Buku itu bernyawa. Dan yang menyawai buku adalah
penulisnya. Oleh karena itu, tulislah buku yang usianya abadi, meski pun kamu
sudah tiada.
#NasehatDiri
Saya pecinta buku
Saya
bukanlah seorang pengamat perbukuan di indonesia. Bukan juga seorang yang
berkeja untuk mengikuti tren pembaca buku. Apalagi ahli di bidang seluk beluk
dunia penulisan. Sehingga memahami, apa tema yang masyarakat minati tahun ini?
Saya
juga tidak mengetahui, bagaimana model tataletak (baca; Layout) yang membuat
pembaca betah menuntaskan buku yang mereka beli? Akan tetapi, saya berani
mengklaim diri, pecinta buku. Karena, saya setiap bulan mengoleksi buku. Seperti;
pengembangan diri, filsafat, biografi, marketing dan penjualan.
Lantas,
mengapa saya berani menjudulkan catatan ini, “Antara buku terlaris dan Melariskan buku”? Hal ini lantaran, tahun
2012, semenjak saya mulai menggarab tulisan-tulisan saya menjadi sebuah buku.
Saya banyak berdiskusi dengan pihak penerbit dunia perbukuan.
Selain
itu, selama proses penulisan tersebut. Saya mendapat banyak masukan dari
penulis-penulis best seller. Bahkan, seorang trainer pengajar kiat menulis buku
menjadi laku keras di pasaran.
Buku laris
Sementara
itu, saya kira perlu mendefenisikan kata “laris” dalam catatan ini. Supaya,
makna yang akan Anda cerna sesuai dengan anggapan saya. Laris di sini
mengandung dua penjelasan. Yaitu, buku-buku yang diminati. Dan buku sudah nyata
laku hingga naik cetak lebih dari 3 kali.
Nah
pertama-tama saya mau mengenalkan format buku yang laris di pasaran. Namun, Anda
harus waspada. Pengamatan ini bukanlah hasil survey. Akan tetapi, buah dari
komunikasi bersama editor, penulis dan pelatih menulis buku. Sekali lagi, ini
bukan standar. Hanya pemikiran saya semata. Dan format buku laris ini berkatagori—self
help—atau pengembangan diri. Nah, apa saja model-model buku laris ini?
Pertama, Kisah nyata
Ciri
pertama ini, buku pengembangan diri tersebut, isinya merupakan pengalaman pribadi
sang penulis. Kiat-kiat nya adalah, perjalanan hidup yang telah dilewati oleh
penulis. Dan hingga saat ini, masih mengamalkannya. Contohnya saja, buku
keajaiban rezeki Ipho Right Santosa. Mas Ippho mengultimatum di akun
twitternya. Bahwa, khusus untuk buku mega best seller ini, baru beliau
terbitkan setelah lima tahun mengujinya sendiri.
Mengapa
kisah nyata bisa laris? Alasannya, buku-buku pengalaman pribadi membuat pembaca—tidak
hanya melihat kata-kata—akan tetapi, juga bisa merasakan emosi sang penulis.
Sebab, kisah itu bukan teori. Melainkan cerita pengalaman nyata. Sehingga, di kepala
pembaca terjadi proses pemanggilan, sesuai dengan pengalaman pembaca. Bukan
merancang ide-ide baru.
Kedua, isinya bercerita
Maksud
saya, gaya penulisannya seperti sedang bercerita kepada pembaca. Namun bukan bergenre
novel. Lantas apa?, penulis menjelaskan isi buku self help tersebut, seperti
sedang bercerita. Bukan pernyataan semata. Bahkan, Joe Vitale membuka rahasia
menulis yang menghipnosis dalam buku Hypnotic writing “berceritalah”.
Contoh
buku menyihir dan cetak berkali-kali menggunakan model bercerita ini, seperti buku
“Sejuta Dollar” Merry Riana. Kalau buku jaman dulu kala yang fenomenal, buah
karya warga malaysia, Dare to fail. Dan bila Anda mau mengetahui seperti apa
buku self help yang bercerita itu.
Maka, koleksilah buku-buku inspirator saya—bapak Hernowo Hasim.
Ketiga, mudah dibawa (handy-book)
Ciri
yang ketiga ini—lebih kepada fisik buku. Artinya, ukuran buku tersebut, apakah
mudah dibawa oleh pembaca atau tidak? Apakah gampang bagi pembaca bila memegang
cukup dengan satu tangannya? Contoh buku ini “Makelar Rezeki” karya bapak Jamil
Azzaini. Info di twitter beliau @jamilazzaini—buku ini dalam dua bulan naik
cetak tiga kali.
Mengapa
formatnya harus mudah dibawa? Alasannya, menurut teman saya, masyarakat yang
gemar membaca buku, khsususnya di ibu kota Jakarta. Memamfaatkan waktu
membacanya di sela-sela menunggu dan mengantri. Terkadang saat mobilnya berdesakan
dalam kemacetan setiap harinya.
Melariskan buku
Saya
yakin, banyak faktor lain membuat buku itu disenangi oleh pembaca—sehingga
berimbas laku keras—dan penerbit mencantumkan kata dewa di kaver buku “best seller”. Entah itu judul, design
kaver, atau pilihan kata dalam isi buku. Bila Anda mau mengetahui lebih lanjut,
silahkan berkomunikasi dengan para ahli di bidangnya ya.
Nah,
sementara melariskan buku—yang saya maksud di sini—cara lain agar buku self help, laku keras. Atau naik cetak
berulang-ulang. Asbab buku tersebut bisa laris, selain dari tiga hal yang telah
saya bahas di atas. Dan ini, kesimpulan dari pengamatan saya pribadi. Sehingga,
Anda sangat saya izinkan untuk membantah. Apalagi tidak menyetujuinya.
Pertama, komunitas
Maksudnya,
isi dari buku dirancang sesuai dengan konsumsi perkumpulan orang-orang
tertentu. Kontain bukunya, seirama dengan kebutuhan kelompok dan komunitas.
Contoh, buku kiat sukses di bisnis MLM. Bapak Edy Zaques menceritakan dalam
buku “bermain kata-kata” hasil wawancara dengan Andreas Harefa. Bahwa, pak
Andreas, pernah menuliskan buku untuk pebisnis MLM. Dan isi buku tersebut erat
kaitan dengan seluk beluk bisnis MLM bersangkutan.
Kedua, pelatihan
Cara
melariskan buku selanjutnya, yaitu, menjadikan buku sebagai manual book untuk
pelatihan. Langkah ini sangat praktis. Sudah pasti laku terus sepanjang masa.
Karena, setiap orang mengikuti seminar atau pelatihan, akan mendapatkan buku
sebagai pegangannya. Contohnya, buku ESQ Way. Pihak penerbit ESQ telah
menerbitkan buku ini perpuluh kali tahun 2006. Kalau sekarang mungkin ratusan.
Ketiga, karisma ketokohan
Nah,
yang ketiga ini faktor sosok penulisnya. Jadi perakus buku, tidak peduli siapa
yang menuliskannya. Akan tetapi, isi buku menceritakan tentang siapa? Apakah
itu berupa aktifitas orang yang pembaca suka? Atau pemikirannya.
Artinya,
cara ketiga ini, menggunakan jalur pencitraan. Dan proses mencitrakan diri
tersebut, bukan hasil rekayasa. Maksudnya, tercitra oleh media. Akan tetapi,
citra berupa nama baik, melekat kepada tokoh, karena energi kebaikan yang telah
orang tersebut lepaskan ke semesta.
Sehingga,
hal apa pun yang dikaitkan dengan sosok tersebut. Biasanya tulisan pasti pasti
diunduh berulang-ulang. Kalau berbentuk buku, jelas laku. Itu sebabnya, mengapa
terkadang penulis pemula mengajak menulis buku bareng dengan orang tertentu.
Alasannya, supaya buku itu mengandung tarikan energi kertarikan pembaca, kepada
orang yang diajak menulis bersamanya.
Apa
contoh buku ini? Saya mengizinkan Anda sendiri yang menyebutkannya. Karena saya
tau, sekarang ini Anda sedang mencari-cari buku tokoh favorit Anda. Namun
sayang sekali, buku tersebut sering habis di pasaran, iyakan?
Jadi,
sekarang, cara manakah yang akan Anda tempuh untuk mengabadikan karya Anda?
Ciganjur,
Selasa, 8 Mei 2012
Bagikan
