Satu di antara 6 kebutuhan
dasar manusia adalah kebutuhan untuk dianggap penting (significant).
Bahkan, ada pertanyaan pemberdayaan diri “Seberapa
pentingkah saya?”. Saya yakin,
banyak hal yang kita anggap penting dan tidak penting dalam hidup ini.
Sehingga, dengan anggapan kita tersebut, saya dan Anda menemukan prioritas
dalam hidup. Iyakan?
Tetapi, terkadang,
anggapan penting tidak selamanya penting. Maksudnya? Tidak selamanya sesuatu
yang kita anggap penting itu menjadi penting bagi kita. Karena, bisa jadi, itu
hanya anggapan saja. Seperti dalam dunia yang saya geluti sebagai trainer dan penulis bebas. (Free writer).
Proyek penulisan Explore
Your Potentials
Awal November 2011 lalu, saya memulai menjalankan
project perdana menulis sebuah buku dalam format elektronik. Atau electronic book, yang sering kita sebut
e-book. Saya menargetkan, e-book itu akan rampung
dalam waktu tujuh hari. Ide
menulis e-book ini datang, karena
keinginan saya membagi artikel “bagaimana
cara saya
menemukan potensi dalam diri”.
Setelah saya
selesai menuliskannya, ada ide
dalam diri saya, untuk menjadikan tips tersebut tertuang dalam format e-book.
Begitu ide hadir, saya langsung mengeksekusinya.
Ada peristiwa menarik yang terjadi, selama proses eksekusi ide tersebut.
Sesuatu hal yang tak pernah saya jumpai dalam menulis artikel bebas, seperti yang sering saya lakukan sebelumnya.
Ide baru terus bermunculan
Sebagaimana saya ceritakan di atas. Saya
meniatkan untuk menyelesaikan ide tersebut sacara tuntas, dalam waktu satu
minggu. Karena tipsnya sederhana saja. Tapi, saya memiliki tantangan luar biasa
dalam proses menuliskannya. Setiap ide saya tuangkan kedalam tulisan, ide-ide
baru terus saja bermunculan. Sehingga, berakibat, deadline yang saya tentukan tujuh hari, sudah terlewati.
Sampai hari saya menuliskan note ini,
19 novmber 2011. E-book itu belum selesai. Karena, selalu ada saja ide hadir
untuk menambah dan melengkapi. Saya menganggap, ide-ide tersebut penting dan akan sangat
bagus bila saya masukkan dalam
e-book tersebut. Dalam kacamata anugerah, saya sangat mensyukuri atas kehadiran
ide-ide baru. Tetapi, dalam ruang produktiftas, saya mengira, ini tidaklah bagus.
Karena, target yang saya rencanakan, terus mundur dan mundur.
Nasehat berharga
Akhirnya saya
putuskan, menceritakan masalah saya ini kepada para penulis professional. Saat
menuliskan note ini, saya sedang menanti dan menuggu nasehat bijak dari mereka.
Sambil menanti jawaban, saya jadi teringat kata-kata senior saya di Tanthowi Yahya Public Speaking School.
Bapak Bayu Murti saat kelas public speaking 1, di hotel Kartika Chandra.
“Ada nafsu saat berbicara yang mesti kita
jaga dan control, sebuah anggapan
penting. Sehingga, kita terus menyampaikan-menyampaikan dan menyampaikan.
Sementara, pendengar kita mungkin tidak membutuhkannya. Maka, sebagai pembicara
kita harus bijak
untuk memenej dan
menyadarinya”.
Saya berpikir,
mungkin, problem yang sedang saya hadapi sekarang adalah sama. Bila pak Bayu
menjelaskan dalam konteks public speaking.
Maka, kondisi saya sekarang
adalah dalam hal menulis. Persis seperti
yang sedang saya alami.
Kemudian, saya
merenung sejenak dan membuka draft e-book saya. Serta ide-ide yang ingin saya
tuangkan lagi. Saya pikir,
saya harus bijak untuk memutuskan, mana yang wajar untuk saya tuangkan, dan
pantas sebagai anggapan penting, tetapi tidak
saya masukkan dalam e-book Explore Your Pontentials.
Sehingga, mudah-mudahan e-book saya cepat selesai…
Pejaten Village
Mall, 19 november 2011
Ikuti Workshop KOMUNIKASIH, 28
januari 2012
Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist
Dapatkan e-book “Explore Your Potentials” Gratis, Klik download
Bagikan