Bekerjalah kamu untuk urusan duniamu, seolah-olah kamu
hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu mati besok.
(Mafudhot,
Perkataan Imam Ali).
Pertama terekam diingatan saya
Begitulah
sebuah nasehat bijak, yang terekam dalam memori bawah sadar saya. Kalimat itu
terdengar dari semenjak saya kecil. Saya mendengarnya di tempat saya belajar
baca Al-qur’an bersama teman-teman saya di desa Lambadeuk, Peukan Bada Aceh
Besar. Sebelum tahun 1997, tempat saya tinggal, belum begitu mengenal metode
baca Iqra seperti anak-anak belajar baca quran sekarang. Masih Alif fatah A,
alif kasrah I, alif Thammah U.
Hal yang menariknya
lagi. Di Aceh terutama tempat saya dibesarkan oleh almarhum Ayah dan ibu saya.
Kami belajar mengaji (khusus Al-quran) bukan di Taman Pendidikan Al-Quran (TPS)
seperti sekarang. Tetapi, kami mengunjungi rumah (tengku) ustaz atau ustazah
tertentu, yang faham tentang al-quran (ilmu tajwid) dan pengucapan yang benar
(makharijul huruf).
Kami belajar
hampir setiap hari, dari senin – sabtu. Kecuali hari minggu. Dari jam 14.00 –
16.00, setelah selesai pulang dari sekolah. Di antara hari senin – sabtu itu,
ada satu hari khusus untuk pelajaran tentang fiqh dan ceramah agama. Pada hari
khusus tersebutlah, pertama sekali, kata-kata bijak di atas (beberapa
mengatakan hadits), masuk dalam rekaman ingatan saya.
Hidup seimbang
Berjalannya
waktu, terutama ketika saya mulai hijrah ke pulau Jawa. Lebih spesifiknya
Jakarta dan Bogor. Dalam rangka menyelesaikan trauma yang saya alami akibat
tsunami Aceh 2004, dan melanjutkan kuliah. Terutama semenjak tahun 2006, saya
sudah menentukan tujuan hidup menjadi trainer
& mind-therapist. Saya banyak membaca buku-buku motivasi. Salah satunya
Seven Habits For Effective People
karya Steven Covey.
Buku
fenomenal tersebut, saya baca di perpustakaan kampus STEI TAZKIA. Steven Covey
menjelaskan dalam buku nya tersebut. Ketika seseorang membuat perencanaan
hidup, terutama mendesign mimpi. Maka, sepatut mempertimbangkan aspek-aspek
tertentu, supaya hidup menjadi seimbang.
Demikian
pula ketika saya membaca buku-buku motivasi lainnya. Aspek yang disampaikan oleh
Steven covey, juga tercantum di dalamnya. Dan, maksud seimbang di sini, supaya
tidak ada yang terlalu menonjol sehingga ada yang terlupakan. Tetapi, semuanya menjadi
rata, Yaitu:
1. Spiritual
2. Pendidikan /
pengembangan diri
3. Karir
4. Uang
5. Hubungan / Keluarga
6. Fisik / Kesehatan
7. Sosial
Saya terjebak
Setelah
membaca beberapa kali tentang konsep keseimbangan tersebut. Di buku-buku
psikologi terapan dan pengembangan diri (self
help). Terkadang juga saat mengikuti pelatihan. Sayapun berusaha
menjalankannya. Sehingga, setiap merencanakan pencapaian di awal tahun, saya
selalu mengingat untuk membuat perencanaan yang matang. Supaya hidup saya
seimbang.
Anehnya,
jarang sekali seimbang. Selalu ada yang tak selaras. Pastinya, bukan karena teori yang keliru. Melainkan,
strategi saya yang belum tepat. Namun, setelah saya terus mengkaji dan
menelusuri pemahaman saya akan hidup seimbang. Saya menyadari, ternyata ada
yang keliru. Saya terjebak dengan pemahaman yang saya dapatkan. Sehingga, wajar
hidup seimbang mustahil tercapai.
Hidup seimbang mustahil
Kenyataannya
memang, kita tidak akan pernah bisa
menjalani hidup ini dengan seimbang. Anda boleh saja membantahnya. Namun,
sebelumnya, silahkan Anda menyimak dan membaca dengan penuh seksama pemikiran
saya berikut ini.
Akibat belum
seimbangnya hidup yang saya peroleh, sesuai dengan perencanaan saya. Maka saya
mencari-cari informasi, adakah orang yang benar-benar telah menjalani hidup
yang seimbang (sama rata) di dunia ini? Hal pertama saya lakukan, membaca
biografi 100 tokoh dunia. Pada urutan pertama Nabi Muhammad saw. Dan, sebagai
muslim, saya mengenal sejarah kehidupan beliau, walau tidak keseluruhannya.
Berdasarkan
yang saya ketahui, cuma Nabi Muhammad saw orangnya. Meskipun, mendiang beliau
wafat, tidak mewariskan harta apapun. Sementara selain beliau, saya belum
menemukan bacaan yang menjelaskan, kehidupan orang tersebut, seimbang
ketujuh-tujuhnya.
Terbatas Waktu
Lalu saya
bertanya kepada diri saya, “Apa yang
membuat Steven Covey dan penulis-penulis yang lain menganjurkan hidup seimbang?
Sementara belum ada yang menjalani hidupnya dengan seimbang?”. Saya duduk
bersila dan memejamkan mata. Tiba-tiba “ting..”
Ada jawaban muncul di dalam. Yaitu, faktor waktu.
Bila kita
meninjau dari sisi waktu yang Allah anugerahkan kepada kita selama satu hari 24
jam. Maka, sangat-sangat mustahil ada orang yang bisa menyeimbangkan hidupnya
secara merata. Alasannya, terbatas oleh waktu. Karena, dalam sehari 24 jam,
tidak mungkin kita bisa memenuhi ketujuh aspek di atas.
Sebagai
contoh, saat kita bekerja dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Artinya, kita telah
meluangkan selama 9 jam kurang lebih waktu untuk aspek uang, pendidikan dan
karir. Dan selama waktu itu pula, kita telah mengabaikan aspek lainnya, iyakan?
Padahal, bila kita membagi 24 jam sehari untuk tujuh aspek di atas, maka
seharusnya kita meluangkan sekitar 3 jam lebih untuk tiap aspek.
Standar hidup
Barangkali
Anda membenarkan. Justru itulah hidup yang seimbang, sesuai porsinya. Seimbang
itu bukan berarti sama rata sebagaimana saya anggap di atas. Ini berarti,
penentuan porsi adalah tentang pilihan dalam menentapkan standar terhadap
setiap aspek, betulkan? Sehingga kita menglabelkan sudah seimbang.
Dari sini
saya menyimpulkan. Pada dasarnya tidak akan pernah bisa saya menyeimbangkan
ketujuh aspek di atas. Tetapi, karena Allah memberikan waktu yang sama untuk
setiap makhluk 24 jam. Maka, saya harus menentukan. Dalam melewati setiap
detik, saya mau menfokuskan lebih condong ke aspek apa? Dan, menentukan standar
yang bisa saya anggap wajar untuk diri saya.
Sudahkah
Anda menentukan standar hidup Anda?
Ciganjur,
Minggu, 8 Januari 2012
Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist