"Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan Hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap".
(QS. All-Insyirah: 7-8)
Study banding ke Padang
Tahun 2003. Saya masih berada
di Aceh. Saat itu saya sedang mengikat ilmu di pondok Pesantren Ruhul Islam
Anak Bangsa. Saya nyantri di sana selama tiga tahun. Mulai dari kelas I Alyah
(SMA) hingga kelas tiga. Pada tahun 2003 merupakan tahun terakhir saya di sana.
Pada tahun tersebut juga,
merupakan tahun bermakna bagi saya. Karena, kami para santri mengadakan program
studi banding ke Padang. Kami mengunjungi beberapa Pondok pesantren di kota
bukit tinggi dan 3 perguruan tinggi di sana. Hal yang bermakna bagi saya adalah,
tahun itu merupakan momen perdana sekali saya melakukan perjalanan keluar dari
teritori Aceh Besar dan Banda Aceh.
Sebelumnya, jangankan keluar
propinsi. Aceh Utara – Langsa saja, saya belum pernah. Berkat trip tersebut,
saya bisa melihat suasana berbeda dari tempat kelahiran saya. Sepanjang
perjalanan berangkat dari pontren Ruhul Islam (saat itu masih di Lampeneurut)
hingga ke Kota Medan. Mata saya terus melirik ke luar. Saya tidak mau
melewatkan pengalaman itu begitu saja.
Sehubungan dengan tema catatan
ini. Ada pengalaman saat kami sudah masuk ke Kota Medan, dan sopir bis
memutuskan untuk beristirahat di sana selama dua jam. Sebab, bila dipaksakan
terus, bisa terjadi gangguan pada mesin angkutang antar propinsi tersebut.
Pak Sopir menyampaikan “Setiap perjalanan 14 jam, biasa berhenti pada
poolnya selama dua jam. Bukan berhenti untuk makan. Tapi untuk perawatan mesin”.
Peristirahatan kami saat itu,
saya nikmati untuk melihat-lihat kota Medan di Malam hari. Dan berkat perawatan
mesin bis ini pula, sekarang saya menyadari tentang makna kata “Jeda”. Betapa
“jeda” memiliki manfaat luar biasa. Bila kita faham dan menyadarinya. Apalagi
tau kapan menggunakan kondisi jeda tersebut. “State Jeda”.
Waktu—Shalat
Sebelumnya, dalam aktifitas keseharianpun. Terutama
dalam melaksanakan ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah (bagi Muslim).
Di sana terdapat pembelajaran tersirat tentang jeda ini. Mari kita perhatikan
kembali dari sisi waktu shalat. Bagi Anda yang muslim, tentu mengetahui kapan
saja waktu-waktu untuk shalat. Yaitu Shubuh, dhuhur, Ashar, maqhrib dan Isya.
Saya sempat merenung—dan bertanya kepada diri saya
sendiri—apa hikmah dibalik waktu-waktu ibadah ini? Hingga saya menyadari,
saat-saat melaksanakan ritual ini, sebenarnya merupakan jam jeda bagi aktifitas
pikiran, perasaan dan tubuh.
Sebagaimana kita ketahui bersama—bahwa shalat itu
bukan hanya aktifitas pergerakan tubuh—tetapi juga perjalanan jiwa berkomunikasi
dengan sang pencipta. Memang, pada realitanya, saya belumlah sesempurna itu.
Seolah-olah sedang menghadap Allah.
Tetapi, idealnya, bila kita bisa mendirikan shalat
seperti Rasulullah—tentu, pikiran, perasaan menuju hanya satu fokus—yaitu Allah,
seakan sedang berposisi di depan sang Khalik. Apalagi mampu memahami bacaan dan
menghayati maknanya. Sudah pasti mengalami pengalaman menganggumkan, iyakan?
Oleh karena itu. Bila kita meninjau dari segi waktu.
Dimulai dari Shubuh. Jam tersebut kita baru saja merehatkan badan dari berbagai
kepenatan di malam hari. Sehingga, sebelum kita melakukan aktifitas rutin, kemudian
kita shalat shubuh, maka pikiran, perasaan dan tubuh telah fokus pada satu hal.
Maknanya, hanya satu kondisi saat itu. Yakni, penghambaan diri.
Kemudian kita bekerja. Bertemu dengan waktu dhuhur.
Tengah siang hari, terkadang panas terik luar biasa. Kita kembali masuk ke
kondisi penghambaan diri lagi. Lalu, melewati waktu siang yang panas, konon
sering terbayang waktu-waktu sangat tepat untuk tidur. Kita masuk lagi ke
kondisi penghambaan diri di waktu ashar.
Dan menjelang pulang, sebelum matahari terbenam. Kita
masuk lagi ke kondisi “penghambaan diri” dengan shalat maqrib. Dan akhir semua
aktifitas, sebelum kita istirahat (tidur), shalat isya merupakan waktu
pengkondisian diri lagi.
Bila kita mau menyadari, sebenarnya 5 kali dalam
sehari. Adalah penjeda bagi pikiran, perasaan dan tubuh kita. Sekali lagi, bila
shalat yang kita tunaikan sebagaimana yang Rasulullah contohkan—dan hakekatnya,
gerakan shalat pun—dari takbir, rukuk, ‘itidal, sujud, duduk diantara dua sujud
hingga salam. Terdapat jeda di sana.
Jeda;
cara mengelola marah
Kalau begitu. Pada dasarnya, jeda ini sungguh sangat
penting. Pastinya juga bermanfaat. Seperti saya katakan di atas. Seandainya
kita menyadari dan mengetahui cara menggunakannya, banyak manfaat kita peroleh.
Sementara itu, mari kita sadari maksud jeda itu
sendiri. Bagi saya, jeda persis seperti mobil yang masih manual. Setiap kali
kita mau memindahkan perseneling dari satu kedua, ketiga, atau keempat. Pasti
Anda memelankan gasnya. Tapi, bila tetap menginjak gas dan berbarengan dengan
kopling. Anda tentu tau seperti apa bunyi dan kondisi mobilnya, iyakan?
Nah, contoh kasus kecil. Anda seorang suami. Di kantor
tempat Anda bekerja, ada salah seorang teman melakukan kesalahan fatal.
Sehingga, Anda sebagai supervisornya, harus menanggung juga efek dari
kelalaiannya tersebut. Naas caci maki atasanpun, hari itu menyumbar ke diri
Anda. Pas pulang kerja, setiba di rumah.
Anda berniat istirahat. Tetapi, malahan anak-anak Anda bermain dan bercanda
membuat Anda tidak bisa istirahat.
Darahpun mulai meninggi hingga ke kepala Anda. Di
tambah lagi, istri saat itu ikut menguatkan tensi emosi Anda. Istri Anda
meminta Anda supaya mengurus anak-anak dengan nada suara melebihi atasan Anda.
Membuat jantung seperti tersayat-sayat mendengarnya. Tadinya panas malah
sekarang mendidih. Sehingga, marahpun tak bisa Anda elakkan.
Nah, pada kondisi seperti inilah—jeda akan sangat
bermanfaat. Apa yang butuhkan Anda jedakan? Reaksi marah Anda. Tindakan bentuk
ekspresi marah Anda.
Alangkah lebih baik, bila Anda mampu menjedakan proses
naiknya tensi amarah Anda, dari adem menuju panas, kemudian mendidih. Tapi Anda
mampu menjedakan proses tesebut (di sela-sela tersebut ada jedanya). Pasti
sangat-sangat bermanfaat bukan?
Makanya, rasulullah mengajarkan. Cara mengelola marah—bila
kita sedang marah sambil berdiri, maka hendaklah duduk. Bila duduk belum mampu
juga meredakan amarah, maka sebaiknya kita tidur. Dan aktifitas ini merupakan
proses penjedaan. Karena dengan mengubah kondisi Anda, dengan sendiri emosi
Andapun juga berubah.
Spasi
dalam kalimat
Demikianpula dalam kontek tulis menulis. Apakah Anda
menyadari? Sebenarnya antara satu kata dengan kata yang lain, Anda dan saya
pasti melakukan proses “jeda”. Apa itu? Anda menjedakan satu kata dan yang lainnya
dengan “spasi”.
Bahkan, Bill gate mengkondisikan keindahan tulisan
agar mudah terbaca—selain spasi, juga lebar antar baris—ada 1, 1,5 dan doble 2
baris. Bisa Anda bayangkan, bagaimana kondisi tulisan ini, bila tanpa spasi?
Jadi, apakah Anda sudah menikmati anugerah jeda ini?
Ciganjur, 16 Maret 2012
Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist I 270fe9b7
Bagikan