![]() |
| Setelah Tapping di Studio 6 RCTI |
“Semesta sangat bijak memposisikan sesuatu pada kepantasannya
masing-masing. Oleh sebab itu, saya tidak perlu memaksakan diri supaya di
anggap pantas”.
#NasehatDiri
Bintang tamu Kick Andy
Entah dari mana asalnya? Dalam kepala saya sempat
terbayang, kalau saya menjadi bintang tamu di program Kick Andy show. Program
penuh inspirasi—mengangkat tema perjuangan orang-orang yang tak terkenal
sebelumnya—yang kemudian tiba-tiba menjadi perhatian publik.
Kalau kata Ahmad dani juri Indonesian Idol untuk salah
satu peserta “Kamu peserta yang tak
dijagokan. Menjadi perhatian yang diharapkan untuk bertahan di arena ini”.
Sebut saja kisah pak Sugeng. Lelaki yang tidak muda
lagi ini, berambut panjang. Kulit sawo matang. Berkumis. Badan tinggi. Suka
menggenakan seragam militer. Dan kaki kanannya menggunakan kaki palsu. Beliau
sudah tampil lebih dari dua kali bersama Kick Andy sebagai bintang tamu.
Kick Andy heroes
Menurut pengakuannya. Dulu beliau dapat bekerja dengan
santai. Dan kehidupannya biasa-biasa saja. Akan tetapi, semenjak tampil di Kick
Andy, banyak wartawan datang ke rumahnya. Ratusan sms masuk ke HP-nya. Sampai
membuat Sugeng tidak sanggup membalas satu persatu.
Terkadang, bukan hanya wartawan. Tetapi, masyarakat
yang mengetahui tempat tinggalnya, sering bersilaturahim ingin bertemu dengan
sosok inspirational ini—salah satu peraih Kick Andy Heroes—untuk foto bersama.
Sementara itu, saya menduga-duga. Alasan saya berminat
duduk di sofa Kick Andy show, hanya karena ingin terkenal saja. Ego ingin
dianggap sosok inspirasi mengerogoti pikiran saya. Akan tetapi, kalau saya
pikir-pikir, apa inspirasi yang dapat saya ceritakan? Hampir tidak ada. Kecuali
memodalkan diri dengan “Saya survivor
tsunami Aceh 2004”.
Tersadarkan
Ego ingin terkenal ini baru meredam, setelah saya
membaca nukilan Prie GS sang penggoda indonesia di buku beliau The Great Spirit. Ada kata-kata beliau
di buku tersebut, menginspirasiku. Sampai saya mengutip untuk menjadi status
facebook. Dan kalimat ini, mengubah 100% keinginan saya untuk tampil di TV. Apa
goresan tangannya?
Ketokohan
tak lebih dari kesetiaan terhadap amanat hidup. Dan para tokoh adalah
orang-orang yang lebih suka sibuk menuruti kata hati, ketimbang sibuk
berstrategi dengan media supaya dianggap sebagai tokoh.
Prie
Gs
Sungguh, kalimat ini sangat menohok saya. Sehingga,
spontan memaksa saya mengasumsikan diri—bahwa, kepantasan itu tidak pernah
salah tempat—maksudnya, bila memang haknya, pasti akan menginspirasi diri dan
orang lain.
Menjadi bintang tamu Prie GS show
![]() |
| Foto bersama |
Benar saja, 20 Maret pukul 15.00. Saya mendapat telf
dari team kreatif program Prie GS show. Namanya mbak Yudit. Beliau mengundang
saya untuk menghadiri tapping acara
PrieGS show, pada hari sabtu tanggal 24 maret 2012. Tema yang akan diwacanakan
“Sedih dan Bahagia”. Bukan hanya saya di sana yang mendapat undangan. Dua bintang
tamu lainnya turut hadir. Ginanjar dan seorang praktisi hypnotherapist.
Saya mencari tau, dari mana mbak Yudhit mengetahui no HP
dan tentang diri saya. Rupanya, saya direkomendasikan oleh bapak Asep
Haerulgani. Yang seharusnya, Pak Asep yang menjadi tamu. Akan tetapi, karena
beliau berhalangan. Makan, pengajar Ericsonian dan ahli di bidang HRD ini,
merekomendasikan beberapa orang. Termasuk saya di antaranya.
Dan kehadiran saya di sana, mengomentari fenomena yang
terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana sewajarnya menyikapi setiap
peristiwa itu? Tentunya, saya mengomentari sesuai dengan kompetensiku sebagai Mind-Therapist.
Semua ada tempatnya
Banyak manfaat saya peroleh menjadi bintang tamu di
sana. Terutama, saya mempunyai kesempatan untuk berdialog lama dengan Pak Prie.
Selain itu, bertemu dengan Rommy Rafael, Jarwo kuat, Mr Pingky dan kedua orang
guru saya. Pak Jamil Azzaini dan sang provokasi indonesia, Pak Prasetya M
brata. Beliau berdua tapping, setelah
sesi saya berakhir.
Pengalaman ini menyimpulkan pemahaman kepada saya.
Semesta sangat bijak memposisikan sesuatu pada kepantasannya masing-masing. Semua
ada tempatnya masing-masing. Oleh sebab itu, saya tidak perlu memaksakan diri
supaya dianggap pantas. Kecuali mulai sekarang, melakukan kewajaran semata.

