Karena hari ini bagian kecil dari kehidupan saya. Maka
saya memutuskan untuk menikmatinya sebagai jatah hidup saja. Bukan dengan
gembira atau sebaliknya bersedih.
#NasehatDiri
Efek terlalu berlebihan
Norman
Vincent peale, pengarang buku fenomenal “You
can if you think you can”. Pengkhotbah agama ini bercerita dalam bukunya
tersebut. Suatu ketika beliau pernah mendapat undangan untuk menyampaikan
motivasi di depan ratusan orang, di Canada. Acara berlangsung sekitar jam 19.00
– 22.00 waktu setempat.
Malam
itu, beliau manggung bersama dengan partnernya yang lain. Seorang pembicara
motivasi juga, yang dihadirkan oleh panitia. Nah, sebelum acara dimulai.
Sebagaimana lazimnya, MC akan memperkenalkan kepada para hadirin sosok
pembicara yang akan memotivasi mereka.
Sosialisasi
sosok motivator oleh MC, merupakan tehnik membangun kredibilitas dalam public speaking. Namun, malam itu—Norman
menceritakan—sang MC terlalu over memberi janji. Bahkan terlalu
melebih-lebihkan sang pembicara.
Wal
hasil, karena MC terlalu tinggi menjanjikan, teman Norman mulai terlihat
ketegangan pada wajahnya. Butir-butiran peluh mulai menghiasi wajahnya.
Sesekali menarik nafas, sebelum tampil. Dan akhirnya tiba saatnya dia
berbicara. Begitu juga Norman selesai menyampaikan, apa yang biasa dia
ceritakan kepada audiens.
Namun,
sayangnya, para hadirin banyak menunjukkan wajah kekecewaan. Dan selesai acara,
Norman pulang semobil dengan partnernya. Saat dalam mobil temannya masih saja
terus merasakan ketidakpuasan diri. Tidak seperti biasa seminar-seminar dia
lalui. Hadirin measakan kegembiraan. Malahan ada yang minta foto bersama dan
mengucapkan “Terima kasih, materinya
sangat menginsprasi saya”.
Norman
melihat temannya yang tak bergairah itu—kemudian menyampaikan kepada temannya—“Apa yang telah kita lewati malam ini, hanya
bagian kecil dalam kehidupan. Hindari menyesali, apalagi mengisi seluruh
hidupmu dengan kesedihan. Nikmati saja, itulah kehidupan. Besok harapan masih cerah”.
Preview training
Sebelumnya,
saya mau tau pendapat Anda. Apa yang akan Anda lakukankan, bila berada di
posisi partner Norman Vincent peale? Apakah akan membiarkan kejadian itu
berlalu begitu saja, seperti layaknya Anda bernafas? Atau mengingatnya seumur
hidup, bahkan membuat Anda sulit tidur di malam itu?
Itulah
yang saya alami minggu yang lalu. Saya mendapat penawaran untuk mengisi previem
program pelatihan dari seorang teman. Dia bekerja di sebuah persuhaan bergerak
di bidang jasa keuangan. Dan sebagaimana lazimnya, sebelum preview berlangsung,
saya pasti memwancarai kebutuhan pelatihan pada perusahaan tersebut. Hal ini
saya lalukan, supaya program yang saya ajukan cocok dan sesuai. Termasuk,
mengajak trainer lain, bila materi yang diharapkan bukan pada kompetensi saya.
Dari
hasil TNA (training need analysis),
saya menyimpulkan—ada materi penting untuk disampaikan pada pelatihan
nanti—akan tetapi, saya belum kompeten menyampaikannya. Oleh sebab itu, saya
mengajak seorang teman, yang saya sadari memang sesuai dengan spesialisasinya.
Sampai
tiba waktu untuk preview. Saya menuju kantor shahabat saya di daerah sudirman.
Dan pada hari itu, saya meminta partner saya yang akan bicara untuk menjelaskan
manfaat program yang akan dilaksanakan di sana. Diapun memulai hingga satu jam
kemudian, sesuai waktu yang diberikan oleh perusahaan.
Tidak bisa tidur
Setelah
itu, selang 3 jam kemudian, selepas saya pulang dan sampai di rumah. Saya memohon
masukan dari teman yang mengundang, baik materi kami tawarkan atau profile
trainernya (saya dan partner). Apakah sesuai dengan mereka inginkan? Betapa
terkejutnya saya—teman saya mengajukan permohonan, “Mad, ada trainer lain tidak? Karena, cara partnermu mengajar, kurang
cocok untuk team yang di sini. Kalau materinya sih sudah sangat oke dan sesuai
kebutuhan”.
Mendapat
kabar seperti itu, saya merasa bersalah kepada diri. Emosi saya tidak stabil.
Perasaan takut tidak mendapat kesempatan pada event-event lain di perusahaan
tersebut pun, mengisi kepala saya. Hampir saja, gara-gara itu, saya tidak
berselera menikmati kasur empuk saya. Susah tidur.
Lalu,
saya duduk dengan posisi meditasi. Saya menelusuri gejolak emosi yang tak
stabil dalam diri saya. Mengapa saya merasa seperti ini? Apa yang membuat saya
tidak sedamai biasanya? Saya terus mencari dalam diri, hingga menemukan maksud
dari emosi terombang ambing ini. Rasanya seperti sedang berada dalam kapal di
tengah laut dan berombak besar.
Saya
melakukan meditasi selama 7 menit. Setelah merasa agak tenang, saya membuka
mata dan mengakhiri posisi duduk bersila. Dan saya duduk sesuka saya kembali.
Meskipun, proses tadi belum saya temukan, asbab dan maksud dari perasaan
bergejolak di dalam.
Kemudian,
saya mengambil buku, “Meditasi Cinta” karya Anthony De Mellow. Saya buka acak,
dan berhenti pada bab, “mengasihi sesama”. Saya membaca bab tersebut antar satu
paragraf ke paragraf yang lain. Sampai saya bertemu dengan penjelasan tentang kemelekatan. Dalam paragraf tersebut,
Anthony De Mellow menjelaskan, bagaimana kelekatan itu terjadi?
Bersambung
Sampai di sini dulu ya. Besok kita sambung ke cara menterapinya. So catat di agenda Anda.
Bagikan
