Nah, akhirnya kita ketemu
lagi, ini merupakan cerita terakhir dari ikat pinggang dari tali rapia sesudah
tsunami. Bagi yang baru mampir, sila membaca cerita 1 dan 2 terlebih dahulu,
biar nyambung ya.
Menyiasati ikat pinggang
Nah, untuk menyiasati
celana yang lebar bisa memuat satu orang lagi itu. Maka saya melipat celana
tersebut seperti lipatan mengenakan sarung. Jadi, ukuran besar itu,
pertama-tama saya tarik ke depan. Kemudian saya ambil ruang lebar sisi kiri merapati
perut hingga ke sisi kanan. Setelah itu, sisi yang saya tarik ke depan, saya
lipatkan ke sisi kiri.
Terus, bagaimana supaya
celana itu tetap berada sesuai siasat saya? Dalam kamar mandi, saya melihat kiri
dan kanan, apa kira-kira bisa saya gunakan untuk mengikat pinggang saya.
Sayang, tidak satupun saya temukan. Namun, selama mata menerang seisi ruangan
itu, terbesit ide mencari tali.
Mengapa mesin kreatif
saya tidak mencetuskan ide ikat pinggang. Saya yakin, saat itu, pikiran bawah
sadarku, sangat-sangat sadar. Kalau saya baru saja melewati bencana besar yang
meninggalkan jejaknya. Berupa puing-puing kehancuran dan lumpur nya. Maka, saya
keluar kamar mandi sambil memegangi lipatan siasat saya.
Saya mengelilingi mesjid,
dan jalan halaman tempat yang akan saya jadikan tanah berisi rumput kecil dan
bebatuan sebagai alas untuk merebahkan punggung (baca; tidur). Setelah
mencari-cari sementara tangan kiri tetap dipanggang pada lipatan tadi. Akhirnya
ketemu juga. Saya sungguh bersyukur mendapat tali rapia depan sebuah kios dekat
mesjid.
Ikat pinggang tali rapia
Tali rapia itu,
meringankan beban ibu jari, telunjuk dan tengahku, memegangi lipatan celana
yang saya siasati. Sungguh, rasanya jari jemari mengucapkan terima kasih,
karena saya mengakhiri duka mereka. Dan yang paling bersyukur adalah saya.
Sebab, celana sedekah pak Bukhari, menenangkan batin saya menunaikan ibadah.
Celananya menutupi aurat dan bersih.
Selain itu, saya
bersyukur, karena tubuh saya tertutupi dengan celana bagus, dibandingkan celana
puntung seukuran lutut, hasil ngesot mendaki dan menuruni bukit-bukit terjal.
Jangan Anda tanya seperti apa bentuknya? Tetapi, jika Anda mau tau. Boleh
mencoba mengetes ukuran celana paling besar lalu melipatkannya di pinggang
Anda.
Oh ya, celana sedekah
itu, menemani saya hampir sebulan lebih. Setelah akhirnya saya menemukan celana
lain dari bantuan para dermawan. Bisa jadi itu pakaian hasil sedekah Anda. Saya
mengucapkan ribuan terima kasih.
Sementara celana hadiah
dari Pak Bukhari, saya serahkan lagi ke orang yang tepat. Yang saya anggap,
pinggangnya cocok. Karena saya jarang melihat celana berukuran besar pada
tumpukan pakaian bantuan.
Antara hopeless dengan hope to survive
Lalu, bagaimana nasib
tali rapia mengikat pada pinggang saya? Dia menemani hanya tujuh hari. Sebab,
seminggu sekali saya menukar nya dengan yang lain. Sampai saya menemukan celana
yang sesuai dengan pinggang saya.
Sekarang, setiap melihat
orang mengikat tali rapia di pinggangnya. Saya bukan melihat kelucuan pada
orang tersebut. Akan tetapi, film dalam pikiran saya, langsung memutar gambar
seperti cerita saya ketik di atas. Di mana saat itu yang terpikir antara hopeless
dan hope to survive.
Terima kasih ya Allah. Engkau
telah mengizinkan hamba menjalani ini semua. Hamba bersyukur setiap takdir
ketentuan-Mu.
Ciganjur, Senin, 21 Mei
2012
Bagikan