Rabu, 21 Desember 2011

Inilah Alasan JK Rowling Menulis di Starbuck


Apakah Anda hobi menulis? Atau Anda termasuk orang-orang penikmat kopi? Ternyata Anda dan saya memiliki kesamaan. Suka menulis status facebook dan twitter, juga penikmat kopi.

Silaturahim dengan Kang Reza Ervani

Kemarin rabu, 2 November 2011. Sekitar jam 13.00 wib saya janjian bertemu dengan seorang ahli tehnologi, lebih spesifik dalam hal e-learning. Kang Reza Ervani, di Pejaten Village Mall. Dari minggu sebelumnya, kami sudah smsan untuk bertemu secara langsung, karena selama ini hanya bertemu di dunia maya, yahoogroups dan facebook.

Alhamdulillah, setelah saling mencocokkan jadwal antara saya dan beliau. Rabu jam 13.00 merupakan waktu yang sangat available bagi kami. Saya tiba di PV jam 12.30. Karena kecepatan, saya putuskan melancong ke gramedia. Baca-baca buku sambil menunggu Kang Reza. Beberapa saat kemudian, tepat jam 13.00 saya dapat sms dari beliau, ”Ana di Java Bean Cafe, Lt.1 sekarang”. Sayapun langsung meluncur dan menuju TKP.

Bertatap muka lebih hangat dibandingkan facebook

Sementara itu, saya yakin Anda pasti setuju dengan saya? Silaturahim bertatap wajah secara langsung (offline) sangatlah berbeda, bila dibandingkan dengan via facebook, blackberry, atau twitter, iya kan? Sungguh saya merasakan suasana emosi kehangatan, karena niat untuk menyambung silaturahim dan memperkuat ukhuwah. Anda boleh mencoba untuk tidak percaya, tapi, silahkan membuktikan saja.

Kembali kecerita silaturahim. Setelah memesan Moccashake, dan Kang Reza Kopi jawa. 20 menit kemudian, datanglah mas Adith. Rupanya, kang Reza juga mengajak temannya yang lain, ikut kumpul bersama. Jadi, bertambahlah satu orang teman baru dalam kehidupan saya. Mamang, silaturahim sungguh sangat luar biasa. Kami ngobrol-ngobrol sampai waktu ashar tiba. Setelah duduk selama 2 jam, dan menikmati  moccashake dan nasi goreng jawa, kami pun berpisah kembali ke aktivitas masing-masing.

Karena hujan turun sangat deras, saya ke groundfloor untuk shalat Ashar di musholla. Setelah selesai shalat, hujan belum henti-henti juga. Kemudian dari GF saya naik ke lantai 3 menggunakan lift, menuju ke bioskop XXI. Sesampai di sana, film jet Li terbaru yang ingin saya nonton, tidak di putar. Saya keluar lagi turun dengan eskalator.

Saat sedang berhenti meninmati turunan eskalator, muncul suara dalam pikiran saya, ”ngenet saja”. Langsung saya melirik setiap lantai yang saya turun, melihat tempat makan atau minum yang menyediakan wifi juga untuk colokan listriknya. Setelah mencari-cari, ternyata pilihan terakhir, saya kembali lagi ke Java Bean Cafe.

Saya kembali lagi ke Cafe ini karena di ruang smoking areanya bisa terlihat view langsung ke luar. Bisa menikmati suara hujan, dan klakson mobil. Apalagi aura hujan di sore hari, ooh sangat nikmat. Lalu, saya memesan Cappucino, dan pasword untuk wifinya.

Mengapa Jk Rowling menulis di Cafe?

Saya menyalakan laptop, memasukkan charger ke colokan yang telah disediakan untuk pelanggan di sana, dan mengecharge laptop saya. Karena, baterynya sudah sangat kurang bagus, bila tanpa ngechas saat internetan atau mengedit tulisan, hanya mampu bertahan 20 menit, kemudian mati.

Lalu saya membuka folder note ruang private (tulisan-tulisan yang belum saya edit masih berupa ide dan tulisan bebas tak bearturan) di hard drive :d. Kemudian saya pilih salah satu artikel untuk saya edit. Saat saya mengeditnya, ada suara tertentu hadir dalam diri saya ”Ooo barangkali, ini yang membuat JK Rowling menghabiskan waktunya di sturbuck, dan menuliskan karya fenomenal hasil imajinatifnya”.

Itu mungkin karena, dari tempat duduk yang saya pilih, saya bisa merasakan aura alam yang sedang disirami oleh hujan, bisa mendengar suara hujan dan klakson mobil, juga bisa melihat view yang indah. Sehingga, kata-kata nyaman sangat cocok dan pas waktu itu. Apalagi, di temani secangkir kopi, oh sedapnya.

Suasana nyaman merangsang ide berterbangan

Hal itu membuat pikiran saya segar, jernih, fresh dan merasa ide-ide saling sahut menyahut. Kenyamanan rupanya, membantu bawah sadar menari-menari bersama ide-ide brialiant. Itulah kesimpulan yang saya dapatkan waktu itu. Sekali lagi, hal ini mungkin, terbesit dalam diri saya, mengapa JK rowling menulis di Sturbuck? Karena memang kondisi dan suasana yang di jual oleh starbuck, mampu menciptakan ide cemerlang bagi otak kita.

Kejadian yang saya alami itu, menjawab pensaran saya. Mengapa beberapa penulis memiliki tempat-tempat khusus selama proses menciptakan karya mereka? Bang Andy F Noya menceritakan, saat dikejar-kejar deadline buku inspirasi kick Andy Heroes, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di Cafe. Coach Krishnamurti memiliki tempat khsusus di Jogya. Beberapa penulis terkenal lainnya, juga sama. Saya yakin, beberapa di antara Anda pun juga demikian, kan?

Dan yang paling menjadi pembelajaran bagi saya adalah suasana ruangan = pengkondisian suasana emosi dan kesiapan otak untuk belajar. Sehingga, itu merubah paradigma saya selama ini dalam melaksanakan training. Saya menganggap tempat itu tidak terlalu penting, di mana saja boleh, yang penting bisa terlaksana. Ternyata suasana nyaman, sangat membantu membuat suasana emosi peserta. Yang akhirnya berdampak kepada suasana otak, kesiapan untuk belajar dan mudahnya ide-ide cemerlang, berterbangan, seperti percikan kembang api.

Pejaten Village Mall, 3 November 2011

Mari bersilaturahim, follow @mind_therapist
Dapatkan e-book “Explore Your Potentials” Gratis, Klik download
Bagikan