Menjadi diri sendiri bukanlah tidak menerima pendapat
orang lain. Tetapi, berpegang teguh pada prinsip. Yaitu sesuai kehendak Ilahi
dan semesta.
#NasehatDiri
Pertanyaan klise
Acap
kali setiap bertemu dengan teman-teman yang mau menulis catatan harian, mereka
bertanya kepada saya “Mad, bagaimana caranya agar menulis menjadi gampang?”.
Kerapnya saya berusaha menjawab tanpa bertele-tele dan langsung bisa difahami.
Maka saya mengargumenkan pengalaman pribadi kepada mereka “menulislah”. Hanya
itu.
Jawaban
itu bukan hanya saya yang berpendapat demikian. Namun, hampir beberapa penulis
yang saya kenal. Rata-rata mengintruksikan senada—menulis saja. Gak ada ini
atau itu. Apalagi lagi ada syarat-syarat tertentu. Tak ubahnya, kalau lapar makan
tanpa bertemakan teori. Maka, menulis juga demikian. Meski seperti itu, tetap
saja. Menulis menjadi hal, yang konon katanya, mudah mengucap tapi sulit mengamalkan.
Saya
memaklumi apa yang terjadi kepada sipenanya. Barangkali ini lantaran rutinnya
bergelut dengan keriwetan hidup. Maka, hal-hal remeh temehpun, kalau bisa
menjadi bumerang. Dan sebentar lagi, saya akan berbagi cara, agar menulis
menjadi gampang. Ramuan sederhana ini, sangat cocok bagi saya. Nyatanya,
gara-gara racikan pola pikir ini, membuat saya bisa terus menulis. Contohnya,
seperti karya yang sedang Anda baca saat ini.
Abaikan anjuran penulis
Sebelum
saya melanjutkan lebih pendek dan sempit. Tunggu sebentar, mungkin pikiran aneh
di kepala Anda bertanya. “mengapa pendek dan sempit?”. Saya sebut pendek,
karena metode ini memang sederhana. Dan sempit, sebab tidak lebar. Selain itu
biar keluar dari pakem pembicaraan orang, panjang dan lebar. Itu saja alasannya.
Kembali
ke tema. Saya ingin mengutarakan kepada Anda. Bahwa formula ini saya gunakan
dalam rumah mengikat makna sehari-hari, pada sudut ruang “menulis bebas”. Di
Negeri pemerintahan Obama, orang-orang di sana menamainya—Free Writing. Oleh karena itu, patut Anda sadari. Yang namanya
bebas, ya tidak ada aturan. Sehingga, tips ini saya beri judul “Abaikan Anjuran Para Penulis”.
Pengkritis ulung
Entah
angin apa menghembus? Saya sangat yakin—bila boleh persentasenya melebihi 100%,
maka saya mau meyakini melebihi itu—bahwa sebelum menulis, Anda pasti pernah
mencari-cari cara, bagaimana menulis yang baik dan benar, iyakan? Bisa jadi, Anda
pernah mengetik di ruang pencarian google, “apa
tips menulis artikel?”. Atau pandangan-pandangan bijak dari para pengikat
kata (baca; penulis) senior. Apakah demikian?
Beberapa
hari yang sudah lepas. Saya berusaha memahami skill menulis kepada orang-orang
yang saya anggap, saya pantas mengikhlaskan diri mendengar nasehat mereka
tentang penulisan. Dan Anda tau apa dampaknya bagi saya? Saya menjadi
pengkritis ulung, setiap selesai mencangkul haruf yang berlubang kata-kata dan
kalimat pada lahan keyboard.
Satu
kalimat saya tulis. Kemudian dua kalimat. Hingga akhirnya menumpuk dalam satu
paragraf. Tiba-tiba, ide-ide cemerlang dari pandangan senior, membuat jari
kelinking saya gatal-gatal bila tidak meletakkan di atas tombol backspace. Kepala saya di demo oleh
suara-suara pandangan model penulisan yang bagus dan baik, menurut orang-orang
tertentu.
Bebas tanpa aturan
Seperti
apa contohnya, ini dia arahan yang pernah saya baca.
· Hindari menulis kata-kata asing. “Dari pada menulis attitude, mending mengetik perilaku, akhlak atau budi
pekerti”
·
Hindari menulis model anak sd bercerita. “Minggu lalu saya berangkat ke rumah paman”
sebagai pembuka catatan.
·
Menulislah dari tengah. Yang satu ini saya tidak tau
seperti apa contohnya. Tetapi sang penggagas mengkontekskan pada inti
informasi.
Mungkin
masih banyak lagi arahan yang pernah Anda baca. Atau mungkin Anda dengar
sendiri dalam dunia seminar dan pelatihan. Akan tetapi, saya sangat menghargai
niat baik saran-saran di atas. Pada dasarnya, tujuan mereka, supaya tulisan
Anda dan saya menjadi indah dan bagus sesuai mata para pembaca.
Lantas,
apakah menulis bebas tidak ada aturannya? Ini harus Anda waspadai. Menulis
bebas bukan berarti tidak ada aturannya. Berdasarkan pengalaman saya sendiri
dalam mengamalkan mencatat bebas. Aturannya adalah tidak ada aturan.
Apakah
Anda mau menulis seperti anak SD atau mahasiswa? Mengikut gaya para doktoral,
profesor, atau mahasiswa baru. Entah Anda menulis langsung ke pokok gagasan.
Atau berputar-putar tak tentu tujuan terlebih dahulu.
Ini yang penting
Apalagi,
isi rangkaian kata-kata Anda pilih, tidak sesuai dengan format gramtikal bahasa
indonesia yang telah disempurnakan. Abaikan itu semua. Sebab, hal terpenting adalah,
Anda menulis. Titik. Bukankah tujuan
utama Anda menatap layar berukuran 8 – 16 inc, karena Anda mau mengalirkan ide
dalam pikiran Anda berbungkus tulisan?
Oh
ya, rasanya patut saya meberitahu kepada Anda. Mengapa saya tidak menganjurkan
Anda mendengar nasehat para penulis senior, agar menulis menjadi gampang?
Karena, mereka-mereka yang kita anggap sebagai penulis yang mengalir seperti
air di keran itu, mereka sudah terbiasa memadu kasih dengan tulis menulis.
Sehingga, mereka bisa memberikan pandangnya kepada kita.
Namun,
dulunya, mereka sama seperti kita lho. Gak tau harus memulai dari mana? Seperti
apa tulisan yang bagus dan renyah dibaca? Gaya menutur mereka yang asli
wajahnya seperti apa? Mereka tidak tau. Tapi, yang membedakan mereka hari ini
dengan kita adalah—meski seperti itu—mereka
tetap menulis.
Artinya,
bila Anda mau menulis segambang melihat. Jika Anda ingin menulis semudah
bernafas. Maka sewajarnya kita menulis sekarang. Iyakan?
Hei..
tunggu apa lagi? Mau mengomentari “tapi
kan”. Ayolah teman. Ayo buka file baru di dokumen microsoft word Anda sekarang. Ketik saja huruf tidak beraturan
sampai memenuhi seisi halaman. Maka Anda sudah berhasil menulis hari ini.
Oh
ya, terakhir ingin saya ingatkan. Jangan percaya ide ini, sebelum Anda
mempraktekkannya sekarang.
Ciganjur,
27 April 2012
Note:
“Mereka para senior” yang saya maksud
di sini—tolak ukur saya
1.
Terbiasa menulis artikel di blog, manjalah atau mendia
masa.
2.
Telah menulis buku.
3.
Sering memberi saran-saran menulis, baik di ruang maya
atau kelas pelatihan.
Bagikan