Jumat, 15 Juni 2012

Ini Dia Tips Agar Menulis Menjadi Mudah


Menjadi diri sendiri bukanlah tidak menerima pendapat orang lain. Tetapi, berpegang teguh pada prinsip. Yaitu sesuai kehendak Ilahi dan semesta.

#NasehatDiri

Pertanyaan klise

Acap kali setiap bertemu dengan teman-teman yang mau menulis catatan harian, mereka bertanya kepada saya “Mad, bagaimana caranya agar menulis menjadi gampang?”. Kerapnya saya berusaha menjawab tanpa bertele-tele dan langsung bisa difahami. Maka saya mengargumenkan pengalaman pribadi kepada mereka “menulislah”. Hanya itu.

Jawaban itu bukan hanya saya yang berpendapat demikian. Namun, hampir beberapa penulis yang saya kenal. Rata-rata mengintruksikan senada—menulis saja. Gak ada ini atau itu. Apalagi lagi ada syarat-syarat tertentu. Tak ubahnya, kalau lapar makan tanpa bertemakan teori. Maka, menulis juga demikian. Meski seperti itu, tetap saja. Menulis menjadi hal, yang konon katanya, mudah mengucap tapi sulit mengamalkan.

Saya memaklumi apa yang terjadi kepada sipenanya. Barangkali ini lantaran rutinnya bergelut dengan keriwetan hidup. Maka, hal-hal remeh temehpun, kalau bisa menjadi bumerang. Dan sebentar lagi, saya akan berbagi cara, agar menulis menjadi gampang. Ramuan sederhana ini, sangat cocok bagi saya. Nyatanya, gara-gara racikan pola pikir ini, membuat saya bisa terus menulis. Contohnya, seperti karya yang sedang Anda baca saat ini.

Abaikan anjuran penulis

Sebelum saya melanjutkan lebih pendek dan sempit. Tunggu sebentar, mungkin pikiran aneh di kepala Anda bertanya. “mengapa pendek dan sempit?”. Saya sebut pendek, karena metode ini memang sederhana. Dan sempit, sebab tidak lebar. Selain itu biar keluar dari pakem pembicaraan orang, panjang dan lebar. Itu saja alasannya. 

Kembali ke tema. Saya ingin mengutarakan kepada Anda. Bahwa formula ini saya gunakan dalam rumah mengikat makna sehari-hari, pada sudut ruang “menulis bebas”. Di Negeri pemerintahan Obama, orang-orang di sana menamainya—Free Writing. Oleh karena itu, patut Anda sadari. Yang namanya bebas, ya tidak ada aturan. Sehingga, tips ini saya beri judul “Abaikan Anjuran Para Penulis”.

Pengkritis ulung

Entah angin apa menghembus? Saya sangat yakin—bila boleh persentasenya melebihi 100%, maka saya mau meyakini melebihi itu—bahwa sebelum menulis, Anda pasti pernah mencari-cari cara, bagaimana menulis yang baik dan benar, iyakan? Bisa jadi, Anda pernah mengetik di ruang pencarian google, “apa tips menulis artikel?”. Atau pandangan-pandangan bijak dari para pengikat kata (baca; penulis) senior. Apakah demikian?

Beberapa hari yang sudah lepas. Saya berusaha memahami skill menulis kepada orang-orang yang saya anggap, saya pantas mengikhlaskan diri mendengar nasehat mereka tentang penulisan. Dan Anda tau apa dampaknya bagi saya? Saya menjadi pengkritis ulung, setiap selesai mencangkul haruf yang berlubang kata-kata dan kalimat pada lahan keyboard. 

Satu kalimat saya tulis. Kemudian dua kalimat. Hingga akhirnya menumpuk dalam satu paragraf. Tiba-tiba, ide-ide cemerlang dari pandangan senior, membuat jari kelinking saya gatal-gatal bila tidak meletakkan di atas tombol backspace. Kepala saya di demo oleh suara-suara pandangan model penulisan yang bagus dan baik, menurut orang-orang tertentu.

Bebas tanpa aturan

Seperti apa contohnya, ini dia arahan yang pernah saya baca. 

·      Hindari menulis kata-kata asing. “Dari pada menulis attitude, mending mengetik perilaku, akhlak atau budi pekerti

·         Hindari menulis model anak sd bercerita. “Minggu lalu saya berangkat ke rumah paman” sebagai pembuka catatan. 

·              Menulislah dari tengah. Yang satu ini saya tidak tau seperti apa contohnya. Tetapi sang penggagas mengkontekskan pada inti informasi. 

Mungkin masih banyak lagi arahan yang pernah Anda baca. Atau mungkin Anda dengar sendiri dalam dunia seminar dan pelatihan. Akan tetapi, saya sangat menghargai niat baik saran-saran di atas. Pada dasarnya, tujuan mereka, supaya tulisan Anda dan saya menjadi indah dan bagus sesuai mata para pembaca.

Lantas, apakah menulis bebas tidak ada aturannya? Ini harus Anda waspadai. Menulis bebas bukan berarti tidak ada aturannya. Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam mengamalkan mencatat bebas. Aturannya adalah tidak ada aturan. 

Apakah Anda mau menulis seperti anak SD atau mahasiswa? Mengikut gaya para doktoral, profesor, atau mahasiswa baru. Entah Anda menulis langsung ke pokok gagasan. Atau berputar-putar tak tentu tujuan terlebih dahulu. 

Ini yang penting

Apalagi, isi rangkaian kata-kata Anda pilih, tidak sesuai dengan format gramtikal bahasa indonesia yang telah disempurnakan. Abaikan itu semua. Sebab, hal terpenting adalah, Anda menulis. Titik. Bukankah tujuan utama Anda menatap layar berukuran 8 – 16 inc, karena Anda mau mengalirkan ide dalam pikiran Anda berbungkus tulisan?

Oh ya, rasanya patut saya meberitahu kepada Anda. Mengapa saya tidak menganjurkan Anda mendengar nasehat para penulis senior, agar menulis menjadi gampang? Karena, mereka-mereka yang kita anggap sebagai penulis yang mengalir seperti air di keran itu, mereka sudah terbiasa memadu kasih dengan tulis menulis. Sehingga, mereka bisa memberikan pandangnya kepada kita. 

Namun, dulunya, mereka sama seperti kita lho. Gak tau harus memulai dari mana? Seperti apa tulisan yang bagus dan renyah dibaca? Gaya menutur mereka yang asli wajahnya seperti apa? Mereka tidak tau. Tapi, yang membedakan mereka hari ini dengan kita adalah—meski  seperti itu—mereka tetap menulis. 

Artinya, bila Anda mau menulis segambang melihat. Jika Anda ingin menulis semudah bernafas. Maka sewajarnya kita menulis sekarang. Iyakan? 

Hei.. tunggu apa lagi? Mau mengomentari “tapi kan”. Ayolah teman. Ayo buka file baru di dokumen microsoft word Anda sekarang. Ketik saja huruf tidak beraturan sampai memenuhi seisi halaman. Maka Anda sudah berhasil menulis hari ini. 

Oh ya, terakhir ingin saya ingatkan. Jangan percaya ide ini, sebelum Anda mempraktekkannya sekarang.

Ciganjur, 27 April 2012 

Note: “Mereka para senior” yang saya maksud di sini—tolak ukur saya
1.   Terbiasa menulis artikel di blog, manjalah atau mendia masa.
2.   Telah menulis buku.
3.   Sering memberi saran-saran menulis, baik di ruang maya atau kelas pelatihan.
Bagikan