| Barak Siron Lambaro, Inilah Kamp Pengungsian saya |
Seperti janji saya
kemarin, hari ini saya melanjutkan kembali cerita tentang ikat pinggang dari
tali rapia setelah tsunami.
Barak darurat
Saya dan warga desa yang
lain, bisa mengistirahatkan diri di sana, berkat bantuan Pak Camat. Karena,
desa yang kami gunakan sebagai tempat pengungsian merupakan daerah beliau
menetap. Singkat cerita, akhirnya, tenda darurat seadanya pun berdiri di depan
mesjid Lampenerut. Kami tiba di sana agak siang hari menjelang sore.
Mesjid yang halamannya
menjadi tempat istirahat saya, sebenarnya tidak asing bagi saya. Karena, dulu,
sebelum pesantren Ruhul Islam tempat saya menimba ilmu pindah ke mata Ie. Pihak
yayasan meminjam ruang belajar dan beberapa gedung lain sebagai asrama bagi
santri putra dan putri di sana.
Oleh sebab itu, selama
tiga tahun belajar di sana, saya bisa mengenal beberapa masyarakat sekitar. Terutama
Pak Bukhari, petugas keamanan pesantren.
Bertemu Pak Bukhari
Nah, saat kami tiba di
depan mesjid. Beberapa warga mengunjungi melihat kami, siapa tau ada saudara
mereka di antara para pengungsi tersebut. Sebab, yang mengistirahatkan diri
bukan hanya dari desa saya. Tetapi desa lain juga ada disana.
Selesai shalat ashar,
saya memperhatikan pak Bukhari sedang berjalan hendak pulang ke rumah. Saat
itu, saya berada di luar mesjid, dan kurang memungkinkan shalat berjamaah dalam
mesjid, karena kondisi baju dan celana saya kenakan. Baju kaos warna putih.
Celana puntung selutut.
Entah kenapa, ada
inisiatif dalam diri saya untuk menyapa beliau. Kemudian, saya melangkah dan
memberi salam “Assalamu’alaikum, Pak
Bukhari bagaimana kabarnya?” Beliau menjawab “Wa’alaikumsalam, kamu di sini juga Mad?” Dengan wajah terkejut
melihat saya. Kemudian beliau bertanya “Dengan
siapa kamu di sini? Ayah ibu dan saudara di mana?”.
Saya balas “Ayah bunda sudah gak ada. Menjadi korban.
Sementara abang dan adik selamat”. Sambil menunjuk posisi abang saya duduk
bersama warga lain. Lalu beliau bilang “Panggil
abang dan adik-adikmu ikut saya”.
Saya menghadap abang
saya, dan melihat kedua adik saya. Rupanya mereka sedang bermain bersama
teman-teman menelusuri tempat baru ini. Sehingga hanya abang bisa saya ajak.
Disuguhi makan dan baju
Kemudian, saya diajak ke
rumah beliau depan sekolah saya dulu dan kampus pencetus para guru. Pendidikan
Guru Sekolah Dasar (PGSD) Lampeneurut, setara D II. Di sana saya disuguhi makanan
oleh beliau. Juga mempersilahkan saya dan abang membersihkan diri (mandi).
Setelah itu, saat kami mau
kembali ke tempat pengungsian bersama warga lainnya. Beliau memberikan 2 potong
baju dan celana miliknya. Satu buat saya, dan satunya lagi untuk abang saya.
Oh ya, saya belum
mengabarkan kepada Anda. Pak Bukari orangnya tinggi. Berkulit hitam. Kumisnya
kadang tebal dan tipis. Rambut beliau agak sedikit bergulung-gulung dan lebat.
Perut beliau tidak terlalu buncit seperti para koruptor. Namun, dari ukuran
celana beliau sedekahkan kepada saya, tertera no 39. Anda tentu tau seberapa
besar pinggangnya.
Sehingga, saat saya
mengenakan celana itu di kamar mandi mesjid, ketika kembali bersama-sama
saudara senasib lainnya. Tentu, hadiah itu sangat-sangat lebar bagi saya.
Bayangkan saja, saat itu saya mengenakan celana berukuran 32 paling besar.
Biasanya 31.
Namun kini, setelah
delapan tahun berlalu. Ukurannya bertambah. Saya mencoba celana ukuran 36 sudah
sempit bagi saya. Ukuran 37, baru nyaman untuk bergerak dan bernafas.
Bersambung
Mohon maaf, terpaksa
cerita ini harus bersambung lagi. Besok saya akan mempublis cara saya
menyiasati celana yang besar nan lebar ini, dengan menggunakan tali rapia.
Seperti apa ceritanya? See you tomorrow.
Bagikan