Senin, 20 Februari 2012

Lebih Mudah Menulis Artikel atau Buku?



Bila Anda sering menulis artikel, maka membuat buku menjadi sangat mudah. Karena, Anda hanya butuh mengumpulkan catatan Anda. Kemudian, cari benang merah antara satu artikel dengan yang lain. Lalu buat hubungan antaranya. Jadilah sebuah buku.
#Andreas Harefa


Menulis itu mudah

Setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan dalam dirinya untuk menuliskan sesuatu. Apapun itu bentuk, dan modelnya. Tetapi, entah kenapa, menulis (proses menuangkan ide) yang terdapat dalam pikiran. Beberapa orang mengatakan mudah. Namun ada juga menyebutnya itu sangat sulit untuk melakukannya. 

Bagi orang-orang yang mengatakan “mudah menulis” karena, aktifitas menulis tidak berbeda dengan berbicara. Alasan mereka, bukankah saat berbicara kita hanya mengucapkan saja apa yang terpikir oleh pikiran kita? Maka, bagitupula dengan menulis. Sama saja. Anda hanya butuh menggoyang-goyangkan tangan Anda di atas selembar kertas. Atau menari-menarikan jari-jemari Anda di atas keyboard komputer atau laptop Anda.

Dan orang-orang yang menyatakan bahwa menulis itu sulit. Karena, kegiatan menulis itu membutuhkan cara dan strategi tertentu. Biasanya, saat mau memulai bingung mau menuliskan apa? Ada juga yang beralasan, tidak ada ide untuk dituangkan. Sementara bagi saya sendiri. Baik menulis atau berbicara, sama-sama sulitnya. Kalau belum mengetahui ilmunya. Lebih spesifiknya, belum memahami cara dan strategi melakukannya. 

Menulis saja

Bila demikian, mudah atau sulit bukan karena aktifitas pada perilaku tersebut. Tetapi, pengetahuan yang kita miliki terhadap kegiatan itulah, faktor utamanya. Dan apakah Anda tahu apa pengetahuan, ilmu, cara, strategi, dan apapun istilahnya, supaya mudah menulis? Simple dan sederhana. Menulis saja. 

Memang tidak bisa dipungkiri. Segala sesuatu itu mempunyai ruang lingkup masing-masing. Seperti pepatah yang sudah sangat Anda dan saya hafal semenjak SD dulu. “Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Artinya, kondisi menulis laporan hasil penelitian, surat permohonan (administrasi perkantoran) atau penulisan keresmian, cerita lepas, buku, dan artikel. Tentu sangatlah berbeda caranya. Karena, setiap tujuan, mempunyai cara yang tertentu mencapainya. 

Bahasa artikel dan buku

Seperti menulis artikel dan buku. Rupanya gaya bahasa artikel dan model pemaparan buku sangat berbeda. Ini hanya bisa Anda rasakan setelah Anda dan saya sering melakukan kegiatan menulis. Baik artikel atau buku. Ini saya ketahui, setelah saya mulai memutuskan menulis buku. Setelah draft awal buku saya kirimkan kepenerbit. Ternyata banyak sekali yang harus saya revisi. Karena, gaya bahasanya bukan bahasa buku.

Lantas, mana lebih mudah? Apakah menulis artikel atau menulis buku?

Bagi saya, kedua-duanya mudah. Sebab, draf buku yang saya kirimkan ke penerbit, merupakan kumpulan artikel dan catatan harian saya. Jadi, saya sangat setuju dengan bapak Andreas Harefa. “Bila Anda sering menulis artikel, maka membuat buku menjadi sangat mudah. Karena, Anda hanya butuh mengumpulkan catatan Anda. Kemudian, cari benang merah antara satu artikel dengan yang lain. Lalu buat hubungan antaranya. Jadilah sebuah buku”.

Ayo menulis…

Ciganjur, Senin 23 Januari 2012
Bagikan