Apakah Anda
hobi menulis? Atau Anda termasuk orang-orang penikmat kopi? Ternyata Anda dan
saya memiliki kesamaan. Suka menulis status facebook dan twitter, juga penikmat
kopi.
Silaturahim dengan Kang Reza Ervani
Kemarin rabu, 2
November 2011. Sekitar jam 13.00 wib saya janjian bertemu dengan seorang ahli tehnologi,
lebih spesifik dalam hal e-learning. Kang Reza Ervani, di Pejaten Village Mall.
Dari minggu sebelumnya, kami sudah smsan untuk bertemu secara langsung, karena
selama ini hanya bertemu di dunia maya, yahoogroups dan facebook.
Alhamdulillah,
setelah saling mencocokkan jadwal antara saya dan beliau. Rabu jam 13.00
merupakan waktu yang sangat available bagi kami. Saya tiba di PV jam 12.30.
Karena kecepatan, saya putuskan melancong ke gramedia. Baca-baca buku sambil
menunggu Kang Reza. Beberapa saat kemudian, tepat jam 13.00 saya dapat sms dari
beliau, ”Ana di Java Bean Cafe, Lt.1
sekarang”. Sayapun langsung meluncur dan menuju TKP.
Bertatap muka lebih hangat dibandingkan facebook
Sementara itu,
saya yakin Anda pasti setuju dengan saya? Silaturahim bertatap wajah secara
langsung (offline) sangatlah berbeda, bila dibandingkan dengan via facebook,
blackberry, atau twitter, iya kan? Sungguh saya merasakan suasana emosi
kehangatan, karena niat untuk menyambung silaturahim dan memperkuat ukhuwah.
Anda boleh mencoba untuk tidak percaya, tapi, silahkan membuktikan saja.
Kembali
kecerita silaturahim. Setelah memesan Moccashake, dan
Kang Reza Kopi jawa. 20 menit kemudian, datanglah mas
Adith. Rupanya, kang Reza juga mengajak temannya yang lain, ikut kumpul
bersama. Jadi, bertambahlah satu orang teman baru dalam kehidupan saya. Mamang,
silaturahim sungguh sangat luar biasa. Kami ngobrol-ngobrol sampai waktu ashar
tiba. Setelah duduk selama 2 jam, dan menikmati
moccashake dan nasi goreng jawa, kami pun berpisah kembali ke aktivitas
masing-masing.
Karena hujan
turun sangat deras, saya ke groundfloor untuk shalat Ashar di musholla. Setelah selesai shalat, hujan belum henti-henti juga. Kemudian dari GF saya
naik ke lantai 3 menggunakan lift, menuju ke bioskop XXI. Sesampai di sana,
film jet Li terbaru yang ingin saya nonton, tidak di putar. Saya keluar lagi
turun dengan eskalator.
Saat sedang
berhenti meninmati turunan eskalator, muncul suara dalam pikiran saya, ”ngenet saja”. Langsung saya melirik
setiap lantai yang saya turun, melihat tempat makan atau minum yang menyediakan
wifi juga untuk colokan listriknya. Setelah mencari-cari, ternyata pilihan
terakhir, saya kembali lagi ke Java Bean Cafe.
Saya kembali
lagi ke Cafe ini karena di ruang smoking areanya bisa terlihat view langsung ke
luar. Bisa menikmati suara hujan, dan klakson mobil. Apalagi aura hujan di sore
hari, ooh sangat nikmat. Lalu, saya memesan Cappucino, dan pasword untuk
wifinya.
Mengapa Jk Rowling menulis di Cafe?
Saya menyalakan
laptop, memasukkan charger ke colokan yang telah disediakan untuk pelanggan di
sana, dan mengecharge laptop saya. Karena, baterynya sudah sangat kurang bagus,
bila tanpa ngechas saat internetan atau mengedit tulisan, hanya mampu bertahan
20 menit, kemudian mati.
Lalu saya
membuka folder note ruang private (tulisan-tulisan
yang belum saya edit masih berupa ide dan tulisan bebas tak bearturan) di
hard drive :d. Kemudian saya pilih salah satu artikel untuk saya edit. Saat
saya mengeditnya, ada suara tertentu hadir dalam diri saya ”Ooo barangkali, ini yang membuat JK Rowling
menghabiskan waktunya di sturbuck, dan menuliskan karya fenomenal hasil
imajinatifnya”.
Itu mungkin
karena, dari tempat duduk yang saya pilih, saya bisa merasakan aura alam yang
sedang disirami oleh hujan, bisa mendengar suara hujan dan klakson mobil, juga
bisa melihat view yang indah. Sehingga, kata-kata nyaman sangat cocok dan pas waktu
itu. Apalagi, di temani secangkir kopi, oh sedapnya.
Suasana nyaman merangsang ide berterbangan
Hal itu membuat
pikiran saya segar, jernih, fresh dan merasa ide-ide saling sahut menyahut. Kenyamanan
rupanya, membantu bawah sadar menari-menari bersama ide-ide brialiant. Itulah kesimpulan yang saya
dapatkan waktu itu. Sekali lagi, hal ini mungkin, terbesit dalam diri saya,
mengapa JK rowling menulis di Sturbuck? Karena memang kondisi dan suasana yang
di jual oleh starbuck, mampu menciptakan ide cemerlang bagi otak kita.
Kejadian yang
saya alami itu, menjawab pensaran saya. Mengapa
beberapa penulis memiliki tempat-tempat khusus selama proses menciptakan karya
mereka? Bang Andy F Noya menceritakan, saat dikejar-kejar deadline buku
inspirasi kick Andy Heroes, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di Cafe. Coach
Krishnamurti memiliki tempat khsusus di Jogya. Beberapa penulis terkenal lainnya, juga sama. Saya yakin, beberapa di
antara Anda pun juga demikian, kan?
Dan yang paling
menjadi pembelajaran bagi saya adalah suasana ruangan = pengkondisian suasana
emosi dan kesiapan otak untuk belajar. Sehingga, itu merubah paradigma saya
selama ini dalam melaksanakan training. Saya menganggap tempat itu tidak
terlalu penting, di mana saja boleh, yang penting bisa terlaksana. Ternyata
suasana nyaman, sangat membantu membuat suasana emosi peserta. Yang akhirnya
berdampak kepada suasana otak, kesiapan untuk belajar dan mudahnya ide-ide
cemerlang, berterbangan, seperti percikan kembang api.
Pejaten Village
Mall, 3 November 2011
Mari
bersilaturahim, follow @mind_therapist
Dapatkan
e-book “Explore Your Potentials”
Gratis, Klik download
Bagikan
