Sabtu, 16 Juni 2012

Jadi Bintang Tamu Prie GS Show @Sindo TV


Setelah Tapping di Studio 6 RCTI
“Semesta sangat bijak memposisikan sesuatu pada kepantasannya masing-masing. Oleh sebab itu, saya tidak perlu memaksakan diri supaya di anggap pantas”.

#NasehatDiri

Bintang tamu Kick Andy

Entah dari mana asalnya? Dalam kepala saya sempat terbayang, kalau saya menjadi bintang tamu di program Kick Andy show. Program penuh inspirasi—mengangkat tema perjuangan orang-orang yang tak terkenal sebelumnya—yang kemudian tiba-tiba menjadi perhatian publik. 

Kalau kata Ahmad dani juri Indonesian Idol untuk salah satu peserta “Kamu peserta yang tak dijagokan. Menjadi perhatian yang diharapkan untuk bertahan di arena ini”.

Sebut saja kisah pak Sugeng. Lelaki yang tidak muda lagi ini, berambut panjang. Kulit sawo matang. Berkumis. Badan tinggi. Suka menggenakan seragam militer. Dan kaki kanannya menggunakan kaki palsu. Beliau sudah tampil lebih dari dua kali bersama Kick Andy sebagai bintang tamu. 

Kick Andy heroes

Menurut pengakuannya. Dulu beliau dapat bekerja dengan santai. Dan kehidupannya biasa-biasa saja. Akan tetapi, semenjak tampil di Kick Andy, banyak wartawan datang ke rumahnya. Ratusan sms masuk ke HP-nya. Sampai membuat Sugeng tidak sanggup membalas satu persatu. 

Terkadang, bukan hanya wartawan. Tetapi, masyarakat yang mengetahui tempat tinggalnya, sering bersilaturahim ingin bertemu dengan sosok inspirational ini—salah satu peraih Kick Andy Heroes—untuk foto bersama.

Sementara itu, saya menduga-duga. Alasan saya berminat duduk di sofa Kick Andy show, hanya karena ingin terkenal saja. Ego ingin dianggap sosok inspirasi mengerogoti pikiran saya. Akan tetapi, kalau saya pikir-pikir, apa inspirasi yang dapat saya ceritakan? Hampir tidak ada. Kecuali memodalkan diri dengan “Saya survivor tsunami Aceh 2004”.

Tersadarkan

Ego ingin terkenal ini baru meredam, setelah saya membaca nukilan Prie GS sang penggoda indonesia di buku beliau The Great Spirit. Ada kata-kata beliau di buku tersebut, menginspirasiku. Sampai saya mengutip untuk menjadi status facebook. Dan kalimat ini, mengubah 100% keinginan saya untuk tampil di TV. Apa goresan tangannya?

Ketokohan tak lebih dari kesetiaan terhadap amanat hidup. Dan para tokoh adalah orang-orang yang lebih suka sibuk menuruti kata hati, ketimbang sibuk berstrategi dengan media supaya dianggap sebagai tokoh.

Prie Gs

Sungguh, kalimat ini sangat menohok saya. Sehingga, spontan memaksa saya mengasumsikan diri—bahwa, kepantasan itu tidak pernah salah tempat—maksudnya, bila memang haknya, pasti akan menginspirasi diri dan orang lain.

Menjadi bintang tamu Prie GS show

Foto bersama
Benar saja, 20 Maret pukul 15.00. Saya mendapat telf dari team kreatif program Prie GS show. Namanya mbak Yudit. Beliau mengundang saya untuk menghadiri tapping acara PrieGS show, pada hari sabtu tanggal 24 maret 2012. Tema yang akan diwacanakan “Sedih dan Bahagia”. Bukan hanya saya di sana yang mendapat undangan. Dua bintang tamu lainnya turut hadir. Ginanjar dan seorang praktisi hypnotherapist.

Saya mencari tau, dari mana mbak Yudhit mengetahui no HP dan tentang diri saya. Rupanya, saya direkomendasikan oleh bapak Asep Haerulgani. Yang seharusnya, Pak Asep yang menjadi tamu. Akan tetapi, karena beliau berhalangan. Makan, pengajar Ericsonian dan ahli di bidang HRD ini, merekomendasikan beberapa orang. Termasuk saya di antaranya.

Dan kehadiran saya di sana, mengomentari fenomena yang terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana sewajarnya menyikapi setiap peristiwa itu? Tentunya, saya mengomentari sesuai dengan kompetensiku sebagai Mind-Therapist.

Semua ada tempatnya

Banyak manfaat saya peroleh menjadi bintang tamu di sana. Terutama, saya mempunyai kesempatan untuk berdialog lama dengan Pak Prie. Selain itu, bertemu dengan Rommy Rafael, Jarwo kuat, Mr Pingky dan kedua orang guru saya. Pak Jamil Azzaini dan sang provokasi indonesia, Pak Prasetya M brata. Beliau berdua tapping, setelah sesi saya berakhir. 

Pengalaman ini menyimpulkan pemahaman kepada saya. Semesta sangat bijak memposisikan sesuatu pada kepantasannya masing-masing. Semua ada tempatnya masing-masing. Oleh sebab itu, saya tidak perlu memaksakan diri supaya dianggap pantas. Kecuali mulai sekarang, melakukan kewajaran semata. 

Ciganjur, Sabtu, 12 mei 2012 Bagikan