Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS;
Al-A’raf;31
Bila Lebaran sudah mulai
datang, baik Idul Fitri maupun hari raya kurban (Idul Adha). Jiwa saya selalu
tergoda olehnya. Bagaimana tidak? Sebelum tsunami menyapa—semasa Ayah dan Ibu saya
belum tiada—Lebaran telah menjadi budaya beli baju baru dalam keluarga saya. Hal
ini selalu saya alami. Lebaran dapat baju baru.
Oleh karena itu, hampir
tiap tahun, Alhamdulillah saya mempunyai 2 potong baju dan celana. Acapkali,
rasanya hari lama sekali bergerak jika baju sudah tiba di rumah. Seandainya 2
potong baju itu dibeli 4 hari sebelum 1 Syawal. Maka, 4 hari menjelang Idul Fitri,
rasa-rasanya tiada hari tanpa penyiksaan bagi saya.
Tak Sabar Menanti
Saya tersiksa lama
menanti hari takbiran tiba. Sungguh, jam itu seolah lama sekali bergerak.
Selama masa itu pula. Bukan hanya jam bermerek Seiko bersegi empat di dinding
kamar saya perhatikan. Tetapi, hampir dua jam sekali—bila saya berada di
rumah—saya membuka risleting lemari plastik untuk melihat baju baru, mencium
bau yang terdapat pada setiap baju baru dan menyentuhnya.
Bisa Anda bayangkan.
Melihat, mencium dan menyentuh saja, pikiran saya sudah menerawang kelak saat
baju ini saya kenakan. Oh, betapa bahagianya saya. Inilah kenikmatan masa kecil
ketika orang tua masih hidup. Setiap lebaran mendapat baju baru dari mereka.
Beli Sendiri
Semenjak saya kelas 3 SMA
dan kuliah. Tiap tahun saya masih mendapatkan 2 potong baju baru. Cuma bedanya.
Kalau dulu saya dibelikan. Saat beranjak remaja, saya membeli sendiri. Uangnya
tetap dari dompet ayah saya J.
Selain itu, orang tua saya
mempunyai cara unik mendidik saya dalam hal memakai baju. Mengapa saya
mengatakan unik? Karena, sedari masih SD. Orang tua mengajarkan saya agar
pandai-pandai memilih baju. Memilih bukan karena kesesuaian antara warna celana
dengan warna baju saya pakai.
Akan tetapi, saya harus
membedakan; yang mana baju untuk bermain di kampung bersama teman-teman saya.
Dan yang mana baju harus saya kenakan kalau tujuan keluar rumah untuk ke kota.
Atau bersilaturahim ke sanak famili—di mana rumah famili tersebut—berbeda
kecamatan dari tanah kelahiran saya.
Baju Baru Hanya untuk Berpergian
Jadi, saya bisa menceritakan.
Saya mempunyai baju yang lumayan utuh (bagus karena jarang dipakai). Bagaimana
tidak, baju yang dibeli (saya beli) tiap Lebaran, jarang sekali masanya untuk
saya kenakan. Seandainya pun saya memaksakan untuk memakai baju baru itu untuk
bermain bersama teman-teman saya. Maka, mereka—teman-teman saya—pasti mengajukan pertanyaan bernada penasaran, ”Mau kemana kamu Mad?”.
Pertanyaan mereka, seolah
seperti sudah menjadi budaya. Baju baru merupakan pakaian untuk berangkat ke
kota. Sementara baju biasa-biasa saja, sangat pantas buat bermain selepas pulang
dari sekolah. Dan, meskipun biasa-biasa saja, tetapi, baju itu tetap lumayan
indah. Tidak jelek-jelek amat.
Tsunami Breaks The Rule
Namun, semenjak tsunami
menghadang. Pola memakai baju sudah berubah. Bukan karena saya hijrah ke Bogor
atau ke Jakarta sekarang. Akan tetapi, lebih karena perasaan penyesalan
terhadap baju-baju baru yang belum sempat saya nikmati, terhempas oleh tsunami.
Karena itulah, sekarang,
jika saya membeli baju baru, maka keesokan harinya langsung saya pakai. Dan
tidak ada lagi pemisahan, antara baju di rumah (sehari-hari) atau berpergian
khusus. Terkecuali, penyesuaian dengan aktifitas. Umpamanya, jika ke kondangan,
maka batiklah pilihannya.
Alhamdulillah, kini saya
bersyukur. Setidaknya ada 10 potong baju di lemari. Yang selalu saya pakai,
entah mengisi training, ke mesjid atau aktifitas sehari-hari. Dengan 10 potong
itu, ternyata sudah lebih dari cukup. Bahkan, saya pantas mengatakan diri saya
kaya dalam hal baju ini.
Cukup 3 Potong
Rasa syukur yang paling
dalam adalah, baju-baju bergantungan dalam lemari itu, semuanya saya pakai.
Tidak ada yang terbengkalai. Kalau pun ada baju sudah sangat jarang saya
kenakan. Maka, saya meminta istri membungkusnya untuk memberikan kepada yang
lebih pantas.
Akhirnya, saya menyadari.
Ternyata, terkadang tidak semua baju yang saya beli pasti saya pakai. Oleh
sebab itu, sepatutnya saya membeli baju,
kalau memang saya yakin akan mengenakannya. Bahkan, seorang teman pernah
berkata. ”Sebenarnya, 3 potong baju itu,
sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan kita”.
Ciganjur, Minggu, 24 Juni
2012
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti Workshop "Explore Your Potentials With NLP" tentang cara merumuskan Visi Hidup, menemukan Passion dan mengoptimalkan Potensi Diri. Minggu, 17 Februari 2013, @Hotel Syahida Inn Komplek Pasca UIN Jakarta. Hubungi 0878.7603.7227 Sekarang.
Bagikan
