Catatan ini merupakan lanjutan dari Pengalaman menjadi ayah 1. dan sebagaimana janji saya, berikut ini lanjutannya. Selamat menikamti...
Ayah, sudah pembukaan ketiga
Selama dalam
perjalanan pulang, saya tidak mengecek lagi HP saya. Awalnya saya berniat
langsung menuju rumah sakit. Tapi, karena saya kehujanan. Saya memutuskan
menuju ke rumah terlebih dahulu. Sesampai di rumah, saya tanya kepada Mukmin
adik Ipar. “Mbak Ita sama ibu masih di
rumah sakit ya?” Dia menjawab “iya”.
Kemudian, di
depan rumah, saya berdiri sembari membuka resleting baju hujan, dan
mengeluarkan HP di saku baju. Saya lihat ada sms masuk “Ayah,
sudah pembukaan ketiga, sekarang di Rumah sakit”. Rupanya istri sudah
mengabari semenjak jam 17.20.
Langsung
saja, tanpa mengganti baju, saya menuju ke rumah sakit. Saat tiba di sana,
istri sudah diistirahatkan di ruang persalinan. Saya masuk dan memeluk putri
mertua di atas tempat tidurnya. Dan menciup keningnya. Saya bisikan di
telinganya “Maafin ayah ya, kurang siaga.
I love you”.
Setelah itu,
menanti proses pembukaan sempurna. Saya menyuapi istri makanan yang disiapkan
oleh rumah sakit. Juga memberinya semangat. Lantaran dia sedang menahan rasa
sakit selama proses menanti pembukaan ke 10.
Lahir normal
Setelah saya
selesai shalat maqrib, dan menanti proses hingga jam 20.00wib. Ibu Bidan Icha
menanyakan perlengkapan yang dibawa oleh Ibu Mertua. Kemudian saya berikan tas kepadanya.
Sesaat kemudian, beliau cek kondisi istri. Di luar dugaan, rupanya sudah
pembukaan penuh siap melahirkan. Biasanya bila anak pertama, kalau jam 17.00
masih pembukaan ketiga, baru bisa melahirkan sekitar shubuh. Tapi
alhamudlillah, jam 20.00 sudah sempurna.
Langsung
beliau memanggil temannya yang lain membantu proses persalinan. Sebelum nya
beliau menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh istri. Seperti layaknya
para hypnotherapist menjelaskan hypnotic training kepada calon klien
yang akan dihipnosis. Taklama setelah itu, sekitar jam 20.25 anak sayapun lahir
dengan normal. Melalui proses mengeden yang luar biasa. Saya hanya bisa
mendukung berdiri samping istri menemani sampai persalinan selesai.
Tidak ada yang istimewa
Sementara
itu, sebelum saya menikah, ada seorang teman mengabari saya tentang pengalaman
luar biasa yang dia alami selama menemani istri melahirkan. Apalagi saat
melihat buah hatinya lahir dan mendengar suara tangisannya. Ada perasaan
tertentu yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata menurutnya. Akan tetapi,
beda hal nya dengan saya.
Sebab, saat saya
melihat anak saya lahir dan mendengar suara tangisan. Saya tidak merasakan
perubahan apapun. Layaknya perasaan saya menjadi ayah. Tapi saya hanya
mengatakan kepada istri sambil membisikkan ketelinganya “Anak kita lahir Bunda, I love you” dan mencium keningnya.
Setelah Ibu
Bidan selesai membersihkan semuanya dan proses IMD. Istri harus tetap di berada
ruang persalinan sampai 2 jam kemudian. Dan bayi kami dimasukkan ke ruang
inkubator. Sementara saya menemani di ruangan tersebut, saya menceritakan
kepada istri tentang pengalaman yang saya alami. Istri saya merespon “Mungkin kita sudah menggap dede itu ada
semenjak dalam kandungan. Jadi, pas dia lahir hanya proses alamiah pertukaran
tempat dari alam rahim ke dunia”. Katanya.
USG pertama, aku menjadi ayah
Perkataan
istri saya, membawa pikiran saya dengan pengalaman pertama sekali kami periksa
ke dokter dan USG saat usia kehamilan 4 bulan. Waktu pak Dokter Tagor
memperlihatkan di layar TV, saya melihat ada yang bergerak-gerak di sana.
Spontan ada perasaan yang tidak bisa saya lukiskan dalam diri saya. Tapi yang
pasti, persaan itu adalah “Aku menjadi
ayah”.
Mengalami
hal tersebut, saya menjadi faham. Mengapa ada teman yang istrinya keguguran,
saat istri hamil usia 7 bulan. Dia selalu mengatakan hingga detik ini, “Saya mempunyai seorang anak”.
Kembali
dengan cerita awal. Setelah dua jam di ruang persalinan. Kami bisa pindah ke
kamar rawat yang telah saya pesan. Selama dua hari di Rumah sakit, si ibu sehat
dan bayipun juga sama. Maka, kami mendapat izin untuk pulang. Minggu pagi saya
mengurusi administrasi, dan menjelang siang, saya, istri, dan buah hati kami,
Nur Avelyna tiba di rumah.
Seperti apa
cerita malam pertama sesampai di rumah?
Ciganjur, 2
maret 2012
Bagikan