Jumat, 06 April 2012

Pengalaman Menjadi Ayah 2

Catatan ini merupakan lanjutan dari Pengalaman menjadi ayah 1. dan sebagaimana janji saya, berikut ini lanjutannya. Selamat menikamti...

Ayah, sudah pembukaan ketiga

Selama dalam perjalanan pulang, saya tidak mengecek lagi HP saya. Awalnya saya berniat langsung menuju rumah sakit. Tapi, karena saya kehujanan. Saya memutuskan menuju ke rumah terlebih dahulu. Sesampai di rumah, saya tanya kepada Mukmin adik Ipar. “Mbak Ita sama ibu masih di rumah sakit ya?” Dia menjawab “iya”.

Kemudian, di depan rumah, saya berdiri sembari membuka resleting baju hujan, dan mengeluarkan HP di saku baju. Saya lihat ada sms  masuk “Ayah, sudah pembukaan ketiga, sekarang di Rumah sakit”. Rupanya istri sudah mengabari semenjak jam 17.20.

Langsung saja, tanpa mengganti baju, saya menuju ke rumah sakit. Saat tiba di sana, istri sudah diistirahatkan di ruang persalinan. Saya masuk dan memeluk putri mertua di atas tempat tidurnya. Dan menciup keningnya. Saya bisikan di telinganya “Maafin ayah ya, kurang siaga. I love you”. 

Setelah itu, menanti proses pembukaan sempurna. Saya menyuapi istri makanan yang disiapkan oleh rumah sakit. Juga memberinya semangat. Lantaran dia sedang menahan rasa sakit selama proses menanti pembukaan ke 10. 

Lahir normal 

Setelah saya selesai shalat maqrib, dan menanti proses hingga jam 20.00wib. Ibu Bidan Icha menanyakan perlengkapan yang dibawa oleh Ibu Mertua. Kemudian saya berikan tas kepadanya. Sesaat kemudian, beliau cek kondisi istri. Di luar dugaan, rupanya sudah pembukaan penuh siap melahirkan. Biasanya bila anak pertama, kalau jam 17.00 masih pembukaan ketiga, baru bisa melahirkan sekitar shubuh. Tapi alhamudlillah, jam 20.00 sudah sempurna.

Langsung beliau memanggil temannya yang lain membantu proses persalinan. Sebelum nya beliau menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh istri. Seperti layaknya para hypnotherapist menjelaskan hypnotic training kepada calon klien yang akan dihipnosis. Taklama setelah itu, sekitar jam 20.25 anak sayapun lahir dengan normal. Melalui proses mengeden yang luar biasa. Saya hanya bisa mendukung berdiri samping istri menemani sampai persalinan selesai.

Tidak ada yang istimewa

Sementara itu, sebelum saya menikah, ada seorang teman mengabari saya tentang pengalaman luar biasa yang dia alami selama menemani istri melahirkan. Apalagi saat melihat buah hatinya lahir dan mendengar suara tangisannya. Ada perasaan tertentu yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata menurutnya. Akan tetapi, beda hal nya dengan saya.

Sebab, saat saya melihat anak saya lahir dan mendengar suara tangisan. Saya tidak merasakan perubahan apapun. Layaknya perasaan saya menjadi ayah. Tapi saya hanya mengatakan kepada istri sambil membisikkan ketelinganya “Anak kita lahir Bunda, I love you” dan mencium keningnya.

Setelah Ibu Bidan selesai membersihkan semuanya dan proses IMD. Istri harus tetap di berada ruang persalinan sampai 2 jam kemudian. Dan bayi kami dimasukkan ke ruang inkubator. Sementara saya menemani di ruangan tersebut, saya menceritakan kepada istri tentang pengalaman yang saya alami. Istri saya merespon “Mungkin kita sudah menggap dede itu ada semenjak dalam kandungan. Jadi, pas dia lahir hanya proses alamiah pertukaran tempat dari alam rahim ke dunia”. Katanya.

USG pertama, aku menjadi ayah

Perkataan istri saya, membawa pikiran saya dengan pengalaman pertama sekali kami periksa ke dokter dan USG saat usia kehamilan 4 bulan. Waktu pak Dokter Tagor memperlihatkan di layar TV, saya melihat ada yang bergerak-gerak di sana. Spontan ada perasaan yang tidak bisa saya lukiskan dalam diri saya. Tapi yang pasti, persaan itu adalah “Aku menjadi ayah”. 

Mengalami hal tersebut, saya menjadi faham. Mengapa ada teman yang istrinya keguguran, saat istri hamil usia 7 bulan. Dia selalu mengatakan hingga detik ini, “Saya mempunyai seorang anak”.

Kembali dengan cerita awal. Setelah dua jam di ruang persalinan. Kami bisa pindah ke kamar rawat yang telah saya pesan. Selama dua hari di Rumah sakit, si ibu sehat dan bayipun juga sama. Maka, kami mendapat izin untuk pulang. Minggu pagi saya mengurusi administrasi, dan menjelang siang, saya, istri, dan buah hati kami, Nur Avelyna tiba di rumah.

Seperti apa cerita malam pertama sesampai di rumah? 

Ciganjur, 2 maret 2012
Bagikan