Bila Anda
sering menulis artikel, maka membuat buku menjadi sangat mudah. Karena, Anda
hanya butuh mengumpulkan catatan Anda. Kemudian, cari benang merah antara satu
artikel dengan yang lain. Lalu buat hubungan antaranya. Jadilah sebuah buku.
#Andreas
Harefa
Menulis itu mudah
Setiap orang
pada dasarnya memiliki kemampuan dalam dirinya untuk menuliskan sesuatu. Apapun
itu bentuk, dan modelnya. Tetapi, entah kenapa, menulis (proses menuangkan ide)
yang terdapat dalam pikiran. Beberapa orang mengatakan mudah. Namun ada juga
menyebutnya itu sangat sulit untuk melakukannya.
Bagi
orang-orang yang mengatakan “mudah menulis” karena, aktifitas menulis tidak
berbeda dengan berbicara. Alasan mereka, bukankah saat berbicara kita hanya
mengucapkan saja apa yang terpikir oleh pikiran kita? Maka, bagitupula dengan
menulis. Sama saja. Anda hanya butuh menggoyang-goyangkan tangan Anda di atas
selembar kertas. Atau menari-menarikan jari-jemari Anda di atas keyboard
komputer atau laptop Anda.
Dan
orang-orang yang menyatakan bahwa menulis itu sulit. Karena, kegiatan menulis
itu membutuhkan cara dan strategi tertentu. Biasanya, saat mau memulai bingung
mau menuliskan apa? Ada juga yang beralasan, tidak ada ide untuk dituangkan.
Sementara bagi saya sendiri. Baik menulis atau berbicara, sama-sama sulitnya.
Kalau belum mengetahui ilmunya. Lebih spesifiknya, belum memahami cara dan
strategi melakukannya.
Menulis saja
Bila
demikian, mudah atau sulit bukan karena aktifitas pada perilaku tersebut.
Tetapi, pengetahuan yang kita miliki terhadap kegiatan itulah, faktor utamanya.
Dan apakah Anda tahu apa pengetahuan, ilmu, cara, strategi, dan apapun
istilahnya, supaya mudah menulis? Simple dan sederhana. Menulis saja.
Memang tidak
bisa dipungkiri. Segala sesuatu itu mempunyai ruang lingkup masing-masing.
Seperti pepatah yang sudah sangat Anda dan saya hafal semenjak SD dulu. “Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.
Artinya, kondisi menulis laporan hasil penelitian, surat permohonan
(administrasi perkantoran) atau penulisan keresmian, cerita lepas, buku, dan
artikel. Tentu sangatlah berbeda caranya. Karena, setiap tujuan, mempunyai cara
yang tertentu mencapainya.
Bahasa artikel dan buku
Seperti
menulis artikel dan buku. Rupanya gaya bahasa artikel dan model pemaparan buku
sangat berbeda. Ini hanya bisa Anda rasakan setelah Anda dan saya sering
melakukan kegiatan menulis. Baik artikel atau buku. Ini saya ketahui, setelah
saya mulai memutuskan menulis buku. Setelah draft awal buku saya kirimkan
kepenerbit. Ternyata banyak sekali yang harus saya revisi. Karena, gaya
bahasanya bukan bahasa buku.
Lantas, mana
lebih mudah? Apakah menulis artikel atau menulis buku?
Bagi saya,
kedua-duanya mudah. Sebab, draf buku yang saya kirimkan ke penerbit, merupakan
kumpulan artikel dan catatan harian saya. Jadi, saya sangat setuju dengan bapak
Andreas Harefa. “Bila Anda sering menulis
artikel, maka membuat buku menjadi sangat mudah. Karena, Anda hanya butuh
mengumpulkan catatan Anda. Kemudian, cari benang merah antara satu artikel
dengan yang lain. Lalu buat hubungan antaranya. Jadilah sebuah buku”.
Ayo menulis…
Ciganjur,
Senin 23 Januari 2012