Selasa, 12 Juni 2012

Antara Buku Terlaris dan Melariskan Buku


Buku itu bernyawa. Dan yang menyawai buku adalah penulisnya. Oleh karena itu, tulislah buku yang usianya abadi, meski pun kamu sudah tiada.

#NasehatDiri

Saya pecinta buku

Saya bukanlah seorang pengamat perbukuan di indonesia. Bukan juga seorang yang berkeja untuk mengikuti tren pembaca buku. Apalagi ahli di bidang seluk beluk dunia penulisan. Sehingga memahami, apa tema yang masyarakat minati tahun ini? 

Saya juga tidak mengetahui, bagaimana model tataletak (baca; Layout) yang membuat pembaca betah menuntaskan buku yang mereka beli? Akan tetapi, saya berani mengklaim diri, pecinta buku. Karena, saya setiap bulan mengoleksi buku. Seperti; pengembangan diri, filsafat, biografi, marketing dan penjualan.

Lantas, mengapa saya berani menjudulkan catatan ini, “Antara buku terlaris dan Melariskan buku”? Hal ini lantaran, tahun 2012, semenjak saya mulai menggarab tulisan-tulisan saya menjadi sebuah buku. Saya banyak berdiskusi dengan pihak penerbit dunia perbukuan. 

Selain itu, selama proses penulisan tersebut. Saya mendapat banyak masukan dari penulis-penulis best seller. Bahkan, seorang trainer pengajar kiat menulis buku menjadi laku keras di pasaran.

Buku laris

Sementara itu, saya kira perlu mendefenisikan kata “laris” dalam catatan ini. Supaya, makna yang akan Anda cerna sesuai dengan anggapan saya. Laris di sini mengandung dua penjelasan. Yaitu, buku-buku yang diminati. Dan buku sudah nyata laku hingga naik cetak lebih dari 3 kali.

Nah pertama-tama saya mau mengenalkan format buku yang laris di pasaran. Namun, Anda harus waspada. Pengamatan ini bukanlah hasil survey. Akan tetapi, buah dari komunikasi bersama editor, penulis dan pelatih menulis buku. Sekali lagi, ini bukan standar. Hanya pemikiran saya semata. Dan format buku laris ini berkatagori—self help—atau pengembangan diri. Nah, apa saja model-model buku laris ini?

Pertama, Kisah nyata

Ciri pertama ini, buku pengembangan diri tersebut, isinya merupakan pengalaman pribadi sang penulis. Kiat-kiat nya adalah, perjalanan hidup yang telah dilewati oleh penulis. Dan hingga saat ini, masih mengamalkannya. Contohnya saja, buku keajaiban rezeki Ipho Right Santosa. Mas Ippho mengultimatum di akun twitternya. Bahwa, khusus untuk buku mega best seller ini, baru beliau terbitkan setelah lima tahun mengujinya sendiri. 

Mengapa kisah nyata bisa laris? Alasannya, buku-buku pengalaman pribadi membuat pembaca—tidak hanya melihat kata-kata—akan tetapi, juga bisa merasakan emosi sang penulis. Sebab, kisah itu bukan teori. Melainkan cerita pengalaman nyata. Sehingga, di kepala pembaca terjadi proses pemanggilan, sesuai dengan pengalaman pembaca. Bukan merancang ide-ide baru.

Kedua, isinya bercerita

Maksud saya, gaya penulisannya seperti sedang bercerita kepada pembaca. Namun bukan bergenre novel. Lantas apa?, penulis menjelaskan isi buku self help tersebut, seperti sedang bercerita. Bukan pernyataan semata. Bahkan, Joe Vitale membuka rahasia menulis yang menghipnosis dalam buku Hypnotic writingberceritalah”.

Contoh buku menyihir dan cetak berkali-kali menggunakan model bercerita ini, seperti buku “Sejuta Dollar” Merry Riana. Kalau buku jaman dulu kala yang fenomenal, buah karya warga malaysia, Dare to fail. Dan bila Anda mau mengetahui seperti apa buku self help yang bercerita itu. Maka, koleksilah buku-buku inspirator saya—bapak Hernowo Hasim.

Ketiga, mudah dibawa (handy-book)

Ciri yang ketiga ini—lebih kepada fisik buku. Artinya, ukuran buku tersebut, apakah mudah dibawa oleh pembaca atau tidak? Apakah gampang bagi pembaca bila memegang cukup dengan satu tangannya? Contoh buku ini “Makelar Rezeki” karya bapak Jamil Azzaini. Info di twitter beliau @jamilazzaini—buku ini dalam dua bulan naik cetak tiga kali.

Mengapa formatnya harus mudah dibawa? Alasannya, menurut teman saya, masyarakat yang gemar membaca buku, khsususnya di ibu kota Jakarta. Memamfaatkan waktu membacanya di sela-sela menunggu dan mengantri. Terkadang saat mobilnya berdesakan dalam kemacetan setiap harinya.

Melariskan buku

Saya yakin, banyak faktor lain membuat buku itu disenangi oleh pembaca—sehingga berimbas laku keras—dan penerbit mencantumkan kata dewa di kaver buku “best seller”. Entah itu judul, design kaver, atau pilihan kata dalam isi buku. Bila Anda mau mengetahui lebih lanjut, silahkan berkomunikasi dengan para ahli di bidangnya ya.

Nah, sementara melariskan buku—yang saya maksud di sini—cara lain agar buku self help, laku keras. Atau naik cetak berulang-ulang. Asbab buku tersebut bisa laris, selain dari tiga hal yang telah saya bahas di atas. Dan ini, kesimpulan dari pengamatan saya pribadi. Sehingga, Anda sangat saya izinkan untuk membantah. Apalagi tidak menyetujuinya. 

Pertama, komunitas

Maksudnya, isi dari buku dirancang sesuai dengan konsumsi perkumpulan orang-orang tertentu. Kontain bukunya, seirama dengan kebutuhan kelompok dan komunitas. Contoh, buku kiat sukses di bisnis MLM. Bapak Edy Zaques menceritakan dalam buku “bermain kata-kata” hasil wawancara dengan Andreas Harefa. Bahwa, pak Andreas, pernah menuliskan buku untuk pebisnis MLM. Dan isi buku tersebut erat kaitan dengan seluk beluk bisnis MLM bersangkutan.

Kedua, pelatihan

Cara melariskan buku selanjutnya, yaitu, menjadikan buku sebagai manual book untuk pelatihan. Langkah ini sangat praktis. Sudah pasti laku terus sepanjang masa. Karena, setiap orang mengikuti seminar atau pelatihan, akan mendapatkan buku sebagai pegangannya. Contohnya, buku ESQ Way. Pihak penerbit ESQ telah menerbitkan buku ini perpuluh kali tahun 2006. Kalau sekarang mungkin ratusan.

Ketiga, karisma ketokohan

Nah, yang ketiga ini faktor sosok penulisnya. Jadi perakus buku, tidak peduli siapa yang menuliskannya. Akan tetapi, isi buku menceritakan tentang siapa? Apakah itu berupa aktifitas orang yang pembaca suka? Atau pemikirannya.

Artinya, cara ketiga ini, menggunakan jalur pencitraan. Dan proses mencitrakan diri tersebut, bukan hasil rekayasa. Maksudnya, tercitra oleh media. Akan tetapi, citra berupa nama baik, melekat kepada tokoh, karena energi kebaikan yang telah orang tersebut lepaskan ke semesta. 

Sehingga, hal apa pun yang dikaitkan dengan sosok tersebut. Biasanya tulisan pasti pasti diunduh berulang-ulang. Kalau berbentuk buku, jelas laku. Itu sebabnya, mengapa terkadang penulis pemula mengajak menulis buku bareng dengan orang tertentu. Alasannya, supaya buku itu mengandung tarikan energi kertarikan pembaca, kepada orang yang diajak menulis bersamanya. 

Apa contoh buku ini? Saya mengizinkan Anda sendiri yang menyebutkannya. Karena saya tau, sekarang ini Anda sedang mencari-cari buku tokoh favorit Anda. Namun sayang sekali, buku tersebut sering habis di pasaran,  iyakan?

Jadi, sekarang, cara manakah yang akan Anda tempuh untuk mengabadikan karya Anda? 

Ciganjur, Selasa, 8 Mei 2012
Bagikan