Kamis, 02 Februari 2012

Dokter Kandungan: Ada Yang Mau Ditanyakan?



Pengalaman begitu menggoda

Para suami dan ayah yang berbahagia. Izinkan saya mengajak Anda mengingat dan mengulang kembali—pengalaman pertama setelah Anda mendengar kabar dari istri “Sayang, alhamdulillah aku positif”. Bagaimana perasaan Anda saat itu? Bisa jadi, terkejut, senang, haru, bengong, dan tak bisa berkata-kata (speechless)--selain rasa syukur kepada Ilahi.

Begitulah yang saya alami. Pada bulan mei 2011 yang lalu, setelah selesai melaksanakan shalat maqrib berjamaah. Istri mengabari saya. “Kakak, alhamdulillah aku positif”. Mendengar kabar tersebut, hanya kalimat alhamdulillah yang terucap dari mulut. Lalu saya sampaikan ke istri, untuk mengabarkan juga kepada ibu. Dan, tanpa menunggu lama, segera saya dan istri mencari informasi--bertanya-tanya, rumah sakit atau klinik apa yang terdekat—juga bagus pelayanannya, untuk pemeriksaan kehamilan.

Pengalaman menemani istri konsultasi

Proses pencarian klinik berdasarkan info dari teman, mertua, dan bule juga pale—saya susuli bersama istri. Kalau bagi saya, di manapun tempatnya, yang penting istri nyaman. Setelah mengunjungi dan memeriksa di dua tempat, klinik dekat rumah di pertigaan brigrif dan Puskesmas Ciganjur. Istri merespon dari raut wajah dan komentar, dua tempat tersebut merasa belum nyaman. Maka, kami putuskan ke Rumah Sakit Ibu & Anak Andhika. Alhamdulillah, istri nyaman dengan suasana dan pelayanan di sini.

Setelah itu, terus berlanjut--istri berkonsultasi dengan dokter di sana. Saya hitung-hitung, dari bulan bulan juli 2011 hingga ke januari 2012, sudah 10 kali saya menemani istri berkonsultasi ke dokter. Saat saya menuliskan note ini, saya baru saja selesai mengantar dan menemani istri ke RS. 

Mengikat Makna

Begitu sampai ke rumah tadi--entah kenapa?—saya merasakan ada dorongan dalam diri untuk mencatat pengalaman ini. Ide yang terbesit. Dalam menjalankan proses mengikat makna (mencatat) pengalaman tersebut, bukan sendiri. Tetapi, mengajak Anda para suami dan Ayah, yang berkesempatan menemani istri memeriksa kandungannya.

Karena, saya pikir. Sepertinya sungguh sangat mengasyikkan ya? Bila kita masing-masing mencatatnya. Catatan tersebut tidak perlu sampai berpuluh halaman. Tapi cukup 2-5 halaman maksimal. Setelah itu, saling berbagi dan mengumpulkan pengalaman-pengalaman tersebut. Saya membayangkan, bila Anda berminat dan saya berminat, katakan saja 10 orang berniat bersama-sama mengumpulkan catatannya. Maka, sudah terkumpulkan 30-50 halaman. 

Jadikan e-book

Saya pikir, itu sudah sangat bagus dijadikan sebuah e-book. Kemudian, kita bagikan kepada adik-adik kita secara gratis, sebagai bekal mereka menjadi para calon suami. Bekal berupa, apa saja kemungkinan pengalaman yang akan di hadapi, selama masa istrinya hamil. Khususnya, konsultasi bulanan dan mingguan mendekati hari persalinan. Fokus--hanya pengalaman konsultasi. Rasanya--sungguh mengasyikkan bukan?

Para suami dan calon ayah. Apakah Anda juga mempunyai ide seperti saya? Bila ya, mari kita realisasikan ide tersebut menjadi kenyataan. Caranya sangat-sangat mudah.
  1. Tuliskan pengalaman tersebut, pada ukuran A4, spasinya terserah. Gaya penulisannya--bebas. Abaikan eyd, tatabahasa dan aturan-aturan lainnya. 
  2. Panjang halaman terserah, minimal 1 halaman.
  3. Cantumkan keterangan, kesediaan untuk dikumpulkan menjadi e-book. Mengapa e-book, mudah dan cepat plus tidak mengeluarkan biaya.
  4. Kirim ke rahmadnlp@gmail.com
  Ayo kita eksekusi ide kita. (Saya sedang mengingat-ngingat dan menuangkannya).
Ciganjur, Rabu, 24 Januari 2012 

Note: Naskah yang terkirim semua akan dimuat, sebab bukan pengumpulan naskah ilmiah. Dan dilandasi keinginan berbagi cerita--pengalaman penuh makna yang dialami selama proses konsultasi kedokter atau bidan--untuk sesama.
Bagikan