Minggu, 17 Juni 2012

Bagaimana Kemelekatan Lahir dan Cara Menterapinya?


Karena hari ini bagian kecil dari kehidupan saya. Maka saya memutuskan untuk menikmatinya sebagai jatah hidup saja. Bukan dengan gembira atau sebaliknya bersedih.

#NasehatDiri

Efek terlalu berlebihan

Norman Vincent peale, pengarang buku fenomenal “You can if you think you can”. Pengkhotbah agama ini bercerita dalam bukunya tersebut. Suatu ketika beliau pernah mendapat undangan untuk menyampaikan motivasi di depan ratusan orang, di Canada. Acara berlangsung sekitar jam 19.00 – 22.00 waktu setempat. 

Malam itu, beliau manggung bersama dengan partnernya yang lain. Seorang pembicara motivasi juga, yang dihadirkan oleh panitia. Nah, sebelum acara dimulai. Sebagaimana lazimnya, MC akan memperkenalkan kepada para hadirin sosok pembicara yang akan memotivasi mereka. 

Sosialisasi sosok motivator oleh MC, merupakan tehnik membangun kredibilitas dalam public speaking. Namun, malam itu—Norman menceritakan—sang MC terlalu over memberi janji. Bahkan terlalu melebih-lebihkan sang pembicara.

Wal hasil, karena MC terlalu tinggi menjanjikan, teman Norman mulai terlihat ketegangan pada wajahnya. Butir-butiran peluh mulai menghiasi wajahnya. Sesekali menarik nafas, sebelum tampil. Dan akhirnya tiba saatnya dia berbicara. Begitu juga Norman selesai menyampaikan, apa yang biasa dia ceritakan kepada audiens.

Namun, sayangnya, para hadirin banyak menunjukkan wajah kekecewaan. Dan selesai acara, Norman pulang semobil dengan partnernya. Saat dalam mobil temannya masih saja terus merasakan ketidakpuasan diri. Tidak seperti biasa seminar-seminar dia lalui. Hadirin measakan kegembiraan. Malahan ada yang minta foto bersama dan mengucapkan “Terima kasih, materinya sangat menginsprasi saya”.

Norman melihat temannya yang tak bergairah itu—kemudian menyampaikan kepada temannya—“Apa yang telah kita lewati malam ini, hanya bagian kecil dalam kehidupan. Hindari menyesali, apalagi mengisi seluruh hidupmu dengan kesedihan. Nikmati saja, itulah kehidupan. Besok harapan masih cerah”.

Preview training 

Sebelumnya, saya mau tau pendapat Anda. Apa yang akan Anda lakukankan, bila berada di posisi partner Norman Vincent peale? Apakah akan membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja, seperti layaknya Anda bernafas? Atau mengingatnya seumur hidup, bahkan membuat Anda sulit tidur di malam itu?

Itulah yang saya alami minggu yang lalu. Saya mendapat penawaran untuk mengisi previem program pelatihan dari seorang teman. Dia bekerja di sebuah persuhaan bergerak di bidang jasa keuangan. Dan sebagaimana lazimnya, sebelum preview berlangsung, saya pasti memwancarai kebutuhan pelatihan pada perusahaan tersebut. Hal ini saya lalukan, supaya program yang saya ajukan cocok dan sesuai. Termasuk, mengajak trainer lain, bila materi yang diharapkan bukan pada kompetensi saya.

Dari hasil TNA (training need analysis), saya menyimpulkan—ada materi penting untuk disampaikan pada pelatihan nanti—akan tetapi, saya belum kompeten menyampaikannya. Oleh sebab itu, saya mengajak seorang teman, yang saya sadari memang sesuai dengan spesialisasinya. 

Sampai tiba waktu untuk preview. Saya menuju kantor shahabat saya di daerah sudirman. Dan pada hari itu, saya meminta partner saya yang akan bicara untuk menjelaskan manfaat program yang akan dilaksanakan di sana. Diapun memulai hingga satu jam kemudian, sesuai waktu yang diberikan oleh perusahaan. 

Tidak bisa tidur

Setelah itu, selang 3 jam kemudian, selepas saya pulang dan sampai di rumah. Saya memohon masukan dari teman yang mengundang, baik materi kami tawarkan atau profile trainernya (saya dan partner). Apakah sesuai dengan mereka inginkan? Betapa terkejutnya saya—teman saya mengajukan permohonan, “Mad, ada trainer lain tidak? Karena, cara partnermu mengajar, kurang cocok untuk team yang di sini. Kalau materinya sih sudah sangat oke dan sesuai kebutuhan”.

Mendapat kabar seperti itu, saya merasa bersalah kepada diri. Emosi saya tidak stabil. Perasaan takut tidak mendapat kesempatan pada event-event lain di perusahaan tersebut pun, mengisi kepala saya. Hampir saja, gara-gara itu, saya tidak berselera menikmati kasur empuk saya. Susah tidur. 

Lalu, saya duduk dengan posisi meditasi. Saya menelusuri gejolak emosi yang tak stabil dalam diri saya. Mengapa saya merasa seperti ini? Apa yang membuat saya tidak sedamai biasanya? Saya terus mencari dalam diri, hingga menemukan maksud dari emosi terombang ambing ini. Rasanya seperti sedang berada dalam kapal di tengah laut dan berombak besar.

Saya melakukan meditasi selama 7 menit. Setelah merasa agak tenang, saya membuka mata dan mengakhiri posisi duduk bersila. Dan saya duduk sesuka saya kembali. Meskipun, proses tadi belum saya temukan, asbab dan maksud dari perasaan bergejolak di dalam.

Kemudian, saya mengambil buku, “Meditasi Cinta” karya Anthony De Mellow. Saya buka acak, dan berhenti pada bab, “mengasihi sesama”. Saya membaca bab tersebut antar satu paragraf ke paragraf yang lain. Sampai saya bertemu dengan penjelasan tentang kemelekatan. Dalam paragraf tersebut, Anthony De Mellow menjelaskan, bagaimana kelekatan itu terjadi?

Bersambung

Sampai di sini dulu ya. Besok kita sambung ke cara menterapinya. So catat di agenda Anda.
Bagikan