Senin, 25 Juni 2012

Ikat Pinggang Tali Rapia 1


Tidak ada rotan. Akarpun jadi.

#Pepatah

Nonton OVJ

Senin, jam 20.00 wib. Saya duduk di depan laptop mengaudit kata dalam paragraf-paragraf catatan lepas di ruang private. Sambil menelusuri susunan huruf dalam tiap kalimat. Tatanan kata menuju makna saya inginkan. Dan ejaan penulisan sesuai keterbatasan pemahaman. Saya menyaksikan program Overa Van Java di Trans 7.

OVJ kali ini mengangkat tema “Pengantar Pos”. Sule dan Andre mewayangkan tokoh petugas pengantar paket pos. Aziz dan Nunung, saya belum tau peran mereka. Sementara Adi supono yang akrab dikenal Parto. Tetap menjadi dalangnya. Dan bintang tamu malam ini. Pelantun lagu dangdut juga host acara tertentu. Dorce gamalama.

Saya tidak mengetahui peran Aziz gagap dan Nunung, karena, setelah iklan mulai seusai scene pertama, saya meninggalkan program tersebut menuju ke kamar. Saya pindah tempat, karena butuh penyegaran kondisi bagi pikiran dan tubuh. 

Seperti Anda ketahui, bahwa ciri khas orang-orang yang lebih dominan menggunakan kinestetiknya dalam belajar. Mereka butuh aktifitas (gerakan). Setidaknya pindah tempat duduk. Supaya fresh.

Terinspirasi ikat pinggang Sule

Di kamar, saya melanjutkan kembali kegiatan mengikat makna. Selepas mengaudit catatan “3 Halilintar Menyambar Wajahku”. Saya memulai mengukir tulisan baru. Tema nya seperti Anda baca pembukaan note ini. “Ikat Pinggang Dari Tali Rapia”. 

Ide ini terinspirasi setelah menyaksikan scene pertama OVJ. Lebih tepatnya, pikiran saya menerawang ke masa lalu. Terjadi proses trance deliversational search. Mengingat kejadian serupa akibat melihat, mendengar, mencium, atau merasakan hal tertentu. Saat sule masuk ke TKP. 

Sule mengenakan kostum baju berwarna biru AURI. Celana panjang kain bahan berwarna cokelat kehitaman. Di tengah badannya, ada tali rapia berwarna hijau stabilo—mirip warna hijau jaket Polantas yang sering kita ketemu di jalan raya—sebagai penguat celana. Itu dia jadikan sebagai tali ikat pinggangnya. 

Tidak seperti biasanya para lelaki dan wanita mengenakan ikat pinggang dari bahan kulit, atau bahan tertentu.  

Melihat ikat pinggang sule ini. Saya terbayang pengalaman pribadi, sekitar delapan tahun silam. Tepatnya hari selasa, 28 Desember 2004. Dua hari setelah peristiwa besar nan bersejarah bagi warga Aceh.

Yaitu bencana alam air laut meluluhlantakkan bangunan, pohon dan apapun yang dia lalui. Itu terjadi akibat patahan lempengan karena pergeseran di bawah dasar bumi. Peristiwa ini disebut badai tsunami.

Dua hari setelah tsunami

Ceritanya, dua hari setelah tsunami berlalu. Seluruh warga desa yang selamat, hijrah meninggalkan bukit tempat pergunungan dataran kami menyelamatkan diri. Mengingat, persediaan makanan tidak ada satupun terselamatkan. 

Besar harapan dalam diri saya, mungkin juga warga lainnya. Bahwa ini hanya terjadi di kampung saya. Sebab, desa saya sangat dekat dengan laut. Tidak sampai 1 km dari belakang rumah, sudah laut lepas.

Namun, setelah kami tiba di pusat kecamatan dengan berjalan menelusuri kaki pergunungan. Rupanya, air laut juga menyapu daerah tersebut. Meski seperti itu, kami tetap mendapatkan wilayah persinggahan yang tidak terjamah oleh tsunami. Desa Lampenerut, kecamatan Darul Imarah kabupaten Aceh Besar. 

Bersambung

Sampai di sini dulu ya, besok kita lanjutkan kembali dengan cerita selama di barak darurat, dan pertemuan dengan pak Bukhari. Beliau orang yang memberi bantuan berupa baju dan celana pertama sekali setelah tsunami.

Tidak hanya itu, beliau juga memberi makan, dan saya bisa bersih-bersih (mandi).
Bagikan