Rabu, 27 Juni 2012

Ikat Pinggang Tali Rapia 3 (Habis)


Nah, akhirnya kita ketemu lagi, ini merupakan cerita terakhir dari ikat pinggang dari tali rapia sesudah tsunami. Bagi yang baru mampir, sila membaca cerita 1 dan 2 terlebih dahulu, biar nyambung ya.

Menyiasati ikat pinggang

Nah, untuk menyiasati celana yang lebar bisa memuat satu orang lagi itu. Maka saya melipat celana tersebut seperti lipatan mengenakan sarung. Jadi, ukuran besar itu, pertama-tama saya tarik ke depan. Kemudian saya ambil ruang lebar sisi kiri merapati perut hingga ke sisi kanan. Setelah itu, sisi yang saya tarik ke depan, saya lipatkan ke sisi kiri. 

Terus, bagaimana supaya celana itu tetap berada sesuai siasat saya? Dalam kamar mandi, saya melihat kiri dan kanan, apa kira-kira bisa saya gunakan untuk mengikat pinggang saya. Sayang, tidak satupun saya temukan. Namun, selama mata menerang seisi ruangan itu, terbesit ide mencari tali.

Mengapa mesin kreatif saya tidak mencetuskan ide ikat pinggang. Saya yakin, saat itu, pikiran bawah sadarku, sangat-sangat sadar. Kalau saya baru saja melewati bencana besar yang meninggalkan jejaknya. Berupa puing-puing kehancuran dan lumpur nya. Maka, saya keluar kamar mandi sambil memegangi lipatan siasat saya.

Saya mengelilingi mesjid, dan jalan halaman tempat yang akan saya jadikan tanah berisi rumput kecil dan bebatuan sebagai alas untuk merebahkan punggung (baca; tidur). Setelah mencari-cari sementara tangan kiri tetap dipanggang pada lipatan tadi. Akhirnya ketemu juga. Saya sungguh bersyukur mendapat tali rapia depan sebuah kios dekat mesjid. 

Ikat pinggang tali rapia

Tali rapia itu, meringankan beban ibu jari, telunjuk dan tengahku, memegangi lipatan celana yang saya siasati. Sungguh, rasanya jari jemari mengucapkan terima kasih, karena saya mengakhiri duka mereka. Dan yang paling bersyukur adalah saya. Sebab, celana sedekah pak Bukhari, menenangkan batin saya menunaikan ibadah. Celananya menutupi aurat dan bersih. 

Selain itu, saya bersyukur, karena tubuh saya tertutupi dengan celana bagus, dibandingkan celana puntung seukuran lutut, hasil ngesot mendaki dan menuruni bukit-bukit terjal. Jangan Anda tanya seperti apa bentuknya? Tetapi, jika Anda mau tau. Boleh mencoba mengetes ukuran celana paling besar lalu melipatkannya di pinggang Anda.

Oh ya, celana sedekah itu, menemani saya hampir sebulan lebih. Setelah akhirnya saya menemukan celana lain dari bantuan para dermawan. Bisa jadi itu pakaian hasil sedekah Anda. Saya mengucapkan ribuan terima kasih. 

Sementara celana hadiah dari Pak Bukhari, saya serahkan lagi ke orang yang tepat. Yang saya anggap, pinggangnya cocok. Karena saya jarang melihat celana berukuran besar pada tumpukan pakaian bantuan.

Antara hopeless dengan hope to survive

Lalu, bagaimana nasib tali rapia mengikat pada pinggang saya? Dia menemani hanya tujuh hari. Sebab, seminggu sekali saya menukar nya dengan yang lain. Sampai saya menemukan celana yang sesuai dengan pinggang saya. 

Sekarang, setiap melihat orang mengikat tali rapia di pinggangnya. Saya bukan melihat kelucuan pada orang tersebut. Akan tetapi, film dalam pikiran saya, langsung memutar gambar seperti cerita saya ketik di atas. Di mana saat itu yang terpikir antara hopeless dan hope to survive

Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengizinkan hamba menjalani ini semua. Hamba bersyukur setiap takdir ketentuan-Mu. 

Ciganjur, Senin, 21 Mei 2012
Bagikan