Jumat, 13 April 2012

Bukan Rahasia Di Balik Jeda


"Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.  Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". 
(QS. All-Insyirah: 7-8)
Study banding ke Padang 

Tahun 2003. Saya masih berada di Aceh. Saat itu saya sedang mengikat ilmu di pondok Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa. Saya nyantri di sana selama tiga tahun. Mulai dari kelas I Alyah (SMA) hingga kelas tiga. Pada tahun 2003 merupakan tahun terakhir saya di sana. 

Pada tahun tersebut juga, merupakan tahun bermakna bagi saya. Karena, kami para santri mengadakan program studi banding ke Padang. Kami mengunjungi beberapa Pondok pesantren di kota bukit tinggi dan 3 perguruan tinggi di sana. Hal yang bermakna bagi saya adalah, tahun itu merupakan momen perdana sekali saya melakukan perjalanan keluar dari teritori Aceh Besar dan Banda Aceh. 

Sebelumnya, jangankan keluar propinsi. Aceh Utara – Langsa saja, saya belum pernah. Berkat trip tersebut, saya bisa melihat suasana berbeda dari tempat kelahiran saya. Sepanjang perjalanan berangkat dari pontren Ruhul Islam (saat itu masih di Lampeneurut) hingga ke Kota Medan. Mata saya terus melirik ke luar. Saya tidak mau melewatkan pengalaman itu begitu saja.

Sehubungan dengan tema catatan ini. Ada pengalaman saat kami sudah masuk ke Kota Medan, dan sopir bis memutuskan untuk beristirahat di sana selama dua jam. Sebab, bila dipaksakan terus, bisa terjadi gangguan pada mesin angkutang antar propinsi tersebut. 

Pak Sopir menyampaikan “Setiap perjalanan 14 jam, biasa berhenti pada poolnya selama dua jam. Bukan berhenti untuk makan. Tapi untuk perawatan mesin”. 

Peristirahatan kami saat itu, saya nikmati untuk melihat-lihat kota Medan di Malam hari. Dan berkat perawatan mesin bis ini pula, sekarang saya menyadari tentang makna kata “Jeda”. Betapa “jeda” memiliki manfaat luar biasa. Bila kita faham dan menyadarinya. Apalagi tau kapan menggunakan kondisi jeda tersebut. “State Jeda”.

Waktu—Shalat 

Sebelumnya, dalam aktifitas keseharianpun. Terutama dalam melaksanakan ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah (bagi Muslim). Di sana terdapat pembelajaran tersirat tentang jeda ini. Mari kita perhatikan kembali dari sisi waktu shalat. Bagi Anda yang muslim, tentu mengetahui kapan saja waktu-waktu untuk shalat. Yaitu Shubuh, dhuhur, Ashar, maqhrib dan Isya. 

Saya sempat merenung—dan bertanya kepada diri saya sendiri—apa hikmah dibalik waktu-waktu ibadah ini? Hingga saya menyadari, saat-saat melaksanakan ritual ini, sebenarnya merupakan jam jeda bagi aktifitas pikiran, perasaan dan tubuh. 

Sebagaimana kita ketahui bersama—bahwa shalat itu bukan hanya aktifitas pergerakan tubuh—tetapi juga perjalanan jiwa berkomunikasi dengan sang pencipta. Memang, pada realitanya, saya belumlah sesempurna itu. Seolah-olah sedang menghadap Allah. 

Tetapi, idealnya, bila kita bisa mendirikan shalat seperti Rasulullah—tentu, pikiran, perasaan menuju hanya satu fokus—yaitu Allah, seakan sedang berposisi di depan sang Khalik. Apalagi mampu memahami bacaan dan menghayati maknanya. Sudah pasti mengalami pengalaman menganggumkan, iyakan?

Oleh karena itu. Bila kita meninjau dari segi waktu. Dimulai dari Shubuh. Jam tersebut kita baru saja merehatkan badan dari berbagai kepenatan di malam hari. Sehingga, sebelum kita melakukan aktifitas rutin, kemudian kita shalat shubuh, maka pikiran, perasaan dan tubuh telah fokus pada satu hal. Maknanya, hanya satu kondisi saat itu. Yakni, penghambaan diri.

Kemudian kita bekerja. Bertemu dengan waktu dhuhur. Tengah siang hari, terkadang panas terik luar biasa. Kita kembali masuk ke kondisi penghambaan diri lagi. Lalu, melewati waktu siang yang panas, konon sering terbayang waktu-waktu sangat tepat untuk tidur. Kita masuk lagi ke kondisi penghambaan diri di waktu ashar. 

Dan menjelang pulang, sebelum matahari terbenam. Kita masuk lagi ke kondisi “penghambaan diri” dengan shalat maqrib. Dan akhir semua aktifitas, sebelum kita istirahat (tidur), shalat isya merupakan waktu pengkondisian diri lagi.

Bila kita mau menyadari, sebenarnya 5 kali dalam sehari. Adalah penjeda bagi pikiran, perasaan dan tubuh kita. Sekali lagi, bila shalat yang kita tunaikan sebagaimana yang Rasulullah contohkan—dan hakekatnya, gerakan shalat pun—dari takbir, rukuk, ‘itidal, sujud, duduk diantara dua sujud hingga salam. Terdapat jeda di sana.

Jeda; cara mengelola marah

Kalau begitu. Pada dasarnya, jeda ini sungguh sangat penting. Pastinya juga bermanfaat. Seperti saya katakan di atas. Seandainya kita menyadari dan mengetahui cara menggunakannya, banyak manfaat kita peroleh. 

Sementara itu, mari kita sadari maksud jeda itu sendiri. Bagi saya, jeda persis seperti mobil yang masih manual. Setiap kali kita mau memindahkan perseneling dari satu kedua, ketiga, atau keempat. Pasti Anda memelankan gasnya. Tapi, bila tetap menginjak gas dan berbarengan dengan kopling. Anda tentu tau seperti apa bunyi dan kondisi mobilnya, iyakan?

Nah, contoh kasus kecil. Anda seorang suami. Di kantor tempat Anda bekerja, ada salah seorang teman melakukan kesalahan fatal. Sehingga, Anda sebagai supervisornya, harus menanggung juga efek dari kelalaiannya tersebut. Naas caci maki atasanpun, hari itu menyumbar ke diri Anda.  Pas pulang kerja, setiba di rumah. Anda berniat istirahat. Tetapi, malahan anak-anak Anda bermain dan bercanda membuat Anda tidak bisa istirahat. 

Darahpun mulai meninggi hingga ke kepala Anda. Di tambah lagi, istri saat itu ikut menguatkan tensi emosi Anda. Istri Anda meminta Anda supaya mengurus anak-anak dengan nada suara melebihi atasan Anda. Membuat jantung seperti tersayat-sayat mendengarnya. Tadinya panas malah sekarang mendidih. Sehingga, marahpun tak bisa Anda elakkan.

Nah, pada kondisi seperti inilah—jeda akan sangat bermanfaat. Apa yang butuhkan Anda jedakan? Reaksi marah Anda. Tindakan bentuk ekspresi marah Anda.

Alangkah lebih baik, bila Anda mampu menjedakan proses naiknya tensi amarah Anda, dari adem menuju panas, kemudian mendidih. Tapi Anda mampu menjedakan proses tesebut (di sela-sela tersebut ada jedanya). Pasti sangat-sangat bermanfaat bukan? 

Makanya, rasulullah mengajarkan. Cara mengelola marah—bila kita sedang marah sambil berdiri, maka hendaklah duduk. Bila duduk belum mampu juga meredakan amarah, maka sebaiknya kita tidur. Dan aktifitas ini merupakan proses penjedaan. Karena dengan mengubah kondisi Anda, dengan sendiri emosi Andapun juga berubah.

Spasi dalam kalimat

Demikianpula dalam kontek tulis menulis. Apakah Anda menyadari? Sebenarnya antara satu kata dengan kata yang lain, Anda dan saya pasti melakukan proses “jeda”. Apa itu? Anda menjedakan satu kata dan yang lainnya dengan “spasi”. 

Bahkan, Bill gate mengkondisikan keindahan tulisan agar mudah terbaca—selain spasi, juga lebar antar baris—ada 1, 1,5 dan doble 2 baris. Bisa Anda bayangkan, bagaimana kondisi tulisan ini, bila tanpa spasi?

Jadi, apakah Anda sudah menikmati anugerah jeda ini?

Ciganjur, 16 Maret 2012
Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist I 270fe9b7
Bagikan