“Kegiatan menulis sebenarnya
dapat pula digolongkan sebagai terapi yang mampu menetralisir, bahkan bisa
menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, hingga
ke taraf depresi sekalipun”.
Dr. James
Pennebeker
Great Hypnotist
Entah kapan
pertama sekali istilah galau merebah di Indonesia. Ia menyebar bak virus
mematikan bisa beredar lewat udara. Terlepas kapan pertama dia lahir dan
merasuki buah bibir orang-orang. Bahkan, iklan menjadi menarik karena
terjangkit virus ini. Sementara saya sendiri, mendengar “galau” lewat televisi.
Apalagi di
facebook, hampir setiap hari ada menyebutnya. Begitu hebatnya kata ini. Meski
saya tidak memahami makna kata ini sebelumnya. Tetapi, saya sering menyebutnya,
supaya suasana kelas training sedikit relaks. Terkadang, juga agar dianggap gaul.
Sebenarnya
yang hebat, bukanlah kata itu sendiri. Justru, penyebar yang membuat pendengar
itulah lebih hebat. Karena, dia mampu menanamkan sebuah pesan, langsung tertancap
di bawah sadar pendengarnya. Proses memasukkan pesan ini, tak ubahnya seperti penghipnotist
handal. Menghipnosis dalam kondisi terjaga tanpa tidur, tetapi pesannya
tersampaikan dengan baik. Bahkan diingat selamanya.
Bila
demikian, mulai sekarang kita harus mewaspadai penghipnosis handal yang menetap
hampir di seluruh rumah penduduk Indonesia raya ini. Anda tentu faham maksud
saya kan? Itu lho, televisi.
Kedahsayatan menghipnosisnya, mengalahkan hipnotist manapun. Sekalipun Rommy
Rafael. Karena, dia mampu melenakan kita. Siang dan malam. Benar kan?
Menelusuri kata galau
Sementara
itu, mari kita kembali dengan hikayat galau. Agar maksud dari tema catatan ini,
ramah dalam tatanan pengertian Anda. Saya mencari padanan katanya di internet,
supaya mendapat pengungkapan dengan bahasa lebih membumi. Di sana saya
dapatkan, galau sejajar dengan khawatir, bimbang, gelisah, panik, bingung,
cemas dan pikiran tidak karuan.
Nah,
kira-kira, pada minggu pertama bulan April 2012. Pikiran saya agak tidak
karuan. Dampaknya, emosi saya pun juga tidak stabil. Saya lupa persisnya, apa kejadiannya
saat itu? Namun, rasa-rasanya, seperti bingung harus melakukan apa. Dan, serba
salah jika bertindak. Begitulah yang saya alami.
Lazimnya,
bila pikiran timbul tenggelam yang tak mampu saya kontrol muncul. Maka, saya
segera duduk bersila dan memfokuskan diri saya hanya pada nafas masuk dan
keluar. Menyadari setiap percikan-percikan gambar berseliweran tak jelas
judulnya. Serta, menikmati proses yang sedang saya alami.
Menulis dapat mengatasi galau
Akan tetapi,
pada 4 April yang lalu. Saya menempuh langkah berbeda. Saya mau mengamalkan
hasil penelitian para pakar—yang intinya—menulis bisa menenangkan jiwa. Menulis
dapat mengatasi permasalahan pikiran. Seperti penelitian Seorang ahli bahasa, Dr. Stephen D. Krashen,
dalam hasil risetnya yang termuat dalam buku “The Power of Reading”.
“Menulis
dapat membantu kita memecahkan masalah yang membelenggu pikiran kita. Karena
dengan menulis, kita akan mampu mengekspresikan apa saja yang hendak kita
tuangkan, yang barangkali selama ini telah lama terpendam”.
Selain itu, Dr. James Pennebeker, guru
besar psikologi University of Texas, Austin, Amerika Serikat dalam “Journal of Consulting and Clinical
Psychology” edisi April 1998, menyebutkan.
“Orang-orang
yang memiliki kegiatan menulis, pada umumnya memiliki kondisi mental lebih
sehat daripada mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Dengan mental
sehat hal itu tentunya akan memberi
stimulan yang positif pada tubuh kita secara fisik”.
Menulis dapat mengatasi depresi
James menambahkan, “Kegiatan
menulis sebenarnya dapat pula digolongkan sebagai terapi yang mampu
menetralisir, bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, hingga ke taraf depresi sekalipun”.
Seperti telah dibuktikan dalam
penelitiannya di Fakultas Psikologi Universitas Southern Methodist, orang yang
mengalami suatu penyakit mental akibat masalah sosial atau mungkin trauma
akibat peristiwa yang dialaminya di masa lalu, akan menjadi merasa lebih sehat.
Secara ilmiah, di mana orang-orang yang
diteliti, lalu diuji sampel darahnya, baik sebelum mereka melakukan kegiatan
penulisan, maupun sesudahnya.
Naskah yang mereka tulis adalah curahan hati mereka terhadap
peristiwa atau trauma social yang pernah dialaminya.
Hasilnya, terdapat peningkatan sel
darah putih pada saat mereka sudah menuliskan apa-apa yang menjadi curahan hati
mereka, ketimbang sebelum mereka menulis.
Ini yang saya lakukan
Lalu, saya
segera menyalakan laptop, dan membuka new
document. Langsung saja, tanpa memikirkan apa yang harus saya tulis? Saya
mengetik dan mengetik saja. Saya tidak tau persisnya apa yang mau saya uraikan.
Namun, saya hanya mengikuti emosi yang bergejolak di dalam diri saya, akibat
kegalauan tadi.
Luar
biasanya, setelah saya menulis mencurahkan apa yang saya rasakan, sebanyak dua
paragraf. Ya. Dua paragraf, bukan halaman. Tiba-tiba saja, pikiran galau
perlahan-lahan mulai menghilang. Perasaan saya pun menjadi tenang. Bahkan,
menariknya, saya menghasilkan sebuah tulisan saat itu.
Sungguh
menarikkan? Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada Anda, bila sedang galau, segera menulis perasaan Anda di atas
selembar kertas, atau pada gadget Anda. Laptop juga bisa. Mudahan-mudahan
kegalauan Anda segera hilang. Seperti yang sudah saya praktekkan.
Ciganjur,
Minggu, 29 April 2012
Ayo Silaturahim, follow @mind_therapist
Bagikan
