menarik, pertanyaan seorang moderator di milist manager yang saya ikuti. “Seberapa efektifkah beriklan di milist?”.
Bermacam ragam argumen bersahutan. Ada yang menyampaikan tidak efektif, karena
bila ada penawaran masuk dia langsung mendelete, tanpa membaca isi penawaran
tersebut. Ada juga yang berkomentar, hanya sebagai akses eksistensi saja.
Jawaban ini, pasti berasal dari kubu pengiklan.
Sementara
saya sendiri meyakini, bahwa beriklan di milist sangat-sangat efektif. Cuma,
teragantung siapa yang mengiklankannya. Sebab, saya mengamati. Ada seorang Coach
yang cukup dikenal pada komunitas milist tersebut. Dia mengirimkan informasi
pelatihannya—jarak cuma 3 hari—sebelum pelaksanaan. Walhasil, kursinya penuh
semua. Menariknya lagi, isi pemberitahuan beliau, hanya informasi tentang,
judul, tempat, waktu, investasi dan no kontak. Itu saja.
Artinya,
sosok pengiklan, sangat menentukan keefektifan jualannya. Ini juga menandakan,
nilai yang melekat pada seorang penawar pada milist—merupakan faktor utama
keberhasilan sebuah iklan.
Mario Teguh golden ways
Serupa
penjelasan pak Mario teguh pada program beliau, Mario Teguh Goldens Ways di Metro TV. Saya lupa persisnya tema pada
hari itu. Akan tetapi, Pak Mario mengingatkan kepada pemirsa di studio dan di
mana pun berada. Bahwa, “Saat menjual
sebenarnya kita bukan sedang menjual barang yang kita dagangkan. Melainkan,
kita sedang menjual diri kita”.
Kemudian Pak
Mario menambahkan. “Sebab, pembeli itu
memutuskan untuk rela menyerahkan uangnya demi suatu jasa atau
barang—sebenarnya bukan karena jasa atau barang tersebut—akan tetapi, lebih
karena sosok penjualnya”.
Lalu
melanjutkan, “Itu sebabnya, mengapa bila
ada layanan komersial masyarakat di TV, pasti melibatkan para artis yang telah
ada ikatan emosionalnya dengan pemirsa, sebagai bintang iklannya”. Ungkap
pak Mario dengan suara beliau yang dalam serta gayanya santun.
Kemudian
beliau menutup dengan statemen, “Betapa
seringnya kita membeli barang yang tak kita butuhkan, tetapi karena yang
menawarkan adalah orang yang kita hormati, maka kita membelinya?”
Hypno-Selling
| Training Coaching & Counseling for Pru Power Vision |
Demikianpula
saat membawakan materi persuasive
communication (Hypno-Selling). Saya
sering menjelaskan kepada para peserta, agar meyakini dirinya 100%. Terutama,
saat menawarkan jasa atau barang kepada pelanggan. Seperti yakin kepada diri
sendiri.
Sebab,
seseorang yang yakin, akan memancarkan energi meyakinkan kepada pembeli. Dan ingat—sebelum
menjelaskan cara-cara meyakinkan pelanggan—saya selalu menggali, seberapa yakin
para peserta terhadap diri dan dagangannya (produk).
Kemudian
saya juga membagikan tips agar penawaran tidak berujung dengan penolakan.
Apakah Anda mau tau? Caranya sangat-sangat sederhana. Oleh karena itu, supaya
Anda benar-benar mengetahuinya, dekatkan diri Anda kepada saya.
Caranya
adalah, sebelum pembeli membeli jasa pelatihanku, saya memastikan pelanggan terlebih dahulu membeli saya
(bukan menjual diri ya). Seperti iklan axe “Kesan
pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”.
Dan memang,
tidak hanya itu membuat pelanggan tidak keberatan kepada saya, juga Anda tentunya.
Ada tehnik-tehnik lain yang butuh kita kuasai, agar proses penawaran berujung
dengan tanda tangan kontrak.
Ricky Balboa menjual dirinya
Supaya
menguatkan materi yang saya sampaikan di kelas, sudah terbiasa saya
meyakinkannya dengan cerita. Karena cerita metode penyampaian yang ramah otak,
dan jarang terjadi penolakan. Lazimnya saya mengisahkan Silverters saat menjual
naskah film Ricky Balboa yang dia tulis.
Sebagaimana
jamak kita ketahui. Pengalaman silverters menawarkan ide ceritanya kepada
producer film. Adalah cara termudah menjelaskan tentang passion. Sementara bagi saya sendiri—proses yang dilakukan oleh
pemeran Rambo ini—merupakan contoh nyata menjual dirinya, bukan barangnya.
Selain kisah
Silverter, saya juga sering mengibaratkan dengan supermarket dan pasar
swalayan. Mengapa, apa saja barang yang ditawarkan di sana pasti laku? Meskipun
ada juga yang tidak laris. Tetapi, ada saja pembelinya.
Menurut
saya, itu karena, pembeli mempercayai supermarket dan pasar swalayan tersebut.
Meski hal ini tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh pelanggan. Dan seluruh supermarket.
Namun, umumnya seperti itu.
Lantas,
bagaimanakah akhir dari regulasi milist dan point statemen diskusinya? Saya
tidak mengikuti sampai habis. Yang jelas, setiap tempat ada aturannya. Jangankan
bermilist. Menuju kamar mandi umum saja, ada aturannya. Sementara ada pelanggar
regulasinya, itu sudah menjadi bagian kehidupan.
Ciganjur,
Selasa 17 Maret 2012
Bagikan