Selasa, 26 Juni 2012

Ikat Pinggang Tali Rapia 2

Barak Siron Lambaro, Inilah Kamp Pengungsian saya

Seperti janji saya kemarin, hari ini saya melanjutkan kembali cerita tentang ikat pinggang dari tali rapia setelah tsunami.

Barak darurat

Saya dan warga desa yang lain, bisa mengistirahatkan diri di sana, berkat bantuan Pak Camat. Karena, desa yang kami gunakan sebagai tempat pengungsian merupakan daerah beliau menetap. Singkat cerita, akhirnya, tenda darurat seadanya pun berdiri di depan mesjid Lampenerut. Kami tiba di sana agak siang hari menjelang sore. 

Mesjid yang halamannya menjadi tempat istirahat saya, sebenarnya tidak asing bagi saya. Karena, dulu, sebelum pesantren Ruhul Islam tempat saya menimba ilmu pindah ke mata Ie. Pihak yayasan meminjam ruang belajar dan beberapa gedung lain sebagai asrama bagi santri putra dan putri di sana. 

Oleh sebab itu, selama tiga tahun belajar di sana, saya bisa mengenal beberapa masyarakat sekitar. Terutama Pak Bukhari, petugas keamanan pesantren.

Bertemu Pak Bukhari

Nah, saat kami tiba di depan mesjid. Beberapa warga mengunjungi melihat kami, siapa tau ada saudara mereka di antara para pengungsi tersebut. Sebab, yang mengistirahatkan diri bukan hanya dari desa saya. Tetapi desa lain juga ada disana. 

Selesai shalat ashar, saya memperhatikan pak Bukhari sedang berjalan hendak pulang ke rumah. Saat itu, saya berada di luar mesjid, dan kurang memungkinkan shalat berjamaah dalam mesjid, karena kondisi baju dan celana saya kenakan. Baju kaos warna putih. Celana puntung selutut. 

Entah kenapa, ada inisiatif dalam diri saya untuk menyapa beliau. Kemudian, saya melangkah dan memberi salam “Assalamu’alaikum, Pak Bukhari bagaimana kabarnya?” Beliau menjawab “Wa’alaikumsalam, kamu di sini juga Mad?” Dengan wajah terkejut melihat saya. Kemudian beliau bertanya “Dengan siapa kamu di sini? Ayah ibu dan saudara di mana?”.

Saya balas “Ayah bunda sudah gak ada. Menjadi korban. Sementara abang dan adik selamat”. Sambil menunjuk posisi abang saya duduk bersama warga lain. Lalu beliau bilang “Panggil abang dan adik-adikmu ikut saya”. 

Saya menghadap abang saya, dan melihat kedua adik saya. Rupanya mereka sedang bermain bersama teman-teman menelusuri tempat baru ini. Sehingga hanya abang bisa saya ajak.

Disuguhi makan dan baju

Kemudian, saya diajak ke rumah beliau depan sekolah saya dulu dan kampus pencetus para guru. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Lampeneurut, setara D II. Di sana saya disuguhi makanan oleh beliau. Juga mempersilahkan saya dan abang membersihkan diri (mandi). 

Setelah itu, saat kami mau kembali ke tempat pengungsian bersama warga lainnya. Beliau memberikan 2 potong baju dan celana miliknya. Satu buat saya, dan satunya lagi untuk abang saya.

Oh ya, saya belum mengabarkan kepada Anda. Pak Bukari orangnya tinggi. Berkulit hitam. Kumisnya kadang tebal dan tipis. Rambut beliau agak sedikit bergulung-gulung dan lebat. Perut beliau tidak terlalu buncit seperti para koruptor. Namun, dari ukuran celana beliau sedekahkan kepada saya, tertera no 39. Anda tentu tau seberapa besar pinggangnya.

Sehingga, saat saya mengenakan celana itu di kamar mandi mesjid, ketika kembali bersama-sama saudara senasib lainnya. Tentu, hadiah itu sangat-sangat lebar bagi saya. Bayangkan saja, saat itu saya mengenakan celana berukuran 32 paling besar. Biasanya 31. 

Namun kini, setelah delapan tahun berlalu. Ukurannya bertambah. Saya mencoba celana ukuran 36 sudah sempit bagi saya. Ukuran 37, baru nyaman untuk bergerak dan bernafas.

Bersambung

Mohon maaf, terpaksa cerita ini harus bersambung lagi. Besok saya akan mempublis cara saya menyiasati celana yang besar nan lebar ini, dengan menggunakan tali rapia. Seperti apa ceritanya? See you tomorrow.
Bagikan