#Pepatah
Nonton OVJ
Senin, jam
20.00 wib. Saya
duduk di depan laptop mengaudit kata dalam paragraf-paragraf catatan lepas di
ruang private. Sambil menelusuri susunan huruf dalam tiap kalimat. Tatanan kata
menuju makna saya inginkan. Dan ejaan penulisan sesuai keterbatasan pemahaman.
Saya menyaksikan program Overa Van Java di Trans 7.
OVJ kali ini mengangkat
tema “Pengantar Pos”. Sule
dan Andre mewayangkan tokoh petugas pengantar paket pos. Aziz dan Nunung, saya
belum tau peran mereka. Sementara Adi supono yang akrab dikenal Parto. Tetap
menjadi dalangnya. Dan bintang tamu malam ini. Pelantun lagu dangdut juga host
acara tertentu. Dorce gamalama.
Saya tidak mengetahui
peran Aziz gagap dan Nunung, karena, setelah iklan mulai seusai scene pertama, saya meninggalkan program
tersebut menuju ke kamar. Saya pindah tempat, karena butuh penyegaran kondisi
bagi pikiran dan tubuh.
Seperti Anda ketahui,
bahwa ciri khas orang-orang yang lebih dominan menggunakan kinestetiknya dalam
belajar. Mereka butuh aktifitas (gerakan). Setidaknya pindah tempat duduk.
Supaya fresh.
Terinspirasi ikat pinggang Sule
Di kamar, saya
melanjutkan kembali kegiatan mengikat makna. Selepas mengaudit catatan “3 Halilintar Menyambar Wajahku”. Saya
memulai mengukir tulisan baru. Tema nya seperti Anda baca pembukaan note ini.
“Ikat Pinggang Dari Tali Rapia”.
Ide ini terinspirasi
setelah menyaksikan scene pertama
OVJ. Lebih tepatnya, pikiran saya menerawang ke masa lalu. Terjadi proses trance deliversational search. Mengingat
kejadian serupa akibat melihat, mendengar, mencium, atau merasakan hal tertentu.
Saat sule masuk ke TKP.
Sule mengenakan kostum
baju berwarna biru AURI. Celana panjang kain bahan berwarna cokelat kehitaman.
Di tengah badannya, ada tali rapia berwarna hijau stabilo—mirip warna hijau
jaket Polantas yang sering kita ketemu di jalan raya—sebagai penguat celana.
Itu dia jadikan sebagai tali ikat pinggangnya.
Tidak seperti biasanya para
lelaki dan wanita mengenakan ikat pinggang dari bahan kulit, atau bahan tertentu.
Melihat ikat pinggang
sule ini. Saya terbayang pengalaman pribadi, sekitar delapan tahun silam.
Tepatnya hari selasa, 28 Desember 2004. Dua hari setelah peristiwa besar nan
bersejarah bagi warga Aceh.
Yaitu bencana alam air
laut meluluhlantakkan bangunan, pohon dan apapun yang dia lalui. Itu terjadi
akibat patahan lempengan karena pergeseran di bawah dasar bumi. Peristiwa ini
disebut badai tsunami.
Dua hari setelah tsunami
Ceritanya, dua hari
setelah tsunami berlalu. Seluruh warga desa yang selamat, hijrah meninggalkan
bukit tempat pergunungan dataran kami menyelamatkan diri. Mengingat, persediaan
makanan tidak ada satupun terselamatkan.
Besar harapan dalam diri
saya, mungkin juga warga lainnya. Bahwa ini hanya terjadi di kampung saya. Sebab,
desa saya sangat dekat dengan laut. Tidak sampai 1 km dari belakang rumah,
sudah laut lepas.
Namun, setelah kami tiba
di pusat kecamatan dengan berjalan menelusuri kaki pergunungan. Rupanya, air
laut juga menyapu daerah tersebut. Meski seperti itu, kami tetap mendapatkan
wilayah persinggahan yang tidak terjamah oleh tsunami. Desa Lampenerut,
kecamatan Darul Imarah kabupaten Aceh Besar.
Bersambung
Sampai di sini dulu ya,
besok kita lanjutkan kembali dengan cerita selama di barak darurat, dan
pertemuan dengan pak Bukhari. Beliau orang yang memberi bantuan berupa baju dan
celana pertama sekali setelah tsunami.
Tidak hanya itu, beliau
juga memberi makan, dan saya bisa bersih-bersih (mandi).
Bagikan